Permohonan Isbat Rachel Maryam Dikabulkan. Berikut ini Prosedur Permohonan Itsbat Nikah

Artis Rachel Maryam sumringah. Permohonan sidang isbat pernikahannya baru saja dikabulkan PA Jakarta Selatan.
Alamsyah - Showbiz,Selasa, 04-08-2020 12:25 WIB
Permohonan Isbat Rachel Maryam Dikabulkan. Berikut ini Prosedur Permohonan Itsbat Nikah
Rachel Maryam dan Edwin Aprihandono/Tribunews

Jakarta, Nusantaratv.com - Menikah secara hukum adalah sesuatu yang diinginkan setiap pasangan menikah. Namun dalam sejumlah kasus, cukup banyak pasangan yang menikah di luar hukum karena alasan tertentu. Hal mana juga terjadi pada artis Rachel Maryam.

Rachel Maryam diketahui telah menikah siri dengan pria bernama Edwin Aprihandono pada 16 Desember 2011 lalu. Tak diketahui pasti alasan Rachel menikah secara siri kala itu. Namun dari sejumlah berita yang beredar, Rachel dan Edwin memang telah melakukan pernikahan mereka namun secara diam-diam. Saat itu, pernikahan mereka digelar secara sederhana dan hanya orang-orang terdekat saja yang hadir.

Sembilan tahun berselang disaat Rachel tengah mengandung calon anak dari pernikahannya dengan Edwin, bintang film Andai Ia Tahu itu tetiba mengajukan permohonan sidang isbat ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Adapun sidang isbat tersebut akhirnya dikabulkan oleh majelis hukum PA Jakarta Selatan.

Usai permohonan sidang isbatnya dikabulkan, kepada media Rachel menyebut alasan krusial mengajukan permohonan sidang isbat.

"Sebelumnya kami tidak ada urgensi untuk meresmikan pernikahan ini secara negara, namun saat ini saya
sedang hamil besar dan kami berpikir akan lebih baik untuk kehidupan dan masa depan bayi kami apabila
kami resmi menikah secara negara juga," kata Rachel Maryam, mengutip Antaranews.com.

Baik Rachel Maryam dan sang suami pun mengaku sangat bersyukur setelah pernikahannya disahkan secara
hukum.

"Alhamdulillah kami (saya dan suami) merasa bersyukur. Dan berharap agar ini menjadi keberkahan yg lebih
bagi pernikahan dan rumah tangga kami," imbuhnya.

Sidang Isbat pernikahan seperti dikutip melalui laman hukumonline.com memiliki prosedurnya. 

Berikut penjelasannya.

Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menentukan sebagai berikut :

(1)  Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dari ketentuan tersebut, diketahui sahnya suatu perkawinan apabila dilakukan menurut masing-masing agama maupun kepercayaannya, namun demikian diatur pula bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini selaras dengan ketentuan dalam Pasal 7 ayat 1 Kompilasi Hukum Islam yang mengatur:

“Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.”

Akta Nikah berguna sebagai bukti adanya perkawinan tersebut dan jaminan bagi suami atau istri serta melindungi hak-hak anak yang lahir dari perkawinan tersebut, sebagai contoh dalam hal adanya warisan, pengurusan akta kelahiran, dan lain sebagainya. Dengan demikian, suatu perkawinan yang belum atau tidak dilakukan pencatatan di Kantor Pencatatan Pernikahan akan merugikan suami atau istri, anak bahkan orang lainnya.

Pegawai Pencatat Nikah tidak dapat menerbitkan Akta Nikah atas pernikahan siri seperti yang Saudara lakukan. Untuk melakukan pencatatan atas pernikahan siri, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 7 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa:

“Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan itsbat nikah-nya ke Pengadilan Agama”

Itsbat Nikah adalah permohonan pengesahan nikah yang diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan sah-nya pernikahan dan memiliki kekuatan hukum. Sesuai dengan ketentuan di atas, Itsbat Nikah hanya dapat diajukan melalui Pengadilan Agama, di wilayah tempat tinggal Saudara, bukan melalui Kantor Urusan Agama (KUA).

Syarat-syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk melakukan Itsbat Nikah adalah sebagai berikut:

1. Menyerahkan Surat Permohonan Itsbat Nikah kepada Pengadilan Agama setempat;

2. Surat keterangan dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat yang menyatakan bahwa pernikahan tersebut belum dicatatkan;

3. Surat keterangan dari Kepala Desa / Lurah yang menerangkan bahwa Pemohon telah menikah;

4. Foto Copy KTP pemohon Itsbat Nikah;

5. Membayar biaya perkara;

6. Lain-lain yang akan ditentukan Hakim dalam persidangan.

Namun, permohonan Itsbat Nikah tidak selalu dikabulkan oleh Hakim, jika permohonan tersebut dikabulkan, maka Pengadilan akan mengeluarkan putusan atau penetapan Itsbat Nikah.

Dengan adanya putusan penetapan Itsbat Nikah, maka secara hukum perkawinan tersebut telah tercatat yang berarti adanya jaminan ataupun perlindungan hukum bagi hak-hak suami/istri maupun anak-anak dalam perkawinan tersebut.

Dengan sahnya pernikahan Anda di depan agama dan hukum, sebagaimana diatur dalam UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, maka anda dapat mengurus Akta kelahiran anak Anda yang sah sesuai dengan prosedur yang berlaku di Kantor Pencatatan Sipil setempat dengan melampirkan Surat Putusan Itsbat Nikah yang menunjukkan adanya pernikahan yang sah antara anda dan suami. Sehingga anak anda nantinya dapat teercatat sebagai anak dari pasangan yang telah menikah secara sah dimata hukum.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0