Drama Korea bisa Memacu Hormon. Kok bisa?

Drama Korea (Drakor) tengah digandrungi masyarakat Indonesia. Konon, drakor dapat memacu hormon.
Alamsyah - Showbiz,Selasa, 28-07-2020 23:40 WIB
Drama Korea bisa Memacu Hormon. Kok bisa?
Drakor The K2/kompas

Jakarta, Nusantaratv.com - Siapa yang tak mengenal istilah Drakor yang merupakan singkatan dari Drama Korea. Ya, drakor merupakan sebuah program drama televisi yang berasal dari negara Korea Selatan. 

Program ini bisa dibilang telah mewabah di Indonesia sejak tahun 2000-an. Anda generasi 90-an tentu masih ingat dengan Drakor Full House (2004), Coffee Price (2007), Boys Before Flowers (2009), Brillian Legacy (2009), You're Beautiful (2009).

Nah, saat ini drakor makin menggila jumlahnya. Sedikitnya ada 20 judul drakor baru di bulan Juli 2020 ini yang siap memanjakan mata penonton di tanah air. Ada It's Okay to Not Be Okay, Into the Ring, The Good Detective, Was It Love?, Mystic Pop-Up Bar, Oh My Baby, Soul Mechanic dan masih banyak lainnya.

Kegandrungan masyarakat Indonesia terhadap drakor yang makin meluas, menurut psikolog Mira Amir, bisa jadi disebabkan karena dopamine.

Dopamine merupakan salah satu zat kimia di otak yang berfungsi sebagai hormon dan neurotransmiter yang berperan memengaruhi emosi, gerakan, sensasi kesenangan, dan rasa sakit.

Dia mengaitkan bahwa dalam konteks drama Korea ini kondisi tersebut terjadi karena ada daya tarik dan unsur kedekatan.

"Biasanya yang paling mudah, apa yang disaksikan orang dari drama Korea karena pemainnya cakap, suasananya dibangun menyenangkan, dan itu mengaktifkan stimulasi ke hormonnya," kata Mira, mengutip cnnindonesia.

"Afeksi emosionalnya meningkat, karena dilibatkan secara emosi. Ketika emosi ditampilkan [dalam drama], dia [penonton] merasa itu menjadi representasi dari dirinya. Permasalahan di drama seolah jadi perpanjangan dirinya," lanjutnya.

Mira berpandangan, efek tersebut terjadi karena kemungkinan penonton tertentu mengalami konflik, tapi tidak mendapat solusi yang konkret dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang rendah.

Karenanya, menyaksikan konten yang membuat penonton tertentu itu merasa senang menjadi sebuah pelarian. Mereka seolah dapat menemukan kondisi ideal yang diharapkan dengan apa yang disaksikan dalam layar.

"Hal-hal romantis [dalam serial drama] biasanya yang dihadirkan, seperti Dilan pun itu fenomenal, lucu juga digombalin ya. Tahu itu bohong, tapi lucu. Karena rutinitas yang mereka jalani, faktanya tidak semanis cerita," ujarnya. 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0