Relawan RLC: Corona Bukan Aib dan Kutukan

Walaupun pasien sudah pulang ke rumah kita lakukan kunjungan ke rumahnya untuk melihat kondisi apakah pasien yang sudah kembali dari RLC diterima dengan baik...

Pasien covid-19 tidak hanya rentan terhadap dampak fisik dari penyakit yang dideritanya. Ada dampak psikologis yang berpotensi mengganggu kehidupan pasien hingga berakibat fatal. 

Para pasien ini tidak berarti terkena aib dan harus dikucilkan sebaliknya mereka membutuhkan dukungan kasih sayang dan kebaikan.

Topik ini menjadi pembahasan Host Adi Wiranata bersama narasumber  Endang Prastini M.Psi MH Relawan Covid-19 di Rumah Lawan Covid (RLC)  Tangerang Selatan dalam Dialog Nusantara Malam yang disiarkan NusantaraTV, Selasa (2/2/2021).

Gangguan psikologis apa yang paling berpotensi muncul di kalangan pasien covid-19?

Endang Prastini M.Psi MH Relawan Covid-19 di Rumah Lawan Covid (RLC)  Tangerang Selatan menyebutkan potensi gangguan psikologis yang biasanya muncul di kalangan pasien covid-19 adalah kecemasan dan rasa khawatir. Kadang-kadang masyarakat sudah parno atau ketakutan duluan. 

Ketika si pasien mendengar bahwa dirinya positif covid-19 akan diisolasi atau ke RLC atau ke puskesmas, biasanya terbersit pikiran takut duluan. Padahal kan tidak seperti itu. Itu kita anggap penyakit biasa untuk menenangkan pasien.

Sejauh ini apakah covid-19 berdampak terhadap psikologis seseorang?

Ya betul. Untuk covid-19 tidak hanya berdampak pada psikis saja tetapi kepada yang lainnya juga misalkan pekerjaan, lingkungan dan lainnya. Biasanya kalau seseorang sudah mendapatkan hasil swab atau laboratorium bahwa dirinya terpapar covid-19 maka dia akan merasa ketakutan ditolak oleh masyarakat.

Apakah konseling ini menjadi pilihan untuk seseorang bisa kembali normal sehingga tidak mengalami ketakutan?

Untuk pemberian konseling sendiri sangat berdampak positif seperti yang terjadi di RLC ini. Pasien-pasien yang dirawat di sini, ketika dia datang selama 3 hari dia akan gelisah. Yang ada dalam pikirannya hidupnya akan berakhir. Di sinilah fungsinya kita memberikan konseling kepada pasien yang ada di RLC. Konseling yang kita berikan tidak hanya di RLC ketika ada pasien dirujuk ke rumah-rumah sakit misalnya ke RSUD Tangsel, Fatmawati atau Persahabatan kita selalu kunjungi untuk memberikan konseling penguatan. Kita akan memotivasi karena kebanyakan pasien ketika dirujuk ke sana berpikirnya sudah beda bahwa hidupnya akan berakhir. Tidak akan kembali ke rumah. 

Peran kita untuk memotivasi bahwa itu hanya penyakit biasa saja. Dan terus berupaya menenangkan pasien. Kita memberikan terapi psikologis. 

Ketika pasien sudah pulang dari Rumah Lawan Covid atau RSUD kita tetap melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien. Karena terkadang banyak masyarakat yang menolak. Padahal pasiennya sudah sehat. 

Jadi kita selalu memberikan edukasi kepada Ketua RT, RW dan masyarakat sekitar. Bahwa pasien yang sudah sehat sembuh sudah kembali ke rumahnya tidak perlu ditakuti lagi. Dan dapat beraktifitas seperti biasa. 

Seperti apa terapi psikologis yang diberikan kepada pasien covid-19?

Gangguan psikologis yang diderita pasien covid-19 beragam sesuai dengan tingkatannya. Di awal-awal pengoperasian RLC saya sering menginspeksi pasien pada jam-jam 1 atau 2 dini hari. Karena di jam-jam tersebut kita bisa melihat kondisi psikis pasien yang sebenarnya. Apakah dia bisa tidur? Apakah dia bisa istirahat dengan tenang? Di situ saya menemukan ada pasien yang berniat mengakhiri hidupnya.

Peran kami di sini memberikan edukasi dan terapi psikis, terapi psikologis lainnya untuk memberikan penguatan agar pasien tidak putus asa. 

Selain terapi psikologis kita juga mengajak pasien untuk mendekatkan diri pada Tuhan dengan berdoa. Agar pasien tenang. 

Dari penguatan yang dilakukan konseling apakah ini sifatnya terus berkelanjutan?

Ya benar. Jadi ketika pasien ada di RLC kadang kami ikut dengan tim tenaga medis untuk menemui pasien. Walaupun pasien sudah pulang ke rumah kita lakukan kunjungan ke rumahnya untuk melihat kondisi apakah pasien yang sudah kembali dari RLC diterima dengan baik di masyarakat atau tidak diterima dengan baik. Karena pernah saya temui ada pasien setelah pulang dari RLC pintu rumahnya dikasih seperti palang pintu, tidak bisa keluar karena dianggap masih menularkan. Karena edukasi kepada masyarakat itu sangat kurang bahkan sempat saya buktikan pasien yang baru pulang dari RLC itu saya peluk. Saya tunjukan ke masyarakat bahwa si pasien sudah sehat. 

Apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan oleh warga lain dala, berkomunikasi dengan para pasien covid-19 agar tidak tertular?

Pengalaman saya pribadi, ketika pasien sudah pulang dari RLC sebenarnya pasien tersebut sudah sehat tidak perlu ditakuti lagi. Bahkan saya makan dan minum yang disediakan si pasien itu tidak ada masalah. Untuk isolasi mandiri pernah saya datangi juga yang penting memakai masker dan berpikir positif.

Pesan saya ketika ada pasien atau tetangga terpapar covid-19 tidak perlu dijauhi karena penyakit ini bukan aib juga bukan kutukan.

Nusantara Malam hadir untuk kebutuhan anda mengenai berita-berita terupdate setiap harinya. Saksikan Nusantara Malam setiap hari Senin - Jumat jam 22.00 WIB hanya di Nusantara TV  

Login dengan
LIVE TV & NETWORK