Bantah Liberal, PBNU: The Santri Ajarkan Kebinekaan

The Santri disebut film yang ajarkan nilai damai, ramah dan toleran
Bantah Liberal, PBNU: The Santri Ajarkan Kebinekaan
Film The Santri. (NU Channel)

Jakarta, Nusantaratv.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menampik film 'The Santri' tak mendidik, serta menampilkan nilai-nilai liberalisme. Menurut Wakil Sekjen PBNU sekaligus produser eksekutif The Santri, Imam Pituduh, film garapan Livi Zheng dan Ken Zheng tersebut mengajarkan kebinekaan kepada masyarakat. 

"Spirit filmnya itu menunjukkan semangat Indonesia dengan kebinekaannya, sangat ramah, damai, dan toleran," kata Imam di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Imam juga membantah jika The Santri tak mencerminkan tradisi santri. Menurut dia, salah satu adegan kebinekaan dalam film itu adalah ketika dua orang santri memberikan tumpeng kepada jemaat gereja. Imam mengatakan, adegan itu diambil dari tradisi dan kebiasaan masyarakat pesantren, yaitu ater-ater

Ater-ater adalah budaya membagikan makanan kepada orang lain, baik Muslim atau non-Muslim, menjelang Ramadan. 

Budaya ater-ater, kata dia, juga sengaja diangkat dalam rangka untuk menggambarkan bahwa menjadi santri bukan berarti kaku dalam bersosialisasi dengan orang lain.

"Islam yang kami ingin tunjukkan adalah Islam yang ramah, bukan marah-marah, merangkul, bukan memukul, toleran, mengajak, bukan mengejek. Nah ini yang penting kami ingin tunjukkan," jelas Imam.

Adegan santri memberi makanan ke gereja yang dinilai liberal, Imam mengaku enggan menanggapi serius. Dirinya hanya mengingatkan Rasulullah pernah menyuapi setiap hari pengemis buta yang beragama Yahudi.

"Coba bayangkan, bukan hanya sekadar dibawakan tumpeng ke gereja lho ya, disuapin. Betapa mulianya nilai kemanusiaan ini. ini yang harus dicontoh," kata dia.

Lebih lanjut, Imam mengingatkan perjalanan bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari santri. Santri bersama kalangan non-Muslim, dinilai berperan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 

Mengacu catatan sejarah, lanjutnya, santri terus berperang melawan kolonialisme kendati sebagian pihak merasa perang sudah selesai pasca Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Di samping berperang, kata Imam santri juga berperan dalam mengisi dan menyiapkan dasar-dasar negara. Bersama pihak lainnya, santri yang diwakili Wahid Hasyim menyusun Piagam Jakarta, sebuah dokumen yang menjembatani perbedaan dalam agama negara. 

"Jadi sesungguhnya spirit santri adalah spirit toleransi, kebinekaan, kebangsaan, yang itu sudah ada dari dulu. Maka dengan demikian santri ini semangatnya harus diangkat ke publik," tandasnya.

Sebelumnya, menantu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, Hanif Alathas menolak penayangan film The Santri yang digagas PBNU. Hanif sendiri merupakan Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI). 

"Front Santri Indonesia menolak film The Santri karena tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya," kata Hanif, Minggu (15/9/2019).