Polisi Diminta Proses Pihak Lain Terkait Kasus Pencopotan Sesjamdatun

Polda Metro Jaya diminta mengembangkan kasus yang diduga terkait pencopotan itu

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran. (JPNN)

Jakarta, Nusantaratv.com - Sekretaris Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Sesjamdatun) Chaerul Amir dicopot dari jabatannya oleh Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin. Penyebabnya, ia dianggap terbukti menyalahgunakan wewenang.

LQ Indonesia Law Firm mengapresiasi keputusan tersebut.

Diketahui, bersama advokat Natalia Rusli, Chaerul sebelumnya dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh LQ yang mewakili kliennya, SK. Keduanya dipolisikan terkait kasus dugaan penipuan dengan modus penangguhan penahanan.

"Terima kasih kepada Jaksa Agung dan Jamwas atas ketegasan Korps Adhyaksa dalam penegakan hukum," ujar Kepala Humas dan Media LQ Indonesia Law Firm, Sugi, Minggu (2/5/2021).

LQ mengucapkan terima kasih atas kinerja Kejaksaan dalam memastikan jajaran dan instansinya bersih dari oknum yang diduga terlibat makelar kasus ini.

"Patut diteladani institusi penegak hukum lainnya," ucap Sugi.

LQ berharap, proses hukum terkait kasus itu tak berhenti. Pihak lainnya yang diduga terkait, harus diproses pula.

"Jelas sudah duduk masalah kasus, apalagi Natalia Rusli di pemeriksaan konfrontir di ruang Jamwas sudah mengakui menerima Rp550 juta dari korban SK untuk penangguhan penahanan," tutur Sugi.

"Sudah sepantasnya penyidik Kamneg (Polda Metro Jaya) segera memproses dan menahan pengacara Natalia Rusli untuk memberi efek jera, bahwa sebagai pengacara seharusnya Natalia Rusli bertindak berdasarkan hukum, bukan malah diduga menipu korban SK yang sedang dalam kesulitan," imbuhnya.

Kepolisian, diharapkan LQ segera mengikuti langkah tegas Kejaksaan. Sebab, jika dibiarkan akan mencoreng wajah lembaga penegak hukum di republik ini.

"Kepolisian tunggu apalagi? Kapolda segera perintahkan penyidik agar segera tangka dan tahan oknum-oknum yang terlibat. Sangat memalukan negara Indonesia. Video terima uang ada, bukti screen capture WA Natalia Rusli dengan Chaerul Amir juga jelas, rekaman pembicaraan Chaerul Amir dengan korban SK juga ada semua, sudah disebarkan ke media sosial dan menjadi konsumsi umum," papar Sugi.

"Seharusnya pihak Polda Metro Jaya tanggap dan segera usut kasus dugaan penipuan ini dan tangkap dan tahan Natalia Rusli. Jangan cuma Sesjamdatun yang dikenakan hukuman etik. Natalia Rusli ini diduga biangnya yang memiliki niat dan kesengajaan menipu korban SK," sambungnya.

"Apalagi dalam melancarkan aksi dugaan menipu korban investasi bodong, Natalia Rusli diduga memamerkan foto Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran. Sehingga praktik memamerkan foto dan bilang bahwa bisa kontak dan mengurus kasus melalui petinggi-petinggi Kejaksaan membuat korban percaya. Lalu untuk makin membuat korban percaya, diketemukan korban dengan pejabat terkait, sehingga membuat korban makin percaya lalu menyerahkan uang kepada Natalia Rusli," lanjut Sugi.

Sementara, advokat LQ yang juga kuasa hukum SK, Jaka Maulana, menyebut ketika melancarkan aksi dugaan penipuan, Natalia diduga mencatut nama Kapolri, Jaksa Agung, Jampidum, Kejati Jatim bahkan Kapolda Metro Jaya. Karenanya, untuk membuktikan bahwa aparat Kepolisian bersih, diharapkan Polda Metro Jaya melalui Subdit Kamneg Ditreskrimum segera merampungkan proses pemeriksaan dan menetapkan Natalia Rusli sebagai tersangka dugaan penipuan agar bisa di proses ke pengadilan.

"Jangan biarkan Natalia Rusli diduga merusak nama institusi Kepolisian. Institusi Kejaksaan saja langsung bertindak tegas, diharapkan Kepolisian dapat tegas dan segera memproses kedua aduan: LP # 1860 /IV/ YAN 2.5 /2021/ SPKT PMJ Tanggal 7 April 2021dan LP No 1671/ III/ YAN 2.5/2021 SPKT PMJ Tanggal 26 Maret 2021," papar Jaka.

Adapun pelapor, SK, berharap penanganan kasusnya bisa terus berlanjut. Karena menurutnya masih ada sosok yang dianggap paling bertanggung jawab dalam dugaan penipuan yang pihaknya alami.

"Saya tidak mau komentar atas tindakan Jaksa Agung itu ranahnya Kejaksaan. Namun bagi saya keadilan belum terpenuhi karena otak kriminal yang diduga si Natalia Rusli belum diproses secara hukum. Saya minta Kepolisian segera tindak lanjuti laporan polisi saya. Natalia Rusli yang diduga mengambil uang saya Rp550 juta dengan janji penangguhan penahanan bagi anak saya, semua itu ternyata janji palsu," jelasnya.

Senada dengan LQ dan pelapor, pakar hukum pidana Universitas Al Azhar Indonesia, Suparji Ahmad, menilai perlu pendalaman dan pengembangan terhadap kasus yang melibatkan oknum jaksa tersebut.

"Jika ada perbuatan yang terbukti memenuhi unsur pertanggungjawaban yang lain, maka tentunya sanksi tidak sekadar pencopotan," ujar Suparji, dikutip dari Mediaindonesia.com, Sabtu (1/5/2021).

Suparji mengatakan, pihak-pihak lain yang terlibat dalam masalah itu perlu diungkap. Tapi, kata dia, jika tak ditemukan perbuatan yang memenuhi unsur untuk diterapkan sanski lain, maka pencopotan Chaerul dari jabatan struktural sudahlah proposional.

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK