Kini Warga Pegagan Kidul Cukup Gunakan Kartu Uang Elektronik untuk Belanja Di Warung

Jadi Pilot Project Desa Nontunai, Warga Pegagan Kidul Cukup Gunakan Kartu Uang Elektronik untuk Belanja di Warung Tetangga
Kini Warga Pegagan Kidul Cukup Gunakan Kartu Uang Elektronik untuk Belanja Di Warung
Peluncuran Proyek Percontohan Percepatan Keuangan Inklusif Menuju Desa Juara Lahir Batin/ Kemenko Perekonomian

Cirebon, Nusantaratv.com - Tak lama lagi, masyarakat Desa Pegagan Kidul, Cirebon akan dapat membayar dengan uang elektronik saat bertransaksi di toko-toko keperluan sehari-hari dekat tempat tinggal mereka. Pasalnya, Desa ini telah ditetapkan menjadi Proyek Percontohan Percepatan Keuangan Inklusif Menuju Desa Juara Lahir Batin.

"Kami berinisiatif menciptakan ekosistem pembayaran nontunai secara keseluruhan dengan dukungan Bank Dunia atas kerja sama dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Jawa Barat melalui sebuah proyek percontohan percepatan keuangan," ujar Head of Project Management Office Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI), Djauhari Sitorus di Cirebon (12/11/2019).

Proyek percontohan ini merupakan salah satu upaya pemerintah mendorong lebih banyak lagi masyarakat yang memiliki dan menggunakan produk dan layanan keuangan formal guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Proyek ini juga sejalan dengan program kerja TPAKD Jabar yang mendukung program #DesaJuara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya di area percepatan keuangan inklusif.

Baca Juga: Presiden Jokowi Serahkan DIPA Tahun 2020 Keseluruh Kementerian dan Lembaga

"Pada tahap awal uang elektronik sudah dapat digunakan di tiga toko yang berjarak sekitar satu kilometer jauhnya dari desa mereka," kata Djauhari. 

Djauhari menambahkan bahwa pihaknyaakan telah menyiapkan 22 toko di dalam desa guna melayani pembayaran nontunai berbasis QR code.

Sementara itu, untuk pendapatan mayoritas rumah tangga di Desa Pegagan Kidul terhitung tak lebih dari 5 juta per bulan, dan masih ada yang tidak memiliki Surat Hak Milik (SHM) atas nama pribadi. Selain itu, masih ada 639 rumah tangga yang tidak memiliki rekening bank alias unbanked, namun memilih untuk menyimpan tabungannya secara informal.

Padahal, menurut Djauhari, masyarakat dapat bertransaksi dengan lebih aman dan lebih murah dengan uang elektronik. "Resikonya pun terbilang lebih kecil terhadap adanya bencana alam maupun kejahatan dengan menyimpan uang di perusahaan tekfin maupun perbankan," tutup Djauhari.



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0