Kenali, Ini Bahaya Penyakit Tuberkulosis

pasien tuberkulosis di DKI Jakarta dinilai tertinggi dari kota-kota lainnya.
Kenali, Ini Bahaya Penyakit Tuberkulosis
Penderita tuberklosis (foto: istimewa)

Jakarta, Nusantaratv.com -Tingginya polusi udara di Jakarta sangat mengkhawatirkan dampaknya buat sebagian orang. Khususnya bagi pasien tuberkulosis (TB), kondisi kesehatannya akan gampang menurun.

Terlebih pasien tuberkulosis di DKI Jakarta dinilai tertinggi dari kota-kota lainnya. Sepanjang tahun 2018 saja pasien tuberkulosis sudah sebanyak lebih dari 37 ribu orang. Tingginya jumlah pasien tersebut tentu sangat mengkhawatirkan, ditambah lagi dengan tingginya polusi udara di Jakarta.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr Wiendra Waworuntu, MKes menjelaskan, penyakit tuberkulosis sudah sejak dulu ada, namun sulit dieliminasi. Apalagi di ibu kota pasiennya sangat banyak, karena kondisi lingkungan yang tidak sehat. 

"Kalau polusi lagi tinggi seperti di Jakarta, pasien tuberkulosis positif dan lagi aktif, tentu akan mudah menyebarkan droplet infection di tempat umum," ujar dr Wiendra dalam End tuberkulosis Youth Town Hall di JS Luwansa Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (15/7/2019).

Di samping itu, sambung dr Wiendra, kondisi kesehatan pasien akan menurun drastis. Karena sistem kekebalan tubuhnya memburuk, sehingga polusi sangat memengaruhi pasien tuberkulosis.

Masyarakat Jakarta hampir setiap hari berkutat di jalan raya dengan menaiki transportasi umum. Padahal belum tentu lingkungan mendukung, karena bisa saja tertular banyak jenis penyakit.

Salah satu yang dikhawatirkan adalah TB. Pasien yang positif dapat saja menularkan droplet infection. Penularan tuberkulosis sangat rentan, karena semua orang ada di dalam satu ruangan.

dr Wiendra menegaskan, penularan tuberkulosis di transportasi umum bisa sangat parah. Dari satu orang yang positif TB, 15 orang di sekitarnya bisa tertular droplet infection secara bersamaan.

"Di transportasi umum penularan tuberkulosis juga sangat tinggi. Orang sakit TB, enggak pakai masker, batuk, lalu sebarkan droplet. Dari satu orang bisa membahayakan 15 orang," tambah dr Wiendra.

Sementara itu, pemerintah menginginkan eliminasi tuberkulosis berhasil di tahun 2030. Banyak upaya yang dilakukan untuk mewujudkan hal itu. Mulai dari mencari pasien tuberkulosis lalu diobati sampai sembuh, hingga mendorong pasien untuk tidak putus obat.

Karenanya, pengobatan selama 6 bulan itu akan sangat membosankan bagi pasien. Kalau putus obat yang dikhawatirkan yakni bisa mengalami resisten obat.

"Kita akan terus cari pasien tuberkulosis sampai benar-benar tereliminasi nantinya. Kalau ketemu pasti akan diobati dan diberikan secara gratis," kata dr Wiendra.

Tingginya jumlah pasien tuberkulosis di Indonesia dipengaruhi karena banyak faktor. Antara lain kondisi lingkungan tidak sehat, pasiennya tidak peduli dengan kondisi tubuhnya, sehingga lalai untuk melakukan deteksi dini.

Jadilah tuberkulosis menjadi momok buat banyak orang karena sangat membahayakan. Bahkan data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, estimasi penderita tuberkulosis di Indonesia angkanya mencapai 842 ribu orang. Tapi baru 549 pasien yang ditemukan positif TB. Kondisi ini sangat tidak merata, sehingga menyulitkan pemerintah untuk memberantas TB.



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0