Selain Hymne Pramuka, Masih Banyak Lagu Ciptaan H. Mutahar

14 Agustus diperingati sebagai hari Pramuka.
Selain Hymne Pramuka, Masih Banyak Lagu Ciptaan H. Mutahar
H. Mutahar pencipta Hymne Pramuka (Foto: Tribunews)
Untitled Document

Jakarta, Nusantaratv.com - Di setiap peringatan hari Pramuka tanggal 14 Agustus, kita tentu tak lupa dengan atribut serta lagu-lagu Pramuka.

Salah satunya adalah Hymne Pramuka yang diciptakan oleh H. Mutahar.

Siapakah sosok H. Mutahar ini dan lagu apa saja yang ia ciptakan semasa hidupnya?

H. Mutahar memiliki nama lengkap Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar. Beliau lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916.

H. Mutahar adalah seorang komponis musik Indonesia, terutama untuk kategori lagu kebangsaan dan anak-anak.

Lagu ciptaannya yang populer antara lain, hymne Syukur (diperkenalkan Januari 1945), mars Hari Merdeka yang diciptakan pada tahun 1946.

Karya terakhirnya, Dirgahayu Indonesiaku , menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.

Lagu anak-anak ciptaannya, antara lain: Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa dan Saat Berpisah.

Sementara itu lagu Hymne Pramuka merupakan lagu ciptaannya yang hingga kini masih dikumandangkan khususnya saat memperingati hari Pramuka.

Selain menciptakan lagu-lagu, H. Mutahar juga aktif dalam kepanduan. 

Sebagai salah seorang ajudan Presiden, Mutahar diberi tugas menyusun upacara pengibaran bendera ketika Republik Indonesia merayakan hari ulang tahun pertama kemerdekaan, 17 Agustus 1946.

Menurut pemikirannya, pengibaran bendera sebaiknya dilakukan para pemuda yang mewakili daerah-daerah Indonesia. 

Ia lalu memilih lima pemuda yang berdomisili di Yogyakarta (tiga laki-laki dan dua perempuan) sebagai wakil daerah mereka.

Pada tahun 1967, sebagai direktur jenderal urusan pemuda dan Pramuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Mutahar diminta Presiden Soeharto untuk menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka.

Tata cara pengibaran Bendera Pusaka disusunnya untuk dikibarkan oleh satu pasukan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

H. Mutahar meninggal di Jakarta, 9 Juni 2004 pada umur 87 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan.