Pancasila Lahir 1 Juni 1945, Ini Sejarah Singkatnya

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nusantaratv.com 1 Juni menjadi hari bersejarah bagi Bangsa Indonesia, di tanggal ini diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Pancasila adalah pilar ideologis negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari bahasa Sansekerta:  “pañca” berarti lima dan “śīla” berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima ideologi utama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila juga tercantum pada alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Pentingnya memperingati Hari Lahir Pancasila tidak hanya karena ini bernilai sejarah, tetapi karena makna yang terkandung dalam setiap butir sila Pancasila merupakan hal yang harus dihayati setiap saat oleh warga Indonesia, minimal sekali setahun. 

Baca Juga: Bertepatan dengan Hari Pancasila, 1,271 Pegawai KPK Jadi ASN Akan Dilantik Besok

Berikut, mari kita sama-sama mengingat kembali sejarah hari lahir Pancasila, tujuan, dan makna kelahiran Dasar Negara ini. 

Hari ini, 76 tahun yang lalu, Ideologi Pancasila lahir. Kelahiran Pancasila berawal dari kekalahan Jepang pada Perang Asia Timur Raya. Karena sudah kalah perang, Jepang berusaha menarik simpati masyarakat Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.

Sambil menunggu situasi kembali membaik, Jepang lalu membentuk sebuah lembaga yang bertugas untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Pada 1 Maret 1945, Kumakichi Harada selaku Jenderal Dai Nippon yang membawahi Jawa, mengumumkan akan membentuk suatu badan baru yang diberi nama Dokuritsu Junbi Cosakai. Badan ini  menjadi cikal bakal lahirnya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

BPUPKI dibentuk oleh Jepang pada 29 April 1945. Tujuan utama pembentukan Badan ini sebenarnya untuk merayu bangsa Indonesia agar mau membantu Jepang yang pada waktu itu posisinya sudah terdesak karena kalah perang, dengan menjanjikan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia.

Baca Juga: Ketua DPR: Indonesia Terus Ada Selama Pancasila Ada di Hati Kita

Secara garis besar, BPUPKI dibentuk untuk “menyelidiki hal-hal yang penting sekaligus menyusun rencana mengenai persiapan kemerdekaan Indonesia,” demikian seperti yang termaktub dalam Maklumat Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer merangkap Kepala Staf) Nomor 23.

Meski keberadaan BPUPKI tidak terlalu lama, hanya beberapa bulan saja, namun badan ini berhasil menggelar dua kali sidang resmi, yaitu 29 Mei sampai 1 Juni, dan 10-17 Juli 1945. Ada satu sidang lagi yang dilakukan kendati tidak resmi dan hanya diikuti beberapa anggota pada masa reses, antara 2 Juni hingga 9 Juli 1945.

Pada sidang pertamanya tanggal 29 Mei 1945 yang diadakan di Gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila), para anggota membahas mengenai tema dasar negara. Sidang berjalan sekitar hampir 5 hari, kemudian pada hari terakhir, tanggal 1 Juni 1945, Sukarno menyampaikan gagasannya terkait dasar negara Indonesia, yang dinamai “Pancasila”. Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas.

Hingga sidang usai, belum ada kesepakatan yang dicapai. Ada beda pendapat yang cukup tajam antara kubu nasionalis dan kubu agamis, salah satunya tentang bentuk negara, antara negara kebangsaan atau negara Islam, meskipun hal ini bukanlah persoalan yang baru (Bernhard Dahm, Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, 1987:232).

Baca Juga: MPR Harap Hari Pancasila Jadi Momen Gotong Royong Atasi Pandemi

Maka dibentuklah Panitia Sembilan untuk menemukan jalan tengah dalam perumusan dasar negara. Panitia ini terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, M. Yamin, Wahid Hasjim, Abdoel Kahar Moezakir, Abikusno Tjokrosoejoso, Haji Agus Salim, dan A.A. Maramis.

Setelah melalui berbagai perdebatan sengit dalam perundingan alot pada sidang Panitia Sembilan tanggal 22 Juni 1945, lahirlah rumusan dasar negara RI yang dikenal sebagai Piagam Jakarta atau Jakarta Charter yang terdiri dari: 1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Sumber: fajar.co.id

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK