Pakar Komunikasi: Pemimpin Baik Tak Pertontonkan Kemarahan ke Publik

Aksi marah-marah seorang pemimpin bisa merusak citra pribadi
Mochammad Rizki - Nasional,Rabu, 01-07-2020 12:39 WIB
Pakar Komunikasi: Pemimpin Baik Tak Pertontonkan Kemarahan ke Publik
Jokowi saat memarahi menterinya. (YouTube)

Jakarta, Nusantaratv.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) marah kepada para menterinya. Hal itu terjadi setelah kinerja mereka dalam penanganan pandemi Covid-19, dianggap main-main. Mantan Wali Kota Solo bahkan mengancam akan me-reshuffle atau mengganti anak buahnya itu. 

Aksi Jokowi saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/6/2020) tersebut, rekaman videonya diumbar ke publik melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (28/6/2020). 

Baca juga: Reshuffle di Tengah Pandemi (Bagian 2)

Pakar komunikasi politik Universitas Esa Unggul M Jamiluddin Ritonga, menilai wajar jika manusia marah, tak terkecuali seorang pemimpin. 

Namun hal itu menjadi tak wajar atau kurang pas, kala kemarahan pemimpin terhadap anak buahnya dipertontonkan ke khalayak umum.

Menurutnya, aksi marah-marah kepada bawahan di depan publik tak tepat dilakukan, karena secara psikologis dapat menjatuhkan moral anak buah. 

"Hal ini akan berdampak pada makin merosotnya kinerja bawahan," ujar Jamiluddin, dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7/2020). 

Dalam ilmu komunikasi politik, pemimpin yang marah di depan umum bisa menurunkan kredibilitasnya sendiri. 

"Bahkan citra pribadinya bisa menjadi buruk," ucap Jamiluddin.

Penilaian tersebut muncul, lantaran pemimpin yang suka marah dianggap sebagai sosok yang labil.

"Sosok seperti ini akan berpengaruh dalam mengambil kebijakan," kata Jamiluddin.

Di samping itu, dalam budaya Jawa, pemimpin yang baik ialah sosok yang dapat menahan amarah di depan umum.

Pemimpin seperti ini takkan pernah menunjukkan emosi yang meledak-ledak di muka umum. 

"Apalagi amarah yang diiringi ancaman seperti reshuffle, seharusnya tidak perlu keluar dari seorang pemimpin," kata dia. 

Jamiluddin berpandangan, apabila kinerja jajaran dinilai buruk, sebaiknya cukup dipanggil dan diberi peringatan.

"Kalau sudah diperingatkan berulang kali kinerjanya tetap rendah, ya reshuffle saja," tandas penulis buku Riset Kehumasan ini. 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0