Waspada! Kasus DBD Meningkat di Tengah Pandemi COVID-19

Di Tengah Pandemi COVID-19 Angka Kasus DBD Harus Ditekan.
Adiantoro - Nasional,Sabtu, 04-07-2020 08:37 WIB
Waspada! Kasus DBD Meningkat di Tengah Pandemi COVID-19
dokter Reisa Broto Asmoro. (Lia Agustina/Humas BNPB)

Jakarta, Nusantaratv.com - Kasus baru dan kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) terus bertambah di tengah pandemi virus corona (COVID-19).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut wilayah dengan banyak kasus DBD juga merupakan wilayah dengan kasus COVID-19 yang tinggi. Seperti Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sulawesi Selatan. 

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dokter Reisa Broto Asmoro mengatakan, berdasarkan laporan Kemenkes dimana jumlah kasus DBD lebih dari 70 ribu di 34 provinsi dan 465 kabupaten/kota dengan hampir 500 kematian.

Di tengah pandemi COVID-19 angka kasus DBD harus ditekan, masyarakat harus bergerak membasmi nyamuk dan sarang nyamuk paling tidak mulai dari rumah masing-masing. Gejala DBD memerlukan waktu 4-10 hari setelah digigit nyamuk dengue - ujar dokter Reisa, Jumat (3/7/2020), dilansir dari laman bnpb.go.id.

Baca Juga: Salah Dapat Informasi Tentang COVID-19 Berakibat Fatal

Menurut dokter kelahiran Malang, Jawa Timur (Jatim) itu, gejala paling umum DBD adalah demam tinggi hingga 40 derajat Celsius disertai tubuh menggigil berkeringat, sakit kepala, nyeri tulang, mual, muncul bintik merah-merah dikulit hingga perdarahan pada hidung dan gusi.

Dia menambahkan DBD bisa berkembang menjadi kondisi berat dan gawat yang disebut dengan dengue shock syndrome. Gejalanya berupa muntah, nyeri perut, perubahan suhu tubuh dari demam menjadi dingin atau hipotermia, dan melambatnya denyut jantung.

Hingga kini belum ada obat untuk DBD. Pemberian obat untuk pasien DBD hanya ditujukan untuk mengurangi gejalanya seperti demam dan mencegah komplikasi. Nyamuk dengue senang bersarang di genangan air, atau pakaian yang bergantungan.

Dengan melakukan 3M menjadi salah satu cara membasmi keberadaan nyamuk dan sarang nyamuk, yakni dengan menguras penampungan air, menutup wadah penampungan air, dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk - tukas dokter cantik berusia 34 tahun itu.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0