Terkendala Paket Kontrak, Pembangunan MRT Jakarta Fase 2 Terancam Mundur

William mengharapkan Pemerintah Jepang melalui JICA dapat mendorong para kontraktor untuk sektor rolling stok terlibat dalam...
Ramses Rianto Manurung - Nasional,Minggu, 18-10-2020 22:37 WIB
Terkendala Paket Kontrak, Pembangunan MRT Jakarta Fase 2 Terancam Mundur
Proyek MRT Jakarta Fase II/ist

Jakarta, Nusantaratv.com-Pembangunan MRT Jakarta Fase 2 terancam tidak sesuai jadwal alias mundur. Itu disebabkan adanya beberapa kendala yang terjadi di pengerjaan paket kontrak.

Kabar kurang menggemberikan tersebut diungkapkan Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar.

”Terdapat kendala atas pengadaan paket kontrak CP 202, CP 205, dan CP 206. Salah satunya karena pandemi Covid-19 yang melanda sehingga menyebabkan risiko tinggi terhadap keseluruhan proyek MRT Jakarta Fase 2,” ujar William Sabandar, Minggu (18/10).

William mengatakan ditemukannya kendala untuk CP 202 pembangunan Stasiun Harmoni–Mangga Besar mengakibatkan proyek strategis nasional itu molor hingga pertengahan 2027. Kendala dari CP 202 adalah para peserta lelang (kontraktor) pengerjaan proyek meminta waktu penyelesaian proyek yang lebih panjang. Sebab, selain Covid-19, dalam evaluasi ditemukan juga risiko yang tinggi dalam konstruksi di lapangan.

Selanjutnya kendala kedua ditemukan untuk proyek CP 205 terkait perkeretaapian dan rel. Para peserta lelang meminta perpanjangan waktu karena ada isu kebijakan penggunaan produk komunikasi tertentu yang tidak bisa disediakan kontraktor Jepang. Kendala terbaru yang ditemukan adalah peserta lelang melihat adanya risiko interfacing (tumpang tindih) antar pekerjaan paket sipil dan paket sistem perkeretaapian.

Baca juga: Demo Ricuh, MRT Ditutup Pukul 18.00 WIB

Meski demikian, lanjut William, PT MRT Jakarta (Perseroda) memutuskan tanggal pemasukan penawaran CP205 pada 26 Oktober dan telah meminta konfirmasi kesediaan para peserta lelang untuk memasukkan penawaran pada tanggal tersebut. Sebagian peserta lelang telah memberikan konfirmasinya pada hari ini (18/10) untuk mengupayakan yang terbaik guna memasukkan penawaran pada 26 Oktober.

”Kami meminta komitmen penuh dan realisasi dari para peserta lelang untuk dapat memasukkan penawaran pada batas waktu yang telah ditentukan tersebut,” ujar William.

Dia menambahkan, kendala terakhir untuk CP 206 adalah meski sudah sering kali dipromosikan kepada kontraktor-kontraktor Jepang untuk pengadaan kereta di MRT Jakarta Fase 2, tidak ada ketertarikan dari para kontraktor Jepang terlibat dalam proyek CP 206.

”Kondisi seperti ini terjadi karena pembangunan MRT Fase 2 dibiayai JICA ODA Loan dengan skema Special Terms for Economic Partnership (Tied Loan) sehingga sangat terikat dengan kriteria kontraktor utama harus berasal dari Jepang. Namun demikian, ternyata kontraktor Jepang terlalu konservatif dan tidak siap untuk mengambil risiko pembangunan di area Fase 2,” terang William.

William mengharapkan Pemerintah Jepang melalui JICA dapat mendorong para kontraktor untuk sektor rolling stok terlibat dalam pembangunan MRT Fase 2.

”Jika minat pelaku industri di Jepang kurang, opsi pengadaan melibatkan kontraktor internasional lain dari luar Jepang dapat dibuka dan disetujui bersama antara pemerintah Indonesia dan Jepang,” papar William.

Saat ini, pembangunan MRT Jakarta Fase 2 sudah mulai dikerjakan lewat CP 201 untuk pengadaan Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas yang sudah rampung sebanyak 8,3 persen.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0