CFD dan Bandara Jadi Sorotan, Masyarakat Belum Tertib Physical Distancing

Upaya Memutus Rantai Penyebaran Virus Corona Perlu Gotong-Royong.
Adiantoro - Nasional,Senin, 22-06-2020 13:14 WIB
CFD dan Bandara Jadi Sorotan, Masyarakat Belum Tertib Physical Distancing
Ilustrasi CFD di Jakarta. (Adiantoro/NTV)

Jakarta, Nusantaratv.com - Pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Jakarta, pada Minggu (21/6/2020), mendapat sorotan. Begitu juga dengan sejumlah Bandara di Tanah Air.

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19, Achmad Yurianto, mengungkapkan masih banyak masyarakat yang lupa dengan protokol kesehatan menjaga jarak (physical distancing).

Masih kita lihat beberapa masyarakat lupa, bahwa physical distancing penting, ini yang kami mohon untuk menjadi evaluasi kita bersama - ujar Yuri, sapaan akrabnya, dilansir dari laman bnpb.go.id, Senin (22/6/2020).

Selain pelaksanaan CFD di Jakarta, Yuri juga mengungkapkan protokol kesehatan physical distancing juga masih belum tertib dilakukan masyarakat, seperti yang terpantau di sejumlah bandar udara (Bandara), khususnya di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau.

Beberapa bandara udara, Bandar Udara yang akan melaksanakan penerbangan di hari Minggu (21/6/2020) ini, terutama yang mengarah ke pulau Jawa, kami lakukan pemantauan di Batam, dan di beberapa tempat yang lain, juga demikian. Kita masih melihat, banyak masyarakat yang belum tertib untuk menjaga physical distancing - ungkap Yuri.

Baca Juga: Sebanyak 137 Pedagang 18 Pasar DKI Tertular Corona

Yuri menambahkan, meski masyarakat telah tertib menggunakan masker, akan tetapi menjaga jarak merupakan rutinitas yang penting dan perlu dilaksanakan, terutama ketika berada di ruang publik.

Meskipun, sebagian besar sudah kami lihat menggunakan masker, tetapi sekali lagi, physical distancing adalah sesuatu yang perlu - jelasnya.

Menurut Yuri, yang juga menjabat Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, penarapan protokol kesehatan harus dilakukan secara bersama-sama, tidak bisa hanya setengah-setengah atau hanya sepotong.

Upaya untuk memutus rantai penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 memerlukan gotong-royong.

Inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama, karena kita tidak mungkin secara parsial, secara sepotong-sepotong, melakukan pendekatan untuk pengendalian penyakit ini. Ini harus dibutuhkan kerja bersama, terus menerus, tidak terhenti. Semangat kita, gotong royong, menjadi penting untuk saling melindungi, saling menjaga, agar penularan ini bisa kita hentikan - tambahnya.

Lebih lanjut, Yuri mengatakan, pelaksanaan protokol kesehatan secara menyeluruh menjadi prasarat mutlak untuk melaksanakan adaptasi kebiasaan yang baru, untuk kembali kepada produktivitas dan aman COVID-19. Sehingga diharapkan, masyarakat dapat melaksanakan protokol kesehatan sebagai bentuk adaptasi kebiasaan baru.

Ini beberapa hal yang sangat penting dan mendasar, sebagai bahan evaluasi kita, physical distancing, menjaga jarak, menggunakan masker adalah hal yang harus sekali lagi, harus kita jalankan dengan disiplin. Ini menjadi prasyarat mutlak, manakala kita akan melaksanakan adaptasi kebiasaan yang baru, untuk kembali kepada tingkat produktivitas kita - tegasnya.

Sekali lagi, adaptasi kebiasaan yang baru, berbasis pada kepatuhan kita menjalankan protokol kesehatan. Oleh karena itu, kita bisa melaksanakan, dan kita pasti bisa untuk laksanakan kegiatan ini - tukas Yuri.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0