Angka Kematian Covid-19 di Jakarta Meningkat, Kok PSBB Dilonggarkan?

Untuk kategori provinsi dengan angka kematian tertinggi dalam sepekan, DKI Jakarta masih di atas
Ramses Rianto Manurung - Nasional,Selasa, 13-10-2020 22:36 WIB
Angka Kematian Covid-19 di Jakarta Meningkat, Kok PSBB Dilonggarkan?
Foto statistik penyebaran covid-19 di DKI Jakarta/ist

Jakarta, Nusantaratv.com-Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah mengendorkan rem darurat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 12 Oktober 2020. Keputusan tersebut mengundang reaksi, pasalnya, angka kasus rata-rata harian covid-19 masih di atas seribu. Bahkan untuk kategori provinsi dengan angka kematian tertinggi dalam sepekan, DKI Jakarta masih di atas.

Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan saat ini diperlukan perhatian khusus pada provinsi yang pada pekan ini masuk ke dalam lima besar kenaikan kematian tertinggi. DKI Jakarta pun disorot.

“DKI Jakarta naik 65 kematian, Jawa Tengah naik 7, Kepulauan Riau naik 4, Kalimantan Tengah naik 3, dan Sulawesi Tengah naik 2,” tegasnya dalam konferensi pers, Selasa (13/10).

Prof Wiku mengingatkan agar provinsi yang masuk ke dalam lima besar kenaikan kematian tertinggi untuk dapat betul-betul melaksanakan treatment atau penanganan pasien Covid-19 dengan baik. Utamanya pada pasien dengan gejala sedang dan berat serta pasien dengan komorbid.

Baca juga: Ratusan Demonstran Reaktif Covid-19, TNI-Polri Diminta Rapid Test Anggotanya

Sementara secara total nasional, Prof Wiku mengklaim tingkat kematian pada pekan ini terus menurun. Pada pekan lalu menurun 7,7 persen sedangkan di pekan ini menurun 9,9 persen dari pekan sebelumnya.

“Kami apresiasi provinsi yang berhasil menekan kematian pada pekan ini dan berkontribusi pada penurunan angka kematian secara nasional. Provinsi yang sebelumnya berada di 5 besar kematian tertinggi telah berhasil menekan angka kematiannya sehingga keluar dari 5 besar yaitu Kalimantan Timur, Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan Papua,” ujarnya.

Sedangkan untuk kasus positif pekan ini juga naik, padahal pekan lalu sempat landai. Menurutnya pekan ini kenaikan kasus positif mencapai 5,9 persen.

“Ini adalah hal yang harus kita hindari. Penambahan kasus positif harusnya menurun setiap minggunya,” jelasnya.

Prof Wiku menegaskan diperlukan perhatian khusus pada 5 besar provinsi dengan kenaikan kasus tertinggi. Di pekan sebelumnya Jawa Tengah dan Jawa Barat keluar dari 5 besar, tapi pekan ini kembali masuk ke 5 besar.

Lima besar provinsi dengan kenaikan kasus tertinggi pekan ini diisi Jawa Tengah naik 499, Jawa Barat naik 383, Papua Barat 314, Sulawesi Selatan naik 277, dan Sulawesi Tengah naik 204. Bagi daerah yang masuk 5 besar diminta segera melakukan evaluasi terkait penerapan protokol kesehatan. “Jangan masuk 5 besar kasus positif karena ini bukanlah prestasi,” tegas Prof Wiku.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0