Terjerat Dugaan Penipuan, Pengusaha Hiburan Malam Ini Masuk DPO Polisi

Sebab berbagai upaya menghadirkan dan menangkap Arifin oleh polisi tak berhasil
Mochammad Rizki - Nasional,Jumat, 23-10-2020 12:06 WIB
Terjerat Dugaan Penipuan, Pengusaha Hiburan Malam Ini Masuk DPO Polisi
Daftar pencarian orang Polda Metro Jaya.

Jakarta, Nusantaratv.com - Polda Metro Jaya memasukkan nama pengusaha hiburan malam Arifin Widjaja dalam daftar pencarian orang (DPO). Arifin sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penipuan dengan memalsukan keterangan dalam akte notaris.

Kerugian korban dalam kasus ini sekitar Rp 11 miliar.

"Iya betul atas nama tersangka AW (Arifin Widjaja) sudah kami terbitkan surat DPO," ujar Kasubdit Harda Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Dwiasih Wiyatputera, Jumat (23/10/2020).

Baca juga: Bos Produsen Pembersih Lantai Jadi Tersangka Kebakaran Gedung Kejagung 

Dwiasih menjelaskan, Arifin sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan hasil penyidikan serta alat bukti yang dinilai penyidik cukup. Arifin disangka melanggar Pasal 378 KUHP.

"Berdasarkan alat bukti yang cukup dengan Pasal 378 KUHP dan atau 266 KUHP yaitu dugaan perbuatan pemalsuan dan atau penipuan dengan ancaman pidana selama tujuh tahun penjara," tutur Dwiasih. 

Kepolisian sendiri telah berupaya melakukan dua kali pemanggilan, penangkapan dan penggeledahan terhadap Arifin, namun pria itu tak berhasil ditemukan. 

Karenanya nama Arifin dimasukkan dalam daftar buronan polisi tersebut. 

Adapun kasus ini bermula, ketika Arifin mengaku memiliki sejumlah aset tanah di Desa Tanjung Pasir dan Desa Kohod, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang, Banten, pada Oktober 2016. 

Tanah dan lahan seluas 530.709 meter persegi itu kemudian dijual kepada pelapor, Henki Lohanda. 

Arifin lalu memberikan surat kuasa kepada tersangka lainnya, Achmad Asnawi alias Syam. Setelah kesepakatan terjadi, proses jual-beli tanah pun dimulai melalui notaris.

Pada Desember 2016, Arifin melarang notaris pilihannya untuk memberikan dokumen tanah yang akan dijual, sebelum pembeli diberi penjelasan bukti-bukti kepemilikan tanah, dan dilakukannya pembuatan perjanjian pengikatan jual-beli (PPJB) di kantor notaris pilihan Arifin.

Kedua pihak akhirnya sepakat, bahwa pembeli akan membayarkan lebih dulu 30 persen dari total transaksi yaitu Rp 11.940.952.500, apabila Nomor Identifikasi Bidang (NIB) sudah keluar dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). 

Saat itu yang bertugas untuk mengurus 
NIB tanah yang akan dijual adalah Syam. 

Nomor NIB kemudian diakui ada dan sudah tercatat oleh Syam, pada 14 Februari 2017. Lalu, pada 27 Februari 2017, notaris membuatkan draf akta pengikat jual-beli Nomor 52 tertanggal 27 Februari 2017. 

Di dalam draf tersebut tertulis dan tertuang nomor NIB berdasarkan keterangan dari Achmad Asnawi. Penandatanganan perjanjian pun dilakukan. 

Saat itu, pembeli membayarkan uang muka 30 persen yang disepakati.

Setelah pembayaran, pada 6 April 2017, Henki meminta notaris untuk melakukan pengecekan terhadap 22 bidang tanah yang dibeli ke kantor BPN Kabupaten Tangerang. Saat itulah diketahui jika bidang tanah yang dibeli tak terdaftar atau tidak teridentifikasi.

NIB yang terdaftar pada BIN Kabupaten Tangerang sendiri masih di bawah 30.000, berbeda dengan NIB nomor 80.000 sampai dengan 84.000 sesuai yang disampaikan Achmad Asnawi atau Syam. 

Merasa tertipu dan dirugikan, Henki lalu melaporkan peristiwa itu ke Polda Metro Jaya dengan nomor LP 6459/XI/2018/PMJ/Ditreskrimum, tanggal 26 November 2018. 

Selain menjadikan Arifin tersangka dan memasukkannya ke daftar pencarian orang, 
penyidik telah menahan Syam di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya. 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0