Diduga Diintimidasi Saat Sengketa Lahan Vs Pertamina, Warga Ngadu ke Komnas HAM

Warga mengaku diintimidasi oknum aparat kepolisian
Mochammad Rizki - Nasional,Kamis, 14-01-2021 01:00 WIB
Diduga Diintimidasi Saat Sengketa Lahan Vs Pertamina, Warga Ngadu ke Komnas HAM
Warga Jalan Pancoran Buntu II saat mengadu ke Komnas HAM.

Jakarta, Nusantaratv.com - Warga Jalan Pancoran Buntu II RT 06/02, Pancoran, Jakarta Selatan mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Rabu (13/1/2021).

Mereka melapor, lantaran mengaku mendapatkan intimidasi oleh oknum aparat kepolisian.

"Awalnya mereka sesuai koridor. Tapi kemari oknum Brimob kayak ikut ke sisi sana, nggak netral. Sempat ada polisi yang nenteng senjata (di hadapan warga), keluarin dalam sarung," ujar Okta Yuda, salah seorang warga yang turut melapor.

Baca juga: Hasil Investigasi Komnas HAM: Laskar FPI Gunakan Senjata Api Rakitan 

Persoalan ini bermula saat terjadi sengketa lahan antara pihak Pertamina Training and Consulting dengan ahli waris Sanyoto. Kedua pihak mengklaim sebagai pemilik sah lahan.

Persoalan ini berlanjut saat pihak yang disebut sebagai PTC, mengaku sebagai kuasa Pertamina. Bersama sejumlah oknum kepolisian, kata Okta, PTC kerap meminta penghuni mengosongkan lahan.

Kondisi ini pun sempat menimbulkan kericuhan antar kedua belah pihak.

"Sempat kisruh, lalu diteriaki petugasnya (polisi), 'petugas itu tugasnya mengayomi (masyarakat)'," kata Okta.

Dugaan intimidasi aparat, menurut dia bukan baru pertama kali terjadi dalam sengketa tersebut. Sejumlah anggota Brimob yang baru berjaga di sekitar lokasi, sebelumnya pernah membawa senjata laras panjang dan mengendarai motor trail.

"Kalau sekarang yang ada cuma oknum. Tapi setiap ada pergerakan (warga) pasti ada tambahan pasukan (kepolisian)," jelas Okta.

Menurut Okta, warga telah berulang kali meminta kepolisian menunjukkan surat tugas mereka saat berada di kawasan yang disengketakan. Namun, berulang kali pula menurutnya permintaan warga tak digubris.

Di sisi lain, kata Okta proses hukum terkait kepemilikan lahan masih berjalan. Karena itu, ia menilai tak tepat jika ada pihak-pihak yang merasa memiliki tanah tersebut, dan meminta penghuni meninggalkan lahan.

Sementara menurut warga lainnya, Karti, mengaku sempat didatangi pihak yang diduga dari Polres Metro Jakarta Selatan. Didampingi Brimob, polisi wanita (polwan) yang diduga suruhan PTC itu, meminta Karti datang ke kantor polisi.

"Mereka minta fotokopi KTP saya, bapaknya ditanya kerja apa, tinggal di sini berapa lama. Terus dia bilang 'kalau saya panggil harus dateng, kalau nggak saya dateng lagi ke sini'. Saya bilang 'saya nggak ada urusan'," tutur dia.

Peristiwa itu, kata Karti terjadi satu bulan lalu. Hampir semua warga didatangi oleh pihak tersebut. "Cara bicara mereka bikin kita takut. Mau nanya fotokopi KTP buat apa, kita nggak berani jadinya," katanya.

Adapun Ema, warga Jalan Pancoran Buntu II lainnya, mengaku hidupnya tak tenang sejak wilayahnya dimasuki aparat kepolisian, selama 5-6 bulan terakhir.

"Seolah kami dianggap musuh, maling atau apa nggak tahu sama mereka," tuturnya.

"Yang kami tahu mereka mau ambil lahan kami. Padahal kami sudah tinggal di situ 20 tahun," imbuh Ema.

Ema berharap, pihak Pertamina maupun PTC, bisa menyelesaikan persoalannya terlebih dahulu dengan ahli waris. Ia tak ingin warga yang hanya mengontrak di lokasi itu, turut dilibatkan dalam sengketa.

"Karena kami tinggal di situ melalui ahli waris, ya pergi melalui ahli waris juga," jelasnya.

Laporan warga sendiri diterima Komnas HAM Sub Bagian Penerimaan dan Pemilahan Pengaduan, dengan nomor surat 135.049. Selain melapor dan menyerahkan sejumlah barang bukti, mereka juga meminta perlindungan Komnas HAM.

"Harapan kita ya petugas bisa menjalankan tugasnya yaitu mengayomi, melindungi masyarakat. Kalau memang pengamanan ya pengamanan saja (jangan berpihak/intimidasi warga)," jelas Okta.

"Kalau memang nggak ada surat tugasnya, buat apa juga di situ," lanjutnya.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0