Wartawan Ditangkap dan Jadi Korban Kekerasan, Pengamat: Tak Ada Berita Seharga Nyawa!

Peka terhadap kondisi di lapangan dinilai menjadi solusi
Mochammad Rizki - Nasional,Sabtu, 10-10-2020 11:05 WIB
Wartawan Ditangkap dan Jadi Korban Kekerasan, Pengamat: Tak Ada Berita Seharga Nyawa!
Salah seorang jurnalis yang ditangkap saat demo UU Cipta Kerja.

Jakarta, Nusantaratv.com - Wartawan diminta lebih peka terhadap situasi di lapangan. Terutama saat melakukan peliputan di tengah aksi unjuk rasa. 

Hal ini disarankan menyikapi peristiwa kekerasan, intimidasi dan penangkapan, yang menimpa sejumlah jurnalis, saat mewartakan demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). 

Baca juga: ​​​​​Ini Kronologi Penangkapan Jurnalis Ponco 

"Saya menyarankan adanya standar operasional prosedur (SOP) bagi para jurnalis yang meliput di lapangan. Standar ini harus senantiasa ditekankan atau diingatkan kepada para wartawan yang bertugas di lapangan, terutama yang mewartakan aksi demonstrasi," ujar pengamat media massa dari Universitas Sumatera Utara (USU), Barto Silitonga, Sabtu (10/9/2020). 

"Perlu adanya pemahaman kepada para jurnalis bahwa wartawan bukan 'manusia super', yang paling hebat, bebas melakukan apa saja, karena dilindungi UU ataupun lantaran mewakili publik," imbuhnya. 

Menurut Barto, dalam menjalankan tugasnya, wartawan harus memahami ada pihak-pihak yang juga tak senang dan paham dengan aktivitas jurnalistik yang mereka kerjakan.

Meski apa yang dilakukan awak media demi kebaikan dan kemaslahatan masyarakat luas. 

"Wartawan harus peka terhadap situasi yang mengancam keselamatan jiwanya, maupun yang baru sebatas potensi. Wartawan harus pandai memposisikan diri," tuturnya.

Barto berpandangan, dibutuhkan kepekaan bagi para jurnalis di lapangan untuk memastikan, apakah aktivitas jurnalistik yang mereka lakukan, mengusik atau tidak pihak-pihak tertentu. 

Diperlukan cara-cara peliputan yang lebih aman, sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan

"Jangan ada pemahaman bahwa ketika meliput berita di kubu polisi atau aparat keamanan, cenderung aman, bebas intimidasi dan tindak kekerasan. Ataupun sebaliknya," jelas Barto. 

"Karena berdasarkan pengalaman yang ada, pemahaman demikian ternyata keliru," lanjutnya.

Apalagi, menurutnya hingga kini upaya menuntut keadilan dari para jurnalis yang menjadi korban intimidasi ataupun kekerasan saat peliputan, cenderung tak bisa didapat. 

Pihak-pihak yang harusnya bertanggung jawab, kata dia hanya bisa menyampaikan permohonan maaf, tanpa memberikan sanksi tegas kepada para pelaku. Sehingga ujungnya peristiwa serupa berulang. 

"Di lain sisi, organisasi profesi hanya bisa mengecam, tanpa mengambil tindakan lebih jauh," jelasnya. 

Atas itu, menurut Barto kepekaan wartawan terhadap kondisi di lapangan menjadi solusi terbaik dari perkara ini. Dibanding berharap kepada pihak-pihak yang tak bisa diharapkan. 

"Akhirnya, jangan sampai ada tubuh memar atau luka-luka demi berita. Apalagi sampai meninggal dunia hanya gara-gara eksklusifitas sebuah produk jurnalistik. Sebab tak ada berita seharga nyawa!" tandasnya.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0