Rizal Ramli: Orang Pergerakan Itu Bebas dari Kepentingan, Gak Beres Kita Kepret!

Saya dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan juga melakukan perubahan konkrit. Jadi… yang enggak beres ya kita kepret...
Raymond - Nasional,Selasa, 17-11-2020 08:30 WIB
Rizal Ramli: Orang Pergerakan Itu Bebas dari Kepentingan, Gak Beres Kita Kepret!
Dr. Rizal Ramli (istimewa)

Nusantaratv.com - Mantan Menko Maritim Rizal Ramli ternyata lebih suka disebut sebagai orang pergerakan. Meski ia muncul dalam situasi politik dan kerap memberikan solusi saat ekonomi RI mengalami maalah.

Hal ia ia ungkapkan dalam sebuah sesi wawancara bersama Akbar faisal Uncensored yang ditayangkandi kanal Youtube, kemarin.

"Saya lebih senang disebut orang pergerakan. Sebab, menjelang Indonesia merdeka pun perjuangan dilakukan oleh semua tokoh pergerakan. Misalnya ada Bung Karno, Sutan Sjahrir, HOS. Tjokroaminoto dan lainnya pada dasarnya mereka itu well educated dan tokoh pergerakan,” tegasnya dalam wawancara itu.

Sosok yang juga merupakan tokoh pergerakan ITB 73 ini menyebutkan, bahwa jaman dulu, para tokoh pergerakan sangat kuat, karena memiliki visi dan misi yang sangat besar untuk kemajuan Indonesia. Sehingga, jelas Rizal, para tokoh tak bisa dikooptasi oleh bandar ataupun cukong.

Bahkan, tak heran jelas mantan Menko Ekuin era Gusdur ini, bahwa tokoh pergerakan jaman dulu lebih memilih hidup susah dan menderita demi perubahan untuk Indonesia.

Ia lantas menyindir tradisi aktivis saat ini yang menurutnya telah mengalami banyak pergeseran. “Jadi.. pergerakan itu dari pikiran dulu, pikiran yang besar tentunya, dan baru gerakannya,” tegasnya.

Akbar Faisal kemudian mencoba menanyakan eksistensi Rizal sebagai tokoh gerakan yang sampai saat ini masih disandangnya. “Apakah tidak lelah menjadi aktivis pergerakan sampai sekarang?,” tanya Akbar.

Rizal kembali menjawabnya. “Enggak.. saya tidak menyesal, malah senang, karena bebas dari kepentingan kecil. Karena… saya dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan juga melakukan perubahan konkrit. Jadi… yang enggak beres ya kita kepret dengan berbagai resiko.

“Intinya begini..bangsa besar itu harus ada visi-visi besar. Visi besar itu kadang berbenturan dengan pada visi-visi kecil, seperti visi kepentingan indvidu dan visi kepentingan kelompok. Nah, akibat tabrakan itulah maka ada kontroversi,” tutupnya.

 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1