Rizal Ramli, JK dan Istilah Peng-peng Cara Tercepat Jadi Orang Kaya di Indonesia

Ring 1 SBY kesal kekayaan Sang Peng-Peng melesat hebat. Yang tadinya biasa2 saja, tidak masuk orang terkaya, jadi masuk....
Raymond - Nasional,Kamis, 12-11-2020 20:01 WIB
Rizal Ramli, JK dan Istilah Peng-peng Cara Tercepat Jadi Orang Kaya di Indonesia

Nusantaratv.com - Nama mantan wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sepekan terakhir kerap muncul di berbagai media mainstrem. Namun, bukan soal politik, melainkan perseteruannya dengan mantan Menko Maritim Rizal Ramli.

Keduanya memang dikenal selalu saling berpunggungan. Hal ini bukan tanpa sebab, karena Rizal selalu mengkritik kebijakan yang diajukan JK dalam pemerintahan. 

Sementara JK sendiri dianggap merupakan sebagai sosok yang selalu menghalangi Rizal Ramli dalam posisinya di pemerintahan, terutama menteri kabinet, baik di era Presien SBY hingga presiden Jokowi.

Dimana dalam sesi wawancara dengan presenter kondang, Karni Ilyas, JK mengungkakan bahwa Rizal tidak memiliki prestasi dan tidak mampu memimpin dalam sebuah kementerian.“Omongannya besar, tapi gak bisa pimpin orang,” tegasnya, dalam kanal Youtube Karni Ilyas Club, (17/11) lalu.

Namun, tak lama berselang, seperti berbalas pantun… Rizal Ramli justru mempertanyakan sikap JK yang menurutnya kerap menjegal dirinya saat SBY memintanya untuk menjadi Menko di dalam kabinet saat itu.

Dimana dalam akun Twitternya, Rizal menyatakan, bahwa SBY membuka komitmen tentang posisi dirinya agar bisa memperbaiki kondisi ekonomi RI. 

“Ternyata JK raja pembohong, SBY panggil RR ke Cikeas seminggu sebelum Pelantikan Kabinet. Wong jadi berita di TV2. SBY&RR ttd kesepakatan sbg Menko. Besoknya  stlh pelantikan Kabinet, SBY panggil RR ke Istana ceritakan JK yg ganjal di injury time sampai diundur 3 jam. Dasar,” tegas Rizal.

Tentunya beragam tanggapan muncul di timeline Twitter Rizal Ramli yakni @RamliRizal. Tak sedikit yang mendukungnya, bahkan mempertanyakan eksistensi JK di pemerintahan.

Ini bukan soal perseteruan soal Jusuf Kalla dan Rizal Ramli, melainkan tentang Siapa Jusuf Kalla. Sosok yang satu ini memang, siapapun presidennya, ia selalu memiliki peluang untuk hadir dalam berbagai hal.

Bahkan, Majalah Forbes Asia edisi 13/12/2007 mencatat JK memiliki kekayaan US$ 230 juta. Dimana kekayaan tersebut disumbang dari Group Kalla selama 32 tahun yang menggeluti bisnis salah satunya adalah penjualan mobil Jepang di Indonesia.

Tak hanya JK yang memiliki kekayaan fantastis, anggota keluarganya juga ternyata sama, yakni Aksa Mahmud, dimana kekayaan saudara ipar Kalla yang juga pernah menjadi pimpinan MPR ini ditaksir sebanyak US$ 340 juta. Aksa memiliki bisnis di kelompok Bosowa.

Maun intip kekayaan keluarga JK di era tersebut yang dirilis Forbes Asia?

  1. Aburizal Bakrie dan keluarga
  2. Sukanto Tanoto
  3. R. Budi Hartono
  4. Michael Hartono
  5. Eka Tjipta Widjaja dan keluarga
  6. Putera Sampoerna dan keluarga
  7. Martua Sitorus
  8. Rachman Halim dan keluarga
  9. Peter Sondakh
  10. Eddy William Katuari dan keluarga
  11. Anthoni Salim dan keluarga
  12. Mochtar Riady dan keluarga
  13. Murdaya Poo
  14. Arifin Panigoro dan keluarga
  15. Hary Tanoesoedibjo
  16. Trihatma Haliman
  17. Sjamsul Nursalim dan keluarga
  18. Chairul Tanjung
  19. Paulus Tumewu
  20. Prajogo Pangestu
  21. Soegiharto Sosrodjojo dan keluarga
  22. Sutanto Djuhar dan keluarga
  23. Hadi Surya
  24. Aksa Mahmud
  25. Harjo Sutanto dan keluarga
  26. Soegiarto Adikoesoemo dan keluarga
  27. Husein Djojonegoro dan keluarga
  28. Kartini Muljadi
  29. Edwin Soeryadjaya
  30. Jusuf Kalla
  31. Tan Kian
  32. Ciputra
  33. Bambang Trihatmodjo
  34. George & Sjakon Tahija
  35. Kris Wiluan
  36. Eka Tjandranegara dan keluarga
  37. Alim Markus dan keluarga
  38. Husein Sutjiadi
  39. Jakob Oetama
  40. Boenjamin Setiawan

Tak hanya Forbes yang merilis data kekayaan Jusuf Kalla. Globe Asia juga pernah merilis sejumlah orang terkaya di Indonesia, termasuk mantan Wapres RI tersebut.

Dalam rilisnya, Globe Asia tahun 2011 menempatkan posisi JK di urutan 107 di Indonesia dengan total kekayaan US$150 juta. Lima tahun kemudian menurut data yang sama, kekayaan Kalla Group naik drastis menjadi US$740 juta dan menempatkannya di urutan 49 terkaya di Indonesia.

Ironisnya, JK pernah mendapat hantaman keras pada saat kepemimpinan Gusdur. Ia dipecat dari posisi Menter Perdagangan dan Perindustrian serta Kepala Bulog karena diduga melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN). meski akhirnya masalah tersebut tidak diperpanjang dan diperlebar, namun informasi tersebut diterima publik dari berbagai sumber.

Rizal Ramli Buka-bukaan Soal Siapa JK

Dalam akun Twitternya @RamliRizal, Senin (09/11/2020), mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB tersebut mengungkapkan sosok JK.  Rizal menyebut bahwa presiden Jokowi pernah mempertanyakan bagaimana bisa menjadi orang terkaya di Indonesia kepada dirinya.

"Pak @jokowi pernah tanya RR, bagaimana caranya jadi orang terkaya di Indonesia dengan cepat? Saya tidak mau jawab kecuali jelas kasusnya," tulis Rizal.

Rizal tentunya tak mudah begitu saja memberikan jawaban. Ia justru bertanya kepada Jokowi mengenai maksud dan tujuan, dan setelah Jokowi mengungkapkan tentang adanya pejabat dan keluarga yang mudah mendapatkan kekayaan dalam waktu cepat, barulah Rizal menjawab pertanyaan Jokowi.

"Setelah Jokowi jelaskan kasus Pejabat & kel-nya, baru saya jawab: 'Gampang Mas, bisnis kekuasaan atau Peng-Peng. Cepat," sambung Rizak.

Adapun Peng-peng maksud Rizal adalah penguasa dan pengusaha, istiah itu digunakannya sekaligus menyindir JK.

Cukup sampai disini? tidak. Rizal kembali mencuitkan kicauan berikutnya. Ia menceritakan saat JK menjabat wakil Presiden SBY pada 2004 sampai 2009.

sumber: @RamliRizal

"Ring 1 SBY kesal kekayaan Sang Peng-Peng melesat hebat. Yang tadinya biasa2 saja, tidak masuk orang terkaya, jadi masuk. Itulah alasan, SBY tidak memilih Sang Peng-Peng jadi Wapresnya lagi," tutup Rizal.

Tentunya apa yang disampaikan Rizal Ramli menjadi pemahaman bagi masyarakat, bahwa luarbiasanya seorang pejabat negara yang menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya keluarga dan kroni-kroninya.

Padahal, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merupakan salah satu agenda kuat dalam Reformasi. Ironisnya, sampai saat ini perbuatan ‘terlarang’ itu masih kerap dilakukan oleh pejabat negara.

Sebelumnya, Organisasi Transparency International Indonesia (TII) merilis Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Pada rilis tersebut disebutkan skor IPK Indonesia naik jadi 40. Peneliti TII, Wawan Suyatmiko menjelaskan, bahwa persepsi korupsi Indonesia mengalami kenaikan.

"Hari ini indeks persepsi korupsi Indonesia ada di skor 40 dan ranking 85 dari 180 negara. Skor ini naik dua poin dari tahun 2018 yang berada di poin 38," ujarnya, dalam pemaparan IPK 2019 di gedung Sequis Center, Jakarta, Kamis (23/1) lalu.

Organisasi ini memang kerap merilis skor IPK setiap tahunnya. Adapun skor berdasarkan indikator 0 (sangat korup) hingga 100 yang berarti (sangat bersih).

Jika skala global ada di peringkat 85 dari 180 negara, di level ASEAN, Indonesia berada di peringkat empat.

Wawan mengatakan, kenaikan skor ini salah satunya dipicu penegakan hukum yang tegas kepada pelaku suap dan korupsi. Sementara penurunan skor dipicu maraknya suap dan pungutan liar pada proses ekspor-impor, pelayanan publik, pembayaran pajak tahunan, hingga proses perizinan dan kontrak.

"Peningkatan skor ini menunjukkan perjuangan pemerintah dan KPK dalam memberantas korupsi membawa upaya positif,”tutupnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0