Otto Hasibuan: Sosok Pengacara Djoko Tjandra yang 'Berani Berbeda'

Otto kerap menangani kasus yang menjadi sorotan publik dan terkait nama besar
Mochammad Rizki - Nasional,Senin, 03-08-2020 23:12 WIB
Otto Hasibuan: Sosok Pengacara Djoko Tjandra yang 'Berani Berbeda'
Otto Hasibuan. (Net)

Jakarta, Nusantaratv.com - Pengacara ternama Otto Hasibuan, lagi-lagi menangani kasus yang menjadi sorotan publik.

Pada kali ini, dia menjadi kuasa hukum Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra, narapidana pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Rp 904 miliar.

Djoko ditangkap tim Bareskrim Polri yang bekerja sama dengan Kepolisian Diraja Malaysia, Kamis (30/7/2020). Ia ditangkap setelah 11 tahun dicari sebagai buronan.

Baca juga: Otto Hasibuan: Penahanan Djoko Tjandra Tak Sah 

Menurut Otto, dirinya bersedia membela Djoko lantaran pria itu dinilainya mengalami sejumlah ketidakadilan. Salah satunya penahanan Djoko yang dinilai tak sah di mata hukum.

"Ada sejumlah hal bahwa sesungguhnya putusan PK itu batal demi hukum, lantaran dalam amar putusan, tidak ada kata-kata, 'Memerintahkan terdakwa untuk ditahan'. Berdasar Pasal 197 KUHAP, maka putusan PK itu batal demi hukum. Kalau sudah batal, penahanan yang dilakukan tidak sesuai, tak sah karena tidak ada dasar hukum," ujar Otto, Senin (3/8/2020).

Sebelum ini, Otto cukup banyak menangani klien dengan nama besar, maupun kasus yang menyita perhatian masyarakat.

Sebut saja perkara kopi sianida, atau kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin oleh Jessica Kumala Wongso, pada 2016 silam.

Ketika itu, Otto berani 'pasang badan' bagi Jessica yang akhirnya dinyatakan bersalah oleh majelis hakim.

Persidangan kasus tersebut disiarkan secara langsung oleh sejumlah stasiun televisi.

Sidang berlangsung berbulan-bulan, bahkan digelar hingga tengah malam. Proses pembuktian perkara ini selayaknya serial drama.

Bahkan, para jurnalis menyebut persidangan tersebut sebagai 'kuliah kopi sianida', karena memandang kegiatan tersebut mirip dengan perkuliahan ilmu hukum, dengan topik mengungkap misteri pembunuhan menggunakan racun sianida.

Bukan hanya itu, Otto juga pernah 'tampil beda' dengan menjadi pengacara mantan Ketua DPR Setya Novanto dalam kasus korupsi e-KTP, pada akhir 2017.

Meski begitu, tak sampai satu bulan, Otto mundur dari posisi tersebut. Sebab, ia menilai tidak ada kesepakatan yang jelas tentang tata cara penanganan kasus.

"Setelah saya tangani kasus ini dalam perjalanannya di antara kami dengan Setya Novanto saya melihat belum ada kesepakatan yang jelas tentang tata cara penanganan suatu perkara, sehingga kalau tidak ada kesepakatan yang pasti dan jelas tentang penanganan suatu perkara bagaimana tata caranya, maka itu dapat mengakibatkan kerugian bagi dia dan juga saya, dan itu akan menyulitkan saya untuk melakukan pembelaan kepada klien," tutur Otto kala itu.

Hingga akhirnya, Setnov, sapaan Setya Novanto, menunjuk pengacara lain yakni Maqdir Ismail, dan ia belakangan divonis 15 tahun penjara.

Baca juga: Gagal Bayar Indosurya, Otto Hasibuan: Nasabah Kecewa kepada Kapolri 

Otto juga sempat menjadi pengacara Sjamsul Nursalim, saat menggugat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan auditor BPK secara perdata. Gugatan terkait laporan audit perihal dugaan kerugian keuangan negara terkait Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI). Gugatan diajukan ke Pengadilan Negeri Tangerang pada 2019.

Otto mempertanyakan audit BPK pada 2017, yang menyatakan ada kerugian negara dalam kasus BLBI.

Otto menilai, audit yang dilakukan BPK tak sesuai ketentuan hukum.

Otto Hasibuan pun turut menjadi pengacara mantan Menko Maritim Rizal Ramli, dalam kasus dugaan pencemaran nama baik Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, pengacara Pertamina dalam kasus tumpahan minyak di laut Balikpapan pada 2018, perkara gagal bayar Koperasi Simpan-Pinjam Indosurya, serta lainnya.

Terbaru, Otto menjadi pengacara pegiat media sosial Denny Siregar, dalam persoalan kebocoran data. Pria yang berkecimpung di dunia advokat lebih dari 32 tahun itu, berencana menggugat perusahaan telekomunikasi Telkomsel, atas kelalaian serta kerugian yang diakibatkan bocornnya data pribadi milik Denny, yang diduga dilakukan pegawai alih daya atau tenaga kontrak BUMN tersebut.

Di organisasi advokat, nama besar Otto juga menggema. Ia pernah menjabat Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN Peradi) selama dua periode, yakni pada 2005-2010 dan 2010-2015.

Baca juga: Dukung Penanganan Corona Pemerintah, Otto Hasibuan: Semangat Pak Jokowi, Semangat Pak Menkes 

Saat ini, pria bergelar profesor kehormatan di bidang ilmu hukum tersebut, menjabat Ketua Dewan Pembina DPN Peradi.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0