Nilai Jadi Alat Propaganda, Panglima TNI Ingatkan Bahaya Medsos

Menurutnya masyarakat bisa terpolarisasi jika didiamkan
Mochammad Rizki - Nasional,Sabtu, 21-11-2020 15:43 WIB
Nilai Jadi Alat Propaganda, Panglima TNI Ingatkan Bahaya Medsos
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. (Net)

Jakarta, Nusantaratv.com - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menilai media sosial (medsos) memiliki peranan penting dalam melahirkan propaganda yang berdampak bagi sebuah bangsa.

"Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus akui bahwa media sosial telah dapat dimanfaatkan sebagai media propaganda," ujar Hadi dalam webinar 'Sinergi Anak Bangsa Dalam Menjaga Keutuhan Bangsa dan Negara Dari Aksi Separatisme di Dunia Maya', Sabtu (21/11/2020).

Baca juga: Ini Dasar Hukum TNI Bisa Bongkar Baliho Rizieq 

"Dengan penggunaan dan jangkauan yang luas, medsos bisa digunakan efektif untuk perang informasi dan perang ideologi," imbuh dia.

Hadi mengatakan, beberapa fitur di medsos seperti hashtag atau tagar dan trending topic, mampu membuat informasi lebih cepat diterima masyarakat.

Tapi, ia khawatir apabila informasi yang disebar dengan cepat tersebut merupakan isu sensitif. Sehingga bisa menimbulkan provokasi di masyarakat.

"Bahasa yang digunakan biasanya bahasa provokatif, semua ditujukan untuk membangkitkan emosi masyarakat," kata dia.

Menurut Hadi, isu sensitif yang diangkat dengan bahasa provokatif itu mampu membuat masyarakat menjadi terkotak-kotak, hingga dibenturkan satu sama lain. 

Menurut dia, jika hal ini terus terjadi maka masyarakat akan terpolarisasi. Walau begitu, ia mengakui ada elemen masyarakat yang tak mudah termakan informasi propaganda.

Sementara di sisi lain, kata dia, banyak juga masyarakat yang terhasut dan akan mereplikasi pesan, bahkan ikut membuat pesan propaganda semakin besar.

Apabila kondisi ini terus terjadi, menimbulkan politik identitas yang sempat digunakan penjajah kepada bangsa.

"Politik identitas kembali marak digunakan, sejak beberapa tahun belakangan karena dinilai mudah menggerus masyarakat dan mudah meraih dukungan," jelas dia.

Apalagi, Hadi memandang aksi propaganda melalui media sosial bahkan lebih efektif daripada perlawanan bersenjata yang dilakukan terhadap pemerintah.

"Contoh berita bohong sudutkan pemerintah, sasaran utamanya adalah masyarakat awam dan generasi muda," tandasnya. 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0