Nikita Mirzani Adalah Representasi Masyarakat yang Tak Berani Bersuara

Nikita disebut selayaknya superhero
Mochammad Rizki - Nasional,Minggu, 15-11-2020 16:05 WIB
Nikita Mirzani Adalah Representasi Masyarakat yang Tak Berani Bersuara
Nikita Mirzani. (Detik)

Jakarta, Nusantaratv.com - Keberanian artis Nikita Mirzani berhadapan dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab, terus mendapatkan dukungan dan pujian. Tak terkecuali dari pengamat sosial-politik, Rudi S Kamri. 

Menurutnya, apa yang disuarakan Nikita mewakili sikap sebagian masyarakat. 

"Jujur sejatinya saya tidak pernah nge-fans dengan sosok sang Nyai Nikita Mirzani karena bagi saya keindahan dirinya dan jejak keartisannya masih jauh di bawah idola abadi saya Jeng Dian Sastro," ujar Rudi dalam keterangannya, dikutip Minggu (15/11/2020). 

Baca juga: Sindir Rizieq, Hotman Paris Gelari Nikita 'Ratu Nyali' 

"Tapi harus diakui saat ini Nyai Nikita adalah representasi suara masyarakat yang tidak berani bersuara," imbuhnya. 

Rudi menilai, Nikita merupakan sosok perempuan yang berani bersuara lantang terhadap kelompok tertentu, di saat negara tak hadir, memilih bungkam terhadap sepak terjang kelompok tersebut. 

"Saat negara terlihat lunglai tak berdaya di hadapan sekelompok orang nir-akal sehat yang telah bertindak semena-mena, sang Nyai tampil berani bersuara lantang tak terhadang. Suara Nikita semakin kuat membahana karena diamplifikasi oleh si ayam sayur Maher Soni dan Alawi yang offside salah strategi," tuturnya. 

Menurut Rudi, apa yang dilakukan Nikita hanya spontanitas semata, apa adanya. Bukan sebuah serangan yang telah diatur dengan rumit, penuh intrik. 

Nikita pun dicap Rudi sebagai perempuan pemberani. Bahkan lebih berani dibandingkan para pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

"Sang Nyai bukan pemain catur hebat. Dia hanya kebetulan pemain lempar peluru yang jitu dan nekat. Modal popularitas yang penuh sensasi membuat narasi sang Nyai mengundang orang untuk bereaksi. Tapi harus diakui dia perempuan pemberani. Jauh lebih berani dibanding para pembantu Presiden Jokowi yang pada ngumpet menyelamatkan diri," jelasnya. 

Rudi mengatakan, Indonesia beruntung memiliki Nikita. Sebab di saat bangsa membutuhkan sosok pemberani yang menjadi garda depan melawan kelompok-kelompok tertentu, Nikita tampil terdepan. Bahkan janda anak tiga tersebut pasang badan akan segala risikonya. 

Nikita pun dianggapnya lebih hebat dari TNI-Polri dan aparatur sipil negara, yang bertugas menjaga keamanan dan menegakkan aturan, berbekal segudang fasilitas dan anggaran.

Nikita menurut Rudi selayaknya tokoh superhero. 

"Saat negara sedang menyepi, untung ada sang Nyai. Saat rakyat kehilangan figur kuat penjaga negeri, Nikita Mirzani tampil menyerahkan diri untuk di-bully. Ini fenomena menarik," paparnya. 

"Saat aparat negara yang mendapatkan kemewahan fasilitas dari uang rakyat tidak bertindak yang seharusnya, kita mendapatkan idola penyelamat baru sang perempuan perkasa. Persis seperti kita baca komik superhero, ternyata pahlawan rakyat yang sebenarnya bukan dari birokrasi atau pemimpin negeri yang korup dan hidup bermewah-mewahan dari fasilitas negara, tapi lahir dari entitas rakyat kecil yang selama ini termarjinalkan," jelas Rudi. 

Karena merupakan 'aset bangsa', menurut Rudi wajar jika saat ini kepolisian menjaga rumah Nikita, setelah wanita itu mendapat ancaman atas aksinya. 

Rudi pun berseloroh, jika menjaga kediaman Nikita saat ini lebih penting dan lebih baik dibanding menjaga rumah para pejabat Republik. 

Sebab, Nikita dianggap sebagai 'martir' yang rela mengorbankan keselamatannya, demi menjaga kewibawaan negara. 

"Jadi kalau saat ini polisi mendirikan posko pengamanan di rumah sang Nyai, bagi saya wajar-wajar saja. Rumah dan keselamatan sang Nyai saat ini jauh lebih layak diprioritaskan dibanding menjaga rumah pejabat negara yang tidak bertindak apa-apa saat badai bahaya negara sudah di depan mata. Sang Nyai adalah martir bagi eksistensi negara saat kelompok orang yang kita beri amanah menjaga kehormatan negara tidak bekerja sebagaimana seharusnya," jelasnya. 

Rudi menuturkan, melindungi Nikita bukan hanya berarti melindungi seorang perempuan. Tapi sama saja melindungi suara sebagian masyarakat yang resah terhadap kelompok tertentu, namun tak cukup bernyali mengungkapkan kegelisahannya. 

"Melindungi keselamatan Nikita Mirzani bukan sekedar melindungi keselamatan perempuan yang akan dipersekusi, tapi melindungi suara arus bawah masyarakat yang resah tak berdaya tanpa suara. Saya berharap para penjaga negeri yang sedang duduk manis di kursi empuk dalam ruangan mewah ber-AC berani menatap cermin di kamarnya, dan menunjuk pada diri sendiri, 'Masak saya gagah begini kalah nyali dari Sang Nyai?'," tandas Rudi. 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0