Kasus Pembakaran Surat Jalan Palsu Djoko Tjandra, Brigjen Prasetijo: Penghianat!

Terima kasih Pak Johny, anda sudah bantu saya, atau terbalik, saya bantu membina anda di Biro PPNS. Terima kasih sudah jadi...
Raymond - Nasional,Rabu, 11-11-2020 10:50 WIB
Kasus Pembakaran Surat Jalan Palsu Djoko Tjandra, Brigjen Prasetijo: Penghianat!
Brigjen Prasetijo Utomo

Nusantaratv.com - Kasus surat jalan yang melibatkan Djoko Tjandra sampai saat ini terus berkembang. Bahkan, saat ini terjadi perseteruan antara Kompol Jhony Andrijanto dengan Brigjen Prasetijo Utomo. 

Kini, kasus justru semakin memanas, karena adanya pembakaran surat jalan palsu. Jhony mengaku, bahwa dirinya diperintahkan oleh Brigjen Pol Prasetijo. “Ya… memang betul, bahwa apa yang memang saya katakan dalam BAP (soal pembakaran). Jadi semua saya lakukan karena perintah," ungkapnya, kemarin di Jakarta.

Dimana saat itu, Jhony mengaku bahwa surat asli yang digunakan untuk perjalanan Djoko Tjandra masih berada di dalam mobilnya, dan Brigjen Prasetijo menghubunginya.

Ia pun membakar surat itu di halaman rumah sahabatnya Suryana yang berada di Jalan Aria Suryalaga, Bogor, Jawa Barat pada 8 Juli 2020. Meski memang Jhony mengaku dirinya juga sempat mengabadikan proses pembakaran tersebut.

“Jam 2 siang saya ke ruang beliau, saya tunjukkan ke beliau. Saya lihatkan HP saya, 'Izin jenderal, perintah sudah saya laksanakan', (dijawab Prasetijo) 'Oh iya bagus', beliau jawab gitu," ungkapnya.

Dalam persidangan, Jhony mengatakan tidak mengetahui alasan Brigjen Prasetijo memerintahkan dirinya membakar dokumen surat jalan palsu Djoko Tjandra tersebut.

Namun kata dia, perintah itu muncul usai atasannya dipanggil Kabareskrim Polri.

"Saya tidak tanya tapi beliau menyampaikan, 'saya habis dipanggil Kabareskrim dan menyampaikan ada viral surat tersebut', maka itu beliau menanyakan (soal surat),"  tutup Jhony.

Seperti diketahui, upaya pembakaran tersebut tertulis dalam surat dakwaan Brigjen Prasetijo yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum. Hal itu dilakukan untuk menutupi penyidikan pemalsuan yang dilakukan Prasetijo.

Prasetijo juga dinilai bermaksud menghilangkan barang bukti yang menerangkan bahwa dirinya bersama Jhony ikut menjemput Djoko Tjandra.

Atas perbuatannya, Brigjen Prasetijo diancam pasal 263 ayat (1) KUHPidana jo Pasal 55 ayat 1 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana dan atau Pasal 263 ayat (2) KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Selain itu, dirinya juga dikenakan pasal 426 ayat (1) KUHPidana jo Pasal 64 ayat 1 KUHPidana. Ketiga, Pasal 221 ayat (1) ke-2 KUHPidana jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Sementara itu, Tim kuasa hukum Brigjen Prasetijo Utomo membantah kesaksian Jhony Andrijanto. Bahkan dalam sidang yang digelar di PN Jakarta Timur kemarin, Prasetijo sempat "mencecar" sang kompol dengan sejumlah pertanyaan.

 

"Kapan saudara tau surat tersebut viral?" tanya Prasetijo kepada Johny."Pada saat saya lapor ke Jenderal. Tanggal 8 Juli. Kan Jenderal bilang sendiri, 'Waduh viral nih, saya dipanggil Pak Kabareskrim'," tegas Jhony dalam persidangan.

Dimana surat jalan yang diduga dipalsukan dalam perkara itu diketahui diperuntukan untuk memonitoring covid-19 di Pontianak. Adapun dalam surat itu, jabatan Djoko Tjandara dan Anita Kolopaking ditulis sebagai konsultan, dengan keperlan konsultasi dan koordinasi.

Namun, Johny mengakui bahwa selama di Pontianak, kegiatan monitoring itu tidak terjadi. "Saya pada saat itu hanya menerima perintah untuk mendampingi ke Pontianak oleh piminan saya, ya saya otomatis ikut mendampingi pimpinan saya ke Pontianak," jelas Johny.

"Terima kasih Pak Johny, anda sudah bantu saya, atau terbalik, saya bantu membina anda di Biro PPNS. Terima kasih sudah jadi pengkhianat," tutup Prasetijo.

 

 

 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0