Kajari Toba Laporkan Cucunya ke Polda Sumut, Kenapa?

Sebaliknya sang cucu melalui kuasa hukumnya menyerang balik sang kakek, Robinson Sitorus dengan melaporkannya ke Kejaksaan...
Ramses Rianto Manurung - Nasional,Jumat, 13-11-2020 23:45 WIB
Kajari Toba Laporkan Cucunya ke Polda Sumut, Kenapa?
Foto ilustrasi hukum/ist

Medan, Nusantaratv.com-Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Toba, Robinson Sitorus melaporkan Jojor Sitorus yang tak lain adalah cucunya sendiri ke Polda Sumut. 

Robinson melaporkan sang cucu atas dugaan penggelapan uang senilai Rp 600 juta. 

Dari informasi yang dihimpun Jumat (13/11/2020), Jojor sudah memenuhi panggilan 
Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut pada Rabu (11/11/2020) lalu.

Saat dikonfirmasi, Kasubdit Penmas Bid Humas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan membenarkan terlapor sudah dilakukan pemanggilan dan pemeriksaan atas kasus tersebut.

"Untuk secara mendetail belum bisa kita beritahukan, namun proses penyelidikan sudah berjalan," kata AKBP MP Nainggolan.

Kasubdit Penmas Bid Humas Polda Sumut menambahkan pihak pelapor yakni Robinson Sitorus juga sudah diminta keterangan dan diperiksa. Demikian juga dengan terlapor Jojor Sitorus.

Terpisah, kuasa hukum terlapor dari Jakarta, SHP Law Firm, Roni Prima Panggabean dan Jhon Feryanto Sipayung menyebutkan bahwa kliennya mengaku heran atas laporan pengaduan (LP) itu

Baca juga: Otto Hasibuan: Terima Kasih Pak Sekjen, Pak Fauzie dan Pengurus Lama

Menurut Roni laporan dari pelapor terhadap kliennya itu cacat hukum karena tidak ada bukti yang diajukan terhadap kliennya.

"Kami juga sudah melaporkan RS ke Kejaksaan Agung dan Komisi Kejaksaan terkait dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) pada tanggal 8 Oktober 2020 dengan nomor 5162/SHP/X/2020," ungkapnya.

Roni menuturkan, kasus ini berawal keinginan pelapor (Robinson Sitorus-red) menitipkan uang sekitar Rp 1,5 miliar.

Uang itu diminta untuk disimpan dalam bentuk deposito menggunakan nama terlapor senilai Rp 600 juta, dan Rp 900 juta memakai nama ibu terlapor.

"Uang Rp 600 juta itu diminta pelapor untuk dikembalikan melalui transfer ke rekening milik orang lain," tutur Roni.

Terlapor telah mengembalikan uang tersebut sekitar bulan November 2019 ke nomor rekening yang diperintahkan pelapor.

Jadi yang diperkarakan yang Rp 600 juta, sudah dikembalikan, tapi kenapa malah kasusnya bisa diterima polisi," tanya Roni dengan nada heran.

Dalam laporan tersebut, Roni menuding ada beberapa kejanggalan.

Selain itu, Roni menilai pelapor tidak cukup bukti menuduh kliennya melakukan penipuan atau penggelapan.

"Alasannya, hal yang dilaporkan hanya berdasar bukti tulisan tangan di atas kertas selembar berlogo kop surat kejaksaan.

Bahkan tulisan tersebut bukan merupakan tulisan tangan dari kliennya. 

"Dalam hal ini klien saya juga tidak mengetahui alasan pasti kenapa uang tersebut dititipkan kepada dirinya dan ibu dari klien kami," kata Roni.

Oleh karena itu, kuasa hukum terlapor telah mengambil langkah hukum ke Komisi Kejaksaan RI pada tanggal 4 Agustus 2020 dengan nomor Register di Komisi Kejaksaan RI: 5861- 0488.

Pihaknya meminta agar Robinson Sitorus diperiksa atas dugaan tindak pidana pencucian uang yang merujuk pada Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Roni menegaskan setelah dari Komisi Kejaksaan, pihaknya akan mengambil langkah hukum ke PPATK dan KPK. Agar seluruh aliran transaksi pelapor ditelusuri dan ditindaklanjuti.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0