Dua Kelompok Nelayan Persoalkan Zona Tangkap Ikan

Mediasi yang berlangsung di ruang data Pemkab Barru, Senin siang (16/11/2020), sempat berjalan alot.
Supriyanto - Nasional,Selasa, 17-11-2020 15:20 WIB
Dua Kelompok Nelayan Persoalkan Zona Tangkap Ikan
Pemkab Barru bersama Kapolres Barru dan Dandim 1405 berhasil mendamaikan dua pihak nelayan yang bertikai.

Nusantaratv.com, Barru - Dua kelompok nelayan masing-masing dari desa Siddo, Kecamatan Soppeng Riaja dan nelayan lingkungan Palanro, Kecamatan Mallusetasi yang berselisih paham berhasil dimediasi oleh Pemerintah Kabupaten Barru.

Mediasi yang berlangsung di ruang data Pemkab Barru, Senin siang (16/11/2020), sempat berjalan alot. Kapolres Barru, AKBP Liliek Tribhawono dan Perwakilan Dandim 1405 Mallusetasi turut hadir dalam acara itu. Alotnya persoalan terkait dengan batas zona tangkap ikan kedua pihak yang berseteru.

Menurut pengakuan nelayan dari daerah Palanro, kejadian bermula dari seringnya nelayan dari daerah Siddo melanggar zona tangkap ikan. Kerap terlihat nelayan Siddo menjaring ikan di area khusus yang diperuntukkan untuk nelayan tradisional. Sehingga mayoritas nelayan tradisional Palanro mengeluhkan hasil tangkapan berkurang.

Baca Juga: Gempa Padang, Pasien dan Pengunjung RS Berhamburan

Karena protes mereka tidak pernah didengar oleh nelayan Siddo, klimaks kekesalan para nelayan Palanro pun dilampiaskan dengan merusak alat tangkap ikan milik nelayan Siddo.

Menurut nelayan Siddo, peristiwa ini terjadi karena kesalahpahaman nelayan Palanro dalam memahami batas zona tangkap ikan.

Tak ingin warganya larut bertikai hingga terjerumus ke ranah hukum, Pemerintah Kabupaten Barru kemudian mengambil langkah mediasi.

Setelah mendapat penjelasan dan pengarahan dari Sekda dan Kapolres Barru serta Kadis Perikanan, akhirnya kata damai berhasil disepakati. Dua pihak nelayan yang bertikai pun sepakat untuk kembali hidup berdampingan dengan mengikuti aturan yang telah ditetapkan tentang batas zona tangkap ikan yang telah disepakati.

Kelompok nelayan Palanro pun berjanji saling menjaga keamanan dengan nelayan Siddo ketika berada di laut. Keduanya menginginkan hidup harmonis seperti sedia kala.

Nelayan Siddo pun tidak akan memperpanjang masalah ini dan bersedia mencabut laporan polisi dan berjanji tidak akan meminta ganti rugi terhadap alat tangkap ikan mereka yang dirusak meski nilainya mencapai belasan juta rupiah.

Mereka hanya ingin aman saat melaut. Mereka juga berjanji akan memperhatikan zona batas tangkap ikan lebih seksama.

Sekda Barru, Abustan AB bahagia melihat pertikaian bisa mereda. Ia berharap segala bentuk konflik bisa diselesaikan lewat jalur musyawarah.

“Perlu diingat dan direnungkan, bahwa nama Barru itu disebutkan dalam Alquran, yakni Al Barru. Yang berarti kebaikan. Oleh karena itu, orang Barru semuanya orang baik,” katanya.

“Maka kami berharap selesaikanlah masalah dengan baik. Hadirkan solusi yang baik pula. Kita semua ini bersaudara. Hiduplah damai dan sejahtera. Lupakan masalah yang lalu,” pesan Abustan.

Baca Juga: Banjir di Jalur Selatang Jateng, Jangan Lewat Sini Ya?

“Setiap masalah itu selalu ada solusinya. Maka cari dan pikirkan solusi yang terbaik untuk kebaikan orang banyak,” imbuh AKBP Liliek.

Sesuai peraturan menteri kelautan nomor 71/PERMEN-KP/2016 ditetapkan batas zonasi jalur tangkap ikan dan metode tangkap bagi nelayan tradisional yakni 0 sampai 2 mil diukur dari surut terendah air laut.

Sementara bagi kapal teknologi menengah atau jenis gae, zona tangkap ikan harus berada pada jarak di atas 2 mil dari surut terendah air laut.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0