Mitos Unik Desa Ini, Warga Takut Berjualan Nasi!

Pintu gerbang Desa Penimbun di Kabupaten Kebumen

Nusantaratv.com  – Kalau kalian jalan-jalan ke daerah Kebumen untuk berwisata ke waduk Sempor, jangan lupa sempatkan mampir ke Desa Penimbun di Kecamatan Karanggayam. Saat berkunjung ke desa Penimbun, kalian akan merasakan keunikan yaitu sulit mendapatkan nasi, karena tidak ada warung yang menjual nasi di desa ini.

Desa yang hanya memiliki dua dusun, Krajan dan Prapatan ini terletak sekitar 20 km ke arah barat laut dari Kota Kebumen. Masyarakat di sini pantang untuk berjualan nasi, karena ada rumor yang telah beredar secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang mereka, bahwa jika ada yang berani melanggar pantangan tersebut akan menemui musibah. 

Meski tidak tertulis, warga di desa ini tidak ada yang berani melanggar pantangan ini. Lalu, apakah di desa ini tidak ada warung makan?

Baca Juga: Unik, Suku Ini Takut pada Polisi dan Tentara

Banyak warga desa Penimbun yang membuka usaha warung makan. Namun karena takut melanggar pantangan, tak ada satupun warung makan di desa itu yang berjualan nasi. 

Dari cerita Sekretaris Desa setempat, Simin Prayogi (36), konon ceritanya dulu ada pengelana atau musafir lewat di Desa Penimbun terus minta nasi kepada warga karena kelaparan. Namun karena tidak ada yang mau memberi, Musafir itu pun kemudian mengeluarkan kata-kata semacam kutukan.

Ilustrasi kantor kepala desa Penimbun

“Karena saat itu warga juga masih dalam keadaan susah maka tidak ada yang memberi. Kemudian Musafir itu mengeluarkan kata-kata semacam kutukan jika warga Penimbun dan anak cucunya kelak ada yang jualan nasi maka akan ada musibah di Desa sini,” ucap Simin saat ditemui di kediamannya.

Simin pun menceritakan sebuah kejadian yang pernah menimpa pada salah seorang warga desa yang mencoba melanggar pantangan tersebut. Entah hal ini karena kebetulan atau tidak, warga yang melanggar pantangan itu meninggal dunia.

“Musibahnya ya ada kejadian yang tidak wajar, intinya ada kematian. Mungkin memang takdirnya, tapi kebetulan pas ada kejadian pas dulu pernah ada yang melanggar. Makanya sampai sekarang warga sama sekali tidak berani melanggar lagi,” imbuhnya.

Baca Juga: Unik, Legenda Batu Gantung di Danau Toba

Warga yang membuka usaha warung makan, akan menyediakan lontong atau ketupat sebagai pengganti nasi. Meski lontong dan ketupat juga sama-sama dibuat dari beras, karena penyebutannya berbeda, maka hal ini diperbolehkan. 

“Kalau lontong atau kupat boleh karena namanya bukan nasi, yang dilarang itu segala nasi misal nasi rames, nasi goreng, nasi uduk, nasi singkong juga nggak boleh,” jelasnya.

Ilustrasi Jaran Kepang, salah satu kesenian desa penimbun

Menurut Sarno (51), salah satu warga yang membuka warung makan, mengaku sudah buka warung makan sejak 1997, namun warungnya tidak menjual nasi.

“Walaupun aturannya tidak tertulis, namun kami juga tidak berani melanggar. Takut nanti ada apa-apa, mending jualan yang lain aja,” tutur Sarno.

Menurut Sarno, nama Desa Penimbun awalnya bernama desa Tenimbun, yang artinya timbunan atau tumpukan batu. Namun karena warga sulit menyebut Tenimbun, maka penyebutannya pun berubah menjadi Penimbun.

Konon kabarnya, tumpukan batu itu dikumpulkan oleh seorang wali penyebar agama Islam dalam semalam karena hendak membangun masjid di desa itu.

Baca Juga: Lima Tradisi Pernikahan Unik di Indonesia

Namun karena pada saat itu, warga masih banyak yang berjudi dan sulit untuk diingatkan, wali tersebut pun urung membangun masjid dan pergi dari desa. Tumpukan batu itu hingga kini masih dapat dilihat dan dikeramatkan warga. 

“Petilasan ini namanya Panembahan Kuwu Batur yang merupakan cikal bakal desa ini. Dulu mau dibikin masjid di sini oleh salah satu wali tapi belum jadi terus wali itu ke Demak bikin masjid di sana,” ujar Sarno.

Sumber: kebumen24.com

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK