Kepala BKPM: Freeport Jadi Pengalaman Kelam Bagi Kita

Negara Belum Ikut Mengambil Bagian Secara Maksimal Ketika Freeport Indonesia Dibangun.

Tambang Freeport. (Istimewa)

Jakarta, Nusantaratv.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut PT Freeport Indonesia menjadi pengalaman kelam terkait kepemilikan negara pada saham perusahaan besar yang mengelola sumber daya alam.

Sebab, selama puluhan tahun sejak perusahaan tambang emas itu beroperasi di Tanah Air, negara hanya menggenggam 9,63 persen sahamnya.

Pemerintah baru memiliki 51,2 persen pada 2018 setelah proses divestasi yang cukup alot dengan pihak Freeport McMoran.

"Freeport itu menjadi pengalaman kelam bagi kita. Dulu tahun 1970-an ketika Freeport Indonesia dibangun, negara belum ikut mengambil bagian secara maksimal," ujarnya dalam acara MNC Group Investor Forum 2021, Rabu (3/3/2021). 

Karenanya, Bahlil menyatakan pemerintah tidak mau kejadian serupa terulang. Oleh sebab itu, dalam pengembangan industri baterai listrik, pemerintah akan melibatkan perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) untuk mewakili kepemilikan negara.

Diketahui, Kementerian BUMN akan membentuk Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk mengembangkan industri baterai listrik. Holding tersebut terdiri dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk, PT PLN (Persero), dan PT Pertamina (Persero).

Mereka nantinya akan bekerja sama dengan investor asing yang menanamkan modal pada pengembanga baterai mobil listrik. Saat ini, dua investor yang sudah berkomitmen untuk menanamkan investasinya adalah LG dengan nilai investasi mencapai US$9,8 miliar dan CATL senilai US$5,2 miliar.

"LG ini kami ikutkan adalah BUMN-BUMN kita seperti Antam, Mind ID, Pertamina dan PLN ikut bersama-sama dalam tim di LG. Jadi, mereka gabung itu, begitupun CATL. Kami ingin semuanya dapat dan harus menggandeng pengusaha nasional di daerah dan UMKM," katanya.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam. Sayangnya, Indonesia belum memiliki perusahaan milik negara yang menjadi pemain utama di kancah global pada sektor tersebut. Ironisnya, sejumlah cadangan sumber daya alam di Indonesia sudah mau habis, namun Indonesia belum bisa menciptakan hilirisasi produk sumber daya alam.

"Kita ini sering bilang bahwa negara kaya, tapi kita tidak pernah menjadi pemain-pemain utama pada barang-barang spesifik. Masa keemasan kayu kita, dulu siapa yang tidak kenal sama Indonesia, kayu log, habis sekarang, tapi tidak ada satu industri mebel yang betul-betul menjadi pemain 10 besar dunia. Kemudian kita punya masa keemasan emas, Freeport, Newmont, dan segala macam, sebentar lagi habis," terangnya.

Oleh sebab itu, Bahlil menegaskan pemerintah akan mendorong Indonesia menjadi pemain utama pada industri nikel, tidak hanya menjadi eksportir bahan mentah. Caranya, dengan memproduksi baterai kendaraan listrik yang salah satu bahan dasarnya nikel.

Terlebih, sejumlah negara maju di dunia telah mengarah kepada penggunaan kendaran listrik, sehingga diprediksi mendorong permintaannya ke depan. "Nah, nikel ini adalah satu-satunya tinggal yang menurut saya yang bisa menjadi pemain dunia, karena hampir semua negara di dunia sekarang lagi mengkampanyekan apa yang disebut dengan green energy (energi ramah lingkungan)," ucapnya.

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK