Bagi Lansia, Kemarahan Lebih Berbahaya Dibanding Kesedihan

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychology and Aging, menunjukkan kemarahan dapat menyebabkan perkembangan penyakit kronis seperti penyakit jantung, radang sendi dan kanker. Sedangkan kesedihan dapat membantu lansia menyesuaikan diri dengan tantangan.
Bagi Lansia, Kemarahan Lebih Berbahaya Dibanding Kesedihan
Usia lansia berkecenderungan mudah marah./shutterstock

Nusantaratv.com - Pernahkah Anda merasa bahwa orangtua saat lansia (lanjut usia) menjadi sensitif. Ya, mereka jadi mudah marah atau tersinggung hanya karena hal-hal sepele.

Dalam kondisi itu, kita pun terpaksa menjawab pertanyaan, apakah yang sebenarnya membuat orangtua demikian?

Ketika umur semakin bertambah dan mulai memasuki lanjut usia (lansia), bagi para lansia disarankan kesabaran lebih ditingkatkan. Kemarahan hanya akan berpotensi meningkatkan komplikasi kesehatan pada lansia dibandingkan kesedihan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychology and Aging, menunjukkan kemarahan dapat menyebabkan perkembangan penyakit kronis seperti penyakit jantung, radang sendi dan kanker. Sedangkan kesedihan dapat membantu lansia menyesuaikan diri dengan tantangan.

BACA JUGA : Viral, Usia Kepala Empat, Wajah Cantik Mirip ABG, Ini Rahasianya!

“Kesedihan dapat membantu lansia menyesuaikan diri dengan berbagai tantangan, seperti penurunan fisik dan kognitif terkait dengan usia. Ini bisa membantu mereka menerima diri dari hal-hal yang tidak lagi bisa dicapai,” ujar ketua studi Meaghan A Barlow dari Universitas Concordia, Amerika Serikat (AS) seperti dilansir The Health Site.

Dalam studinya, peneliti menganalisis data dari 226 lansia berusia 59-93 tahun dari Montreal, Kanada. Reponden dikelompokkan dalam usia dini 59-79 tahun dan usia lanjut, usia 80 tahun atau lebih.

Selama penelitian, responden mengisi kuesioner tentang seberapa marah atau sedihnya perasaan mereka. Tujuannya untuk melihat apakah kemarahan dan kesedihan berkontribusi pada peradangan, respon imun tubuh terhadap ancaman yang dirasakan, seperti infeksi atau kerusakan jaringan.

“Kami menemukan kemarahan setiap hari memiliki pengaruh pada tingkat peradangan dan penyakit kronis yang lebih tinggi dari lansia kelompok usia lanjut dan tidak terlihat untuk lansia di kelompok usia dini 59-79 tahun,” kata penulis studi Carsten Wrosch.

Para peneliti menyarankan pendidikan dan terapi dapat membantu lansia mengurangi kemarahan dengan mengendalikan emosi terkait perubahan tak terhindarkan yang menyertai proses penuaan.

Sumber: arah.com



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0