Menolak Tua Bersama Karate-Do Tako :: Nusantaratv.com

Menolak Tua Bersama Karate-Do Tako

Meski berusia 62 tahun, Mawardi mampu membelah batu koral dengan telapak tangannya
Menolak Tua Bersama Karate-Do Tako
Panen Mawardi Damanik (kedua dari kanan). (Wira Ginting)

Jakarta, Nusantaratv.com - Pria paruh baya itu nampak berkonsentrasi tinggi. Suara tarikan dan hembusan napasnya begitu kencang. Matanya melotot. Tangannya pun mengambil ancang-ancang di hadapan sebuah batu koral.

Baca juga: Ketum PB Karate-Do Tako: Mari Bantu Pemerintah Tangani Covid-19

Dialah Panen Mawardi Damanik, salah satu sensei atau pelatih karate-do tako di Jakarta Barat.

Tindak-tanduknya tadi terjadi, lantaran ia hendak bersiap membelah sebuah batu koral dengan telapak tangannya. Tak besar memang, tapi yang namanya batu, ya pasti keras.

Atraksinya itu berlangsung kala penyerahan bantuan dari Ketua Umum Pengurus Besar Karate-do Tako Indonesia Nurdin Tampubolon, kepada para atlet dan pelatih terdampak covid-19, Sabtu (2/5/2020).

Walau usianya tak muda lagi, Panen memang memiliki pengalaman meremukkan batu koral, bahkan lebih dari itu. Semua berkat latihan rutin selama puluhan tahun.

"Saya berusia 62 tahun, anak lima dan cucu tiga," ujarnya di pelataran kantor Yayasan Karate-do Tako Indonesia.

Namun, pada aksinya kali ini, Panen sempat gagal pada percobaan pertama. Meski tak berhasil, upayanya disambut tepuk tangan para hadirin.

Tak menyerah, ia pun menjajal untuk kali kedua. Panen kembali berkonsentrasi, memasang kuda-kuda, seraya mengatur napas.

Dan, brak! Bongkahan batu koral itu akhirnya pecah menjadi beberapa bagian. Sontak aksi Panen kembali menuai tepuk tangan dari mereka yang menyaksikan.

Tak berhenti, Panen pun melanjutkan aksinya. Kali ini, ia bertelanjang dada.

"Maaf bukannya tidak sopan, tapi memang begini cara kami," kata dia.

Ia kembali memasang kuda-kuda. Dia terlihat seperti berlatih pukulan atau seni dari karate-do tako. Aksi tersebut lagi-lagi diiringi tarikan dan hembusan napas yang kencang, disertai wajah memerah.

Pertunjukan Panen pun diakhiri dengan salamnya kepada Nurdin dan Sekretaris Jenderal PB Karate-do Tako Indonesia Irian Sitorus Pane.

"Saya tetap berlatih untuk menjaga kebugaran," ucap pria bergelar sarjana hukum itu.

Bukan hanya yang tua, para ahli bela diri karate-do tako juga banyak yang muda. Bahkan berjenis kelamin perempuan, yang salah satunya Alifah.

Ia berlatih karate-do tako, sejak tujuh tahun silam, tepatnya semasa SMP.

"Saya memang suka karate. Selain untuk kebugaran, bela diri untuk perempuan itu penting," ujarnya.

Ia bisa berlatih hingga akhirnya menggandrungi karate-do tako, setelah memiliki tetangga yang merupakan senpai atau anggota senior karate-do tako.

"Dia teman ayah saya," ucapnya.

Kini, bersama sang adik, Alifah rutin berlatih seminggu tiga kali di Gedung Ssarpras milik Polri, di Cipinang, Jakarta Timur. Kendati saat ini, lantaran pandemi covid-19 kegiatan tersebut urung dilakukan. Berganti dengan latihan secara mandiri di rumah masing-masing.

Selain menjaga stamina dan untuk jaga-jaga, tak ada harapan lebih dari konsistennya Alifah berlatih karate-do tako.
Ia tak bermimpi menjadi atlet karate ternama. Karena gadis berjilbab itu sadar akan keterbatasannya.

Meski begitu, waktunya berlatih karate kini semakin intens. Terlebih, semenjak dipecatnya ia dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik, akibat mewabahnya virus corona.

"Sekarang latihan untuk isi waktu luang saja," tandas pemilik sabuk cokelat itu.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1