Catatan Arkeologi, Suku Batak Indonesia dan Filipina Kemungkinan Satu Nenek Moyang

Seiring waktu keberadaan Batak di Filipina semakin terancam karena akses hutan yang dibatasi
Arfa Gandhi - Kamutau?,Jumat, 16-10-2020 19:55 WIB
Catatan Arkeologi, Suku Batak Indonesia dan Filipina Kemungkinan Satu Nenek Moyang
Suku Batak Filipina / Foto: Ist

Jakarta, Nusantaratv.comBatak, merupakan sebuah suku bangsa terbesar di Indonesia setelah Jawa dan Sunda. Suku ini cenderung lebih mudah dikenali melalui gaya bahasa dan adat budaya yang khas.

Namun, tahukah anda jika Etnis ini dikelompokkan dalam penutur bahasa Austronesia yang berasal dari Taiwan pada 2500 tahun lalu.

Bahkan, tidak banyak yang tahu, kalau suku Batak juga ditemukan di tanah kepulauan Filipina dan sama-sama memiliki nama Batak.

Mereka adalah satu dari sekitar 70 suku bangsa pribumi dari Filipina yang tinggal di bagian timur laut Pulau Palawan.

Saat ini hanya tersisa 500 populasi Suku Batak Filipina. Mereka dijuluki sebagai Tinitianes oleh para antropolog.

Menurut informasi, suku Batak di Filipina memiliki ciri fisik yang hampir sama dengan Suku Batak di Sumatera Utara, yaitu bertubuh pendek, kulit gelap dan rambut hitam.

Selama berabad-abad lamanya, mereka hidup nomaden dengan berburu dan meramu segala jenis tumbuhan di hutan. Sistem kepercayaan Suku Batak Filipina masih menganut sistem animinsme dan dinamisme.

Akan tetapi, hingga saat ini belum ada kajian ilmiah yang membuktikan Suku Batak di Sumatera Utara dan di Filipina memiliki keterkaitan satu sama lain.

Namun, diantara keduanya dapat dilihat beberapa kesamaan, salah satunya dalam adat perkawinan.

Jika melihat catatan arkeologi, ada kemungkinan antara Batak Sumatera dan Batak Filipina memiliki satu nenek moyang yang sama.

Sekitar tahun 2500 tahun lalu, penutur Austronesia bermigrasi dari daratan Taiwan menuju wilayah Indonesia dan Filipina.

Batak Sumatera mungkin lebih terbuka kepada perkembangan zaman sehingga mengalami banyak evolusi budaya dibandingkan Batak Filipina yang primitif.

Sayangnya, seiring waktu keberadaan Batak di Filipina semakin terancam karena akses hutan yang dibatasi dan invasi para imigran. Tentunya, secara perlahan, hal ini terus menghancurkan kelompok budaya Batak.

Dahulu suku Batak hidup di lembah dan pegunungan, saat ini mereka lebih dekat dengan wilayah pesisir di Pulau Palawan.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0