Batik Truntum, Ada Sentuhan Cinta di Dalamnya

Ciri khas dari batik yang banyak digemari ini adalah kain hitam yang bertabur bunga Tanjung.
Supriyanto - Kamutau?,Rabu, 14-10-2020 14:10 WIB
Batik Truntum, Ada Sentuhan Cinta di Dalamnya
Batik Truntum

Nusantaratv.comBatik Truntum adalah nama salah satu motif batik yang ada di Indonesia. Ciri khas dari batik yang banyak digemari ini adalah kain hitam yang bertabur bunga Tanjung. Kata Truntum (nruntum) artinya tumbuh bersemi, konon yang memberi nama batik ini adalah Sinuhun Paku Buwono III.

Menurut sebuah riwayat, Paku Buwono III memiliki selir yang suka membatik bernama Rara Beruk. Saking gemarnya membatik, Rara Beruk sering mencuri waktu untuk membatik. Batik Truntum yang ada sekarang ini juga salah satu buah karyanya.

Pada suatu saat, Rara melihat banyak bunga Tanjung berjatuhan di halaman kaputren. Ia pun melukis bunga-bunga Tanjung yang bertebaran di atas tanah itu di atas kain berwarna hitam. Saat sedang melukis, tanpa ia sadari Sinuhun datang menghampirinya dan bertanya apa nama motif lukisannya itu? 

Rara pun menjawab bahwa lukisannya itu belum diberi nama. Lalu Sinuhun Paku Buwono III mengusulkan nama lukisan Rara itu, Truntum, sebuah nama yang sesuai gambaran hatinya saat itu, secara harfiah Truntum (nruntum) berarti bersemi. Dan saat itu rasa cinta Paku Bowono III terhadap Rara Beruk sedang tumbuh.

Baca Juga: Gegara Pesanan Fiktif, Kedai Kopi Ini Didenda Rp4,3 Miliar

Motif batik dengan hiasan bunga itu juga memiliki arti lain yaitu, manusia tidak akan lepas dari kegelapan, namun jangan berputus asa, karena selalu ada terang dari bintang-bintang.

Peran Besar Rara Beruk

Batik Art Fashion 2018 mengambil tema “Niwasana Truntum”. (Soloevent)

Keseharian Rara Beruk ternyata tidak seperti selir-selir lainnya. Rara dikenal sebagai wanita yang cerdas dan cekatan, ia juga pandai melayani raja. Berkat keluwesannya itu, Raja pun memintanya menjadi permaisuri kedua setelah Kanjeng Ratu Hemas.

Menurut riwayat, sebagai wanita yang cerdas dan santun, Rara Beruk tidak serta merta menerima permintaan itu. Ia mau menjadi permaisuri kedua dengan syarat, kelak bayi yang lahir dari rahimnya harus diangkat menjadi putra mahkota. 

Seperti diketahui Paku Buwono telah memiliki 16 keturunan dari para selir-selirnya karena Ratu Hemas sendiri belum kunjung memberinya keturunan.

Syarat yang diajukan oleh Rara Beruk pun disetujui oleh Paku Buwono III. Setelah diangkat menjadi permaisuri, Rara Beruk bergelar Kanjeng Ratu Kencono. Dari rahimnya lahir Kanjeng Pangeran Purboyo, yang nantinya menjadi Paku Buwono IV (1788).

Saat Kasunanan Surakarta pecah menjadi dua melalui perjanjian Giyanti, peran besar Rara Beruk sangat terlihat nyata. Dalam perjanjian, kerajaan harus dibagi menjadi dua. Bukan cuma pundi-pundi emas, permata, dan pusaka, tapi kekayaan seni budaya juga harus dibagi.

Semua koleksi batik Rara pun dibawa ke keraton baru yaitu Kasultanan Yogyakarta. Rara Beruk pun membawa tradisi membatik ke lingkungan keraton. Jika dulunya membatik hanya dilakukan di luar keraton, Rara kemudian mengajari para abdi dalem.

Baca Juga: Aksi Terpuji Mahasiswa Papua Ini Patut Ditiru

Yang menarik, gaya dan motif batik tradisi baru ini tampak sangat berbeda dengan batik-batik sebelumnya. Batik-batik yang dibawa Rara Beruk ini menjadi khas Solo yang menekankan bulatan. Sementara, motif batik Yogyakarta, adalah geometri.

Nah begitu sahabat, asal muasal nama batik Truntum, ternyata ada sentuhan cinta di dalamnya. Jangan lupa membeli batik ya, batik adalah kekayaan budaya bangsa kita yang harus dijaga dan dilestarikan. Sudah punya batik Truntum belum? 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0