10 Jenis Puasa “Jawa” untuk Mengasah Spiritual

Bagi masyarakat Jawa, siapa pun yang ingin menjadi “manusia utama”, harus mau menjalankan laku tirakat dengan puasa.
Supriyanto - Kamutau?,Minggu, 04-10-2020 19:53 WIB
10 Jenis Puasa “Jawa” untuk Mengasah Spiritual
Laku semedhi untuk meraih budi yang besar, indah dan suci.

Nusantaratv.com – Laku untuk mengasah spiritualitas bagi masyarakat Jawa bukanlah hal yang baru. Bagi masyarakat Jawa, siapa pun yang ingin menjadi “manusia utama”, harus mau menjalankan laku tirakat dengan puasa

Filosofi Jawa menyatakan, puasa sebagai sarana menggembleng jiwa, raga, mempertajam rasa batin, olahrasa-pangrasa, serta menyucikan hati dan pikiran.

Dalam peradaban spiritual Jawa, seorang penghayat Kejawen biasa melakukan puasa dengan hitungan hari tertentu untuk menaikkan kemampuan spiritual metafisik mereka. Para penganut aliran ini menyebut konsep Tuhan dengan sebutan “Pangeran” atau “Gusti”.

Sejumlah laku atau ritual harus dijalankan seseorang agar bisa menggapai puncak pengalaman religius yang disebut manunggaling karsa kawulo lan karsa Gusti.

Baca Juga: Langka! Meninggal 14 Tahun Lalu, Tapi Jenazahnya Masih Utuh

Nah, untuk menyatukan diri dengan Tuhan ini jelas nggak mudah. Kamu harus mengosongkan diri dari hal-hal yang membebani jiwa seperti nafsu dan keinginan duniawi. Caranya dengan berpuasa atau melakukan tirakat, yang terbagi dalam 10 jenis.

1. Tapa Mutih
Tirakat ini sangat dikenal. Untuk melakukannya, kamu harus siap cuma minum air putih dan makan satu jenis makan tanpa garam selama 40 hari. Misalnya, air putih dan nasi putih tanpa tambahan apa-apa selama 40 hari. 

2. Tapa Ngrowot
Lelaku ini mengharuskan kamu hanya makan sayuran. Wah, kayaknya ini berat banget ya buat orang yang nggak bisa berpisah dengan nasi. Setuju nggak?

3. Tapa Pati Geni
Kamu nggak boleh makan makanan yang dimasak menggunakan api. Selain itu kamu dilarang tidur dan menghidupkan cahaya. Semua aktivitasmu dilakukan dalam gelap. Selama seharian di kamar yang dilakukan hanyalah berdoa.

4. Tapa Ngebleng
Kamu dilarang makan dan minum selama hari-hari ganjil, meliputi 7 / 13 / 19 / 21 hari. Jika pada puasa biasa durasinya hanya dari subuh sampai Magrib, puasa Ngebleg ini dilakukan selama 24 jam. 

5. Tapa kungkum
Ilustrasi Tapa Kungkum. (Phinemo)
Ilustrasi Tapa Kungkum. (Phinemo)
Caranya dengan merendam diri di sungai pertemuan arus selama 40 hari dengan bertelanjang dada. Selama melakukan Tapa Kungkum, kamu dilarang tertidur karena bisa membuat tirakat ini batal. Selain itu, tertidur juga akan membahayakan diri.

6. Tapa Ngeli
Kamu harus menghanyutkan diri di air. Ada yang mengatakan kalau pelaku tirakat ini menggunakan sampan dan membiarkan air sungai menghanyutkannya. Mungkin falsafahnya, hendaknya seseorang pasrah pada kehendak Tuhan.

7. Tapa Pendem
Kamu harus mengubur diri hingga tampak leher saja. Konon, jenis tirakat ini cukup berat karena pelaku kerap didatangi makhluk halus untuk menakut-nakutinya. Kamu juga harus memiliki fisik yang kuat agar nggak lemas.

8. Tapa Nggantung
Kamu harus menggantung di pohon dan dilarang menginjak tanah. Selain disebut tapa nggantung, ada juga yang menyebutnya tapa kalong. Semedi ini juga dipercaya meningkatkan kekuatan fisik dan melatih pernapasan.

9. Tapa Ngrame
Arti dari lelaku ini adalah tetap tenang meski di tengah hiruk-pikuk aktivitas manusia atau di keramaian. Selain itu, kamu harus siap berkorban atau menolong siapa saja dan kapan saja

10.  Tapa Brata
Ritual terakhir adalah bersemedi dengan khidmat. Tirakat ini dianggap dapat membantu memusatkan diri pada Tuhan karena banyak pantangannya. 

Baca Juga: Benarkah Racun Kalajengking Bisa Bikin Kaya?


Gimana, susah ya? Tuhan memang nggak bisa ditemui orang sembarangan kan? Oya, dalam prosesnya ada tiga hal yang harus diingat, yaitu menjalankan puasa sesuai panduan guru-guru kebatinan, mengesampingkan akal karena sebagian mengandung mistis, dan dilarang bertanya kepada guru.

Kira-kira para sahabat nusantaratv.com sanggup nggak ya?

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
1
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1