Wati Rusniah, Srikandi dari Desa Pungangan

Dibutuhkan tekad kuat dan keikhlasan yang dalam, untuk mengabdi seperti yang dilakukan Wati Rusniah.
Supriyanto - Kamutau?,Selasa, 10-11-2020 21:35 WIB
Wati Rusniah, Srikandi dari Desa Pungangan
Wati Rusniah bersama anak didiknya.

Nusantaratv.com - Pemerintah menjadikan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Upacara bendera hingga tabur bunga di makam pahlawan dan laut lepas selalu dilaksanakan untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bung Karno pernah membuat ungkapan “Jasmerah”, singkatan dari “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Bangsa yang bijak adalah bangsa yang mengenal sejarahnya.

Lalu kalau di masa kini, sosok yang bagaimanakah yang bisa disebut sebagai pahlawan? Seorang ayah mencari nafkah untuk keluarga, atau seorang guru yang dengan suka rela mendidik anak-anak muridnya dengan sabar, bisakah figur-figur ini juga disebut sebagai pahlawan?

Di bawah ini ada contoh kepahlawanan yang ditunjukkan oleh Wati Rusniah Spd, seorang Srikandi Desa Pungangan, wanita lajang kelahiran 28 Mei 1992. Wanita lajang ini dengan suka rela mengabdikan dirinya untuk menjadi tenaga pengajar sejak 2007 di sebuah Pendidikan Anak Usia Dini (Paud non Formal), Pos Paud Melati di Desa kelahirannya, Desa Pungangan Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Meski tempat mengajarnya jauh di pelosok desa di Kecamatan Doro, tak mengurangi niatnya mendidik dan mencerdaskan anak-anak usia dini. Mengajar dari jam 8 hingga 11 siang selama lima hari dalam seminggu dengan bayaran ‘Yen’.

Lho kok dibayar dengan mata uang Jepang? Bukan, bukan... Mau tau apa itu mata uang Yen? Yen ono, Yen kober, Yen turah (kalau ada, kalau sempat, kalau tersisa uangnya - yen bahasa jawa, artinya kalau -red).

Namanya juga di kampung, orang tua mau menyekolahkan anaknya saja sudah syukur. Jadi tidak kepikiran oleh Wati Rusniah untuk menarik uang SPP kepada anak didiknya. Yang penting mereka mau belajar, mau bersekolah itu sudah cukup baginya. Di samping itu, Wati masih bersyukur karena ada bantuan dari pemerintah melalui BOP dan BOSDA.

Berkat usahanya yang gigih tanpa mengenal lelah, kini Wati Rusniah telah memiliki gedung sendiri untuk mengajar.

Perjalanan menuju Lokasi saat Pertemuan Himpaudi di Desa Pungangan

Perlu diketahui juga oleh pembaca, jalan menuju lokasi mengajar Wati Rusniah pun tidak seperti yang dibayangkan, jalan berbatu, terkadang jalan tanah yang penuh liku, naik turun lembah dan masuk ke dalam hutan. 

Saat ada acara pertemuan Rapat Himpaudi (Himpunan Pendidik dan tenaga kependidikan anak usia dini), atau pun rapat-rapat yang di Kecamatan, meski jarak dari lokasi rumahnya memakan waktu hampir satu jam, Wati Rusniah tidak pernah terlambat. Ia selalu disiplin dan datang tepat waktu. 

Beberapa prestasi pernah diraihnya, dari lomba PTK tingkat Kecamatan dan Kabupaten. Saat ada workshop penguatan Kepala Sekolah di Kecamatan, dirinya selalu datang tepat waktu. Berkat kedisiplinannya ini Wati Rusniah diganjar penghargaan sebagai peserta paling disiplin.


Wati Rusniah, Srikandi dari Desa Pungangan, Mengajar Anak Usia Dini Tanpa Pamrih

Wati Rusniah, Srikandi dari Desa Pungangan, Mengajar Anak Usia Dini Tanpa Pamrih

Wati Rusniah adalah pahlawan pendidikan bagi Anak Usia Dini di kampungnya maupun di Himpaudi Kecamatan Doro. Wanita lajang ini juga menjabat sebagai sekretaris Himpaudi periode 2019-2023 di daerahnya, sebuah dusun terpencil dengan akses jalan yang harus melewati hutan belantara. 

Dia telah mengabdikan waktu, tenaga serta pikiran untuk kemajuan Anak-anak usia dini, karena memang pada waktu itu di desanya tidak ada sekolah baik Taman Kanak-kanak maupun Kelompok Bermain, dibantu dua orang temannya Wati Rusniah mendirikan Pos Paud Melati. 

Dibutuhkan tekad kuat dan keikhlasan yang dalam, untuk mengabdi seperti yang dilakukan Wati Rusniah. Kalau dari awal tujuannya mengajar hanya untuk mencari uang, bisa dipastikan pengabdian ini tidak dia jalani hingga sekarang. 

Sebuah keyakinan kuat bahwa Allah akan membalas dengan rizki yang cukup membuat Wati Rusniah tetap bertahan untuk selalu membimbing dan mengarahkan Anak Usia Dini di kampungnya tanpa pamrih. 

Semoga para pahlawan tanpa tanda jasa seperti Wati Rusniah yang telah dengan suka rela mengabdikan diri tanpa pamrih, mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, mendapat apresiasi setimpal dari Pemerintah. Semoga!

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0