Mushola Ini Berdiri Berdampingan dengan Vihara

Dengan dihias dua ekor naga di kanan kiri anak tangganya, bangunan ini membawa kehangatan dan sekaligus mencitrakan toleransi...
Supriyanto - Kamutau?,Senin, 16-11-2020 16:20 WIB
Mushola Ini Berdiri Berdampingan dengan Vihara
Vihara Hemadhiro Mettavati di Kapuk Raya, Cengkareng, Jakarta Barat

Nusantaratv.com - Jika kita datang ke Vihara Hemadhiro Mettavati, kita akan disambut dengan dua patung Yakkha (dewa) yang lagi tersenyum. Vihara yang terletak di tengah perkampungan Kapuk Raya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat ini, nampak berkilau keemasan saat diterpa sinar matahari. Keberadaannya yang kokoh menjulang tinggi, nampak harmonis di tengah warga.

Dengan dihias dua ekor naga di kanan kiri anak tangganya, bangunan ini membawa kehangatan dan sekaligus mencitrakan toleransi umat. Kalau memperhatikan ke sebelah kiri bangunan, pengunjung akan mendapati sebuah mushola bernama Yafat bin Mustofa.

Ketua Pengurus Vihara, Romo Asun Gautama menceritakan awal mula dibangunnya mushola, tidak lepas dari latar belakang Ketua Dewan Pembina Vihara, YM Banthe Khanit Sannano Mahathera. Sebelum menjadi Buddhis dan meninggalkan keduniawian, YM Banthe Khanit adalah seorang Muslim.

“Mengingat akan jasa orang tua kemudian dibangun musala. Ini juga menunjukkan kami mencintai toleransi.

Baca Juga: Banjir Kembali Genangi Beberapa Desa di Cilacap

“Di Kapuk Raya ini, kami dikelilingi lima masjid dan tiga musala. Di lingkungan mayoritas Muslim, kami menjunjung tinggi toleransi, (kami bersyukur) kami disambut baik,” kata Romo Asun beberapa waktu lalu.

Vihara sekaligus mushala baru diresmikan pada 30 Juni 2019. Proses pembangunan sendiri dilakukan sejak 2015 silam. Barangkali pengunjung merasa asing dengan gaya bangunan yang cukup unik dan berbeda, Romo Asun mengatakan gaya bangunan vihara menganut gaya bangunan Thailand, sebab para guru, majelis, maupun aliran berasal dari Sangha Thailand.

Masyarakat Kapuk Raya menyambut baik keberadaan mushala di kompleks Vihara. Setiap Jumat awal bulan, umat Islam mengadakan doa dan dzikir bersama. Meski saling berdekatan, jam ibadah keduanya tidak pernah menemui persoalan atau bentrok. Kebaktian diselenggarakan di Minggu mulai pukul 9 pagi. Untuk anak-anak sekolah Minggu di ruangan kebaktian bawah.

“Kalau ada kebaktian khusus, misal seperti tadi ada upacara pernikahan, jika ada adzan, kami setop,” imbuhnya. Selama masa pandemi, vihara menerapkan protokol kesehatan ketat dengan penggunaan ruang disinfeksi dan cek suhu badan. Selain itu, kebaktian di sini juga menerapkan protokol kesehatan dan social distancing. Dari kapasitas ruang yang muat 150 orang, selama pandemi ini dibatasi hanya untuk 50 orang.

Baca Juga: Belum Seminggu Menjabat, Presiden Negara Ini Mundur

Di Hari Toleransi Internasional yang jatuh tanggal 16 November ini, harapannya toleransi antar umat beragama di Indonesia makin kuat. Romo Asun melihat kehidupan umat beragama di Indonesia sudah baik. Namun ini perlu dipertahankan dan terus dipupuk.

“Saya atas nama vihara berharap toleransi di negara kita dipupuk terus, juga nilai-nilai dalam keberagamannya. Saat kita saling menghargai, menghormati, persatuan dan kesatuan terwujud dan bisa mewujudkan cita-cita bangsa yakni keadilan sosial untuk semua,” katanya mantap.

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0