Kak Seto: Seminggu Dibuka, Siswa di Jerman Banyak Terinfeksi Covid-19

Pembelajaran tatap muka akan dimulai pada awal tahun 2021.
Supriyanto - Kamutau?,Rabu, 02-12-2020 12:20 WIB
Kak Seto: Seminggu Dibuka, Siswa di Jerman Banyak Terinfeksi Covid-19
Seto Mulyadi, psikolog anak.

Nusantara.com - Menjelang dilakukannya pembelajaran tatap muka pada awal Januari 2021, psikolog anak Seto Mulyadi atau yang biasa disapa Kak Seto, meminta pemerintah daerah (pemda) memperhatikan kesiapannya. Mulai dari kesiapan sekolah, guru, orang tua hingga sarana dan prasarananya.

Sebelumnya diberitakan bahwa pembelajaran tatap muka akan dimulai pada awal tahun 2021. Pemerintah telah meminta kepada beberapa pihak untuk memperhatikan lima siap yakni, siap daerahnya, siap sekolah dan gurunya, siap sarana dan prasarana pendukungnya, siap orang tuanya, dan siap peserta didiknya.

“Jangan sampai kejadian seperti di Jerman, yang mana begitu sekolah dibuka, seminggu kemudian banyak dijumpai anaknya yang terinfeksi Covid-19,” katanya di Jakarta, Selasa (1/12).

Karena itu, Kak Seto pun meminta agar Pemda benar-benar memperhatikan kesiapan-kesiapan tersebut. Dia pun berharap agar pembelajaran tatap muka tidak menambah beban para tenaga medis yang menangani pasien covid-19.

Baca Juga: Kapal Rombongan Sosialisasi Pilkada KPU Raja Ampat Terbakar

Menurutnya, Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jika dilakukan dengan baik tidak berdampak buruk pada anak. Permasalahannya, selama ini PJJ dilakukan dengan memaksakan penuntasan kurikulum sehingga anak dibebani dengan banyak tugas, tambah Kak Seto.

Pembelajaran daring, idealnya sesuai dengan surat edaran yang disampaikan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, yang mana harus berisi dengan kegiatan kecakapan hidup mengenai pandemi covid-19, mulai dari mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, memakai masker, hingga berolahraga, ujarnya.

“Semua itu harus dilakukan dengan hati yang gembira,” terangnya.

Mengingat situasi yang belum normal, Kak Seto juga meminta pelaksanaan PJJ tidak menekankan pada penuntasan target kurikulum, agar secara psikis tidak berdampak buruk pada para siswa. 
 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0