Pabrik Karbon Hitam Diprediksi Tekan Impor Rp 1,5 Triliun

Pabrik Karbon Hitam di Cilegon Bakal Tekan Impor Rp 1,5 Triliun
Pabrik Karbon Hitam Diprediksi Tekan Impor Rp 1,5 Triliun
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pada peletakan batu pertama pembangunan Pabrik PT CAPS di Cilegon, Banten/ Kemenperin

Cilegon, Nusantaratv.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong tumbuhnya industri yang menghasilkan produk substitusi impor. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menarik investasi sektor tersebut, yang diharapkan bisa mengurangi defisit neraca perdagangan dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

"Nah, ini yang sekarang dilakukan oleh Cabot, mereka akan menambah produksi black carbon yang diproduksi dari fase pertama perkembangan industrinya," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Cilegon, Banten, Kamis (21/11/2019).

Diketahui, PT Cabot Indonesia (PT CI) merupakan satu-satunya produsen karbon hitam di dalam negeri, dengan total kapasitas produksi mencapai 90.000 ton per tahun. Korporasi ini akan menambah jumlah investasinya di Tanah Air sebesar Rp 1,4 triliun guna mendongkrak produksi carbon black sebanyak 80.000-90.000 ton per tahun dan masterbatch sekitar 20.000 ton per tahun.

"Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada PT. Cabot Indonesia yang akan membangun pabrik carbon black dan masterbatch di Indonesia. Kami memberi tantangan kepada Cabot Indonesia agar bisa operasional pada awal 2021," kata Menperin.

Baca Juga: Dua Perusahaan Top Korsel Ungkap Ketertarikannya Berinvestasi di Indonesia

Menperin menyampaikan, kebutuhan serat karbon hitam di industri dalam negeri saat ini masih cukup banyak, yang 70% dipasok dari luar negeri.

"Berdasarkan data yang kami terima, kebutuhan dari carbon black di dalam negeri sebesar 230 ribu ton per tahun. Dan, 70% dari kebutuhan tersebut dari berbagai macam negara, termasuk China dan India," ungkap Menperin.

Peningkatan kapasitas dari proyek ini, adalah menghasilkan carbon black lokal berkualitas tinggi yang akan digunakan untuk memenuhi permintaan konsumen Indonesia dan Asia Tenggara, yang meningkat sekitar 4-5% setiap tahunnya. Carbon black biasanya digunakan sebagai penguat pada produk ban dan produk karet lainnya. Selain itu, carbon black digunakan sebagai pigmen warna untuk plastik, cat dan tinta.

Menperin berharap, agar proses pembangunan pabrik PT CAPS dapat berjalan lancar. Sebab, dengan beroperasinya PT CAPS, Indonesia akan mampu melakukan substitusi impor carbon black sebesar 90.000 ton per tahun dengan nilai Rp 1,5 triliun per tahun.



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0