Nurdin Tampubolon: Industri Kelapa Sawit Berpotensi Hasilkan Rp 140 Triliun

Nurdin Tampubolon menghadri orasi ilmiah yang diselenggarakan pada acara Dies Natalis USU ke-67 tahun.
Nurdin Tampubolon: Industri Kelapa Sawit Berpotensi Hasilkan Rp 140 Triliun
Nurdin Tampubolon saat menjadi narasumber pada orasi ilmiah Dies Natalis USU ke-67 tahun/ Nusantaratv.com

Medan, Nusantaratv.com - Dalam kegiatan Dies Natalis Universitas Sumatera Utara (USU) ke-67 tahun, USU menggelar orasi ilmiah bersama salah satu alumni mereka yakni, Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, MM di Auditorium USU, Medan, Selasa (24/9/2019).

Dalam orasi ilmiahnya yang bertema 'Peran Kelapa Sawit Dalam Perekonomian Nasional dan Memandirikan Masyarakat Melalui Penigkatan Daya Saing di Pasar Global'. Nurdin Tampubolon mengungkapkan bahwa daya saing kelapa sawit Indonesia masih terpantau rendah. Bila dibandingkan dengan negara Malaysia yang notabennya memiliki lahan kelapa sawit jauh lebih kecil dari Indonesia, namun faktanya Malaysia justru lebih produktif.

Perlu diketahui pada tahun 2014, Indonesia merupakan negara yang memiliki luas lahan kelapa sawit terbesar di dunia dengan mencapai 7,8 juta hektar. Sedangkan negara tetangga Malaysia, hanya memiliki setengah dari yang dimiliki Indonesia, yakni 3,38 juta hektar.

Mengacu pada data presentasi Nurdin Tampubolon, produktivitas kelapa sawit Malaysia sanggup mencapai 20,49% ton per hektar per tahun. Sedangkan Indonesia hanya sanggup menorehkan 17,05% per hektar per tahun.

Baca Juga: USU untuk Kemandirian Masyarakat Jadi Tema Dies Natalis USU Ke-67 Tahun

Nurdin Tampubolon menambahakan, bila hasil produktivitas Indonesia disamakan dengan Malaysia, maka Indonesia akan mendapatkan keuntungan yang sangat fantastis.

"Apabila kita samakan produktivitas kelapa sawit Indonesia dengan Malaysia, maka Indonesia akan mendapatkan potensi pendapatan negara sebanyak 10,11 miliar dolar AS per tahun, atau sekitar Rp 140 triliun lebih," ujar Nurdin Tampubolon.

Lalu apa yang menyebabkan Indonesia belum mampu bersaing dengan pasar global. Nurdin Tampubolon memaparkan beberapa alasan, mengapa Indonesia belum dapat berkompetisi di pasar global.

"Fakta di lapangan saa ini, ada beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian untuk diperbaiki sebagai pertimbangan pemerintahan selanjutnya, antara lain perbaikan sumber daya, lingkungan bisnis, industri terkait dan pendukung, efisiensi, serta pengaruh global dalam mencapai keunggulan daya saing yang berkelanjutan," tutup Nurdi Tampubolon yang merupakan alumni Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin Universitas Sumatra Utara Tahun 1981.

Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0