Jika Tak Masukkan Sawit di Pembahasan, DPR Minta Perjanjian IEU-CEPA Tak Lanjut

Sawit dinilai sebagai komoditas yang berkontribusi besar bagi bangsa
Jika Tak Masukkan Sawit di Pembahasan, DPR Minta Perjanjian IEU-CEPA Tak Lanjut
Perkebunan kelapa sawit. (Net)

Jakarta, Nusantaratv.com - Pemerintah diminta Komisi IV DPR RI memasukkan kelapa sawit dalam perundingan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif, antara Indonesia dengan Uni Eropa (Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA). Perjanjian IEU-CEPA disarankan tak dilanjutkan, apabila soal sawit tak masuk dalam pembahasan. 

Baca juga: Ketimbang Didiskriminasi Uni Eropa, Jokowi Usul CPO Dipakai Sendiri 

"Sawit merupakan berkah bagi bangsa Indonesia. Maka dari itu, pemerintah harus memperjuangkan kelapa sawit dalam semua pembahasan perdagangan dengan negara lain, termasuk di antaranya dengan Uni Eropa ini," ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR Hasan Aminuddin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019). 

Hasan menilai, sawit merupakan komoditas strategis dan penopang perekonomian nasional. Komoditas itu juga terbukti menyumbangkan devisa yang tak sedikit kepada negara, jumlahnya mencapai ratusan triliun rupiah. Belum lagi belasan juta rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya dari sawit. 

Menurut Hasan, sawit juga bisa berperan signifikan terhadap pembangunan daerah. Banyak daerah di luar Pulau Jawa yang perekonomiannya menggeliat lantaran hadirnya perkebunan kelapa sawit.

Komoditas tersebut turut menyerap banyak tenaga kerja dengan pendidikan rendah. Atas itu, pemerintah ia minta wajib memperjuangkan komoditas sawit dalam berbagai forum internasional. 

"Termasuk di antaranya pada lanjutan perundingan IEU-CEPA ini," ucap Hasan. 

Hasan pun mendukung upaya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang menjadikan sektor sawit sebagai pembahasan prioritas dalam negosiasi IEU-CEPA. Sebab, hal tersebut sejalan dengan misi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengembangkan dan melindungi industri sawit Tanah Air. 

Senada, Wakil Ketua Komisi IV Daniel Johan, mau pemerintah tegas mengatakan kepada Uni Eropa bahwa lanjutan perundingan IEU-CEPA bisa dilanjutkan dengan syarat menyertakan komoditas kelapa sawit dalam perundingan itu.

"No sawit, no CEPA" ucapnya.

Ia juga meminta pemerintah terus melawan sikap diskriminatif Uni Eropa (UE) terhadap minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia. Mengingat dalam dokumen internal Uni Eropa (UE) mengenai Delegated Act-RED II yang bocor ke publik, UE diindikasikan akan memperlakukan minyak kedelai secara berbeda dengan CPO.

UE memasukkan minyak kedelai sebagai produk minyak nabati yang berkategori berkelanjutan, bersama minyak biji bunga matahari serta biji rapa yang diproduksi negara-negara anggota UE.

"Kami parlemen Indonesia juga meminta parlemen Eropa melihat secara objektif bahwa secara produktivitas sawit lebih produktif jika dibandingkan dengan bunga matahari (sun flower) maupun biji rapa (rapeseed)," tutur Daniel.

Ia turut memuji upaya pemerintah yang secara konsisten menjalankan program mandatori biodiesel. Program ini dimulai pada tahun 2014, yang mewajibkan penggunaan biodiesel sebanyak 10% (B10) pada setiap solar. Kebijakan ini terus berlanjut, dan pada awal Januari 2020, kebijakan bauran energi ini sudah mencapai B20.

Program yang mencampurkan minyak sawit ke dalam minyak solar ini bukan hanya mengurangi volume impor minyak solar saja, tapi juga berdampak pada munculnya ketakutan UE.

“Eropa tidak punya pilihan juga kok. Rakyat Eropa akan berteriak, karena produk minyak nabati lain sangat mahal," tutur Daniel.

Apabila UE benar-benar melarang minyak sawit masuk ke Eropa, menurut Daniel kondisi itu malahan bakal merugikan mereka sendiri. Karena selama ini industri makanan maupun minuman mereka banyak yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku. 

"Pemerintah harus berjuang agar sawit masuk dalam bagian pembahasan perundungan IEU-CEPA. Kita harus fight membela komoditas strategis nasional ini. Jangan sampai ada pengkhianat di dalam negeri," tandas anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0