Tak Lagi Gemar Berkelahi, Sekolah Rakyat Kupang Jadi Ruang Pemulihan Sosial Anak Miskin Ekstrem

Tak Lagi Gemar Berkelahi, Sekolah Rakyat Kupang Jadi Ruang Pemulihan Sosial Anak Miskin Ekstrem

Nusantaratv.com - 14 Januari 2026

Presiden Prabowo Subianto meresmikan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi, yang diselenggarakan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). (Foto: Dok/Istimewa/Setneg.go.id)
Presiden Prabowo Subianto meresmikan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi, yang diselenggarakan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). (Foto: Dok/Istimewa/Setneg.go.id)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar akademik, tetapi juga menjadi ruang pemulihan sosial dan emosional bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.

Hal ini tampak dari perubahan perilaku siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang setelah hampir enam bulan tinggal dan belajar di lingkungan berasrama.

Miguel Antonio Gusmao, Wali Asuh SRMP 19 Kupang, mengatakan sebagian besar siswa berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2, kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.

Kondisi sosial tersebut sangat memengaruhi karakter awal anak-anak saat pertama kali masuk sekolah.

"Sejak awal mereka masuk memiliki karakter yang sulit untuk dibentuk. Mereka sering emosional, suka berkelahi, suka mencaci maki temannya, suka ribut dengan suara-suara keras, teriak dengan suara keras tanpa terkontrol," ujar Mighy, sapaan akrab Miguel saat ditemui di SRMP 19, Kompleks Setra Efata, Kupang, beberapa waktu lalu. 

Dia menjelaskan, anak-anak tersebut sebelumnya tumbuh dengan keterbatasan perhatian, pola asuh yang tidak utuh, serta minim rasa aman.

Kondisi itu berdampak pada kemampuan komunikasi sosial dan pengendalian emosi. Namun, perubahan signifikan mulai terlihat setelah beberapa bulan mengikuti pendidikan dan kehidupan berasrama di Sekolah Rakyat.

Saat ini, kata Mighy, anak-anak jauh lebih tenang, lebih sopan, tidak lagi berteriak sembarangan, dan konflik antarsiswa jauh berkurang. 

"Kalau dulu di awal-awal pasti ada yang nangis, pasti saja ada yang bilang ini bully, ini bully. Tapi sekarang sudah kita minimalisir. Puji Tuhan cukup baik untuk saat ini," kata Mighy.

Wali Asuh Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Miguel Antonio Gusmao. (Foto: Istimewa)

Menurutnya, kunci perubahan tersebut terletak pada pendekatan pengasuhan berbasis kasih sayang yang diterapkan di Sekolah Rakyat. Para wali asuh diposisikan sebagai pengganti orang tua, bukan sekadar pengawas asrama.

"Kita melayani mereka dengan penuh kasih sayang, harus merasa bahwa mereka memang benar-benar anak kita. Bukan anak yang kita asuh dari orang lain, tapi memang bagian dari anak kita sendiri," ujarnya.

Selain pembinaan karakter, Sekolah Rakyat juga menghadirkan keteraturan hidup yang sebelumnya jarang dirasakan para siswa, mulai dari jadwal makan yang teratur, lingkungan yang bersih dan aman, hingga aktivitas bersama yang mendorong keberanian tampil dan berinteraksi.

"Anak-anak terus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang ada. Pada akhirnya mereka mulai berubah dan tidak takut lagi, walaupun memang masih ada satu dua yang mentalnya belum pede," tambah Mighy.

Komunikasi dengan orang tua atau wali siswa juga terus dijaga, baik melalui sambungan telepon maupun kunjungan rutin setiap akhir bulan. Dalam pertemuan tersebut, pihak sekolah menyampaikan perkembangan anak sekaligus menerima masukan dari keluarga.

Mighy menilai, Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini sulit mengakses layanan pendidikan berkualitas.

"Bagi orang-orang yang tidak mampu, jalurnya hanya satu menurut saya, lewat jalur pendidikan," ujarnya.

Dia menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas inisiatif pendirian Sekolah Rakyat yang menyasar langsung kelompok masyarakat paling rentan.

"Sebagai wali asuh dan sebagai warga negara Indonesia, saya sangat berterima kasih kepada Pak Presiden, Pak Prabowo, karena punya niat baik dan hati yang tulus untuk membangun Sekolah Rakyat. Harapan kami dengan pendidikan ini, mata rantai kemiskinan itu bisa putus," pungkasnya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close