Imlek Sudah Dekat, Yuk, Kenali Makna dan Sejarah Kue Keranjang

Orang tentu tidak akan menyangka bahwa kue keranjang memiliki banyak makna dan filosofi yang dalam

Nusantara TV - Kehadiran Imlek akan dibarengi dengan munculnya berbagai menu makanan tradisional khas Tionghoa. Dan makanan tradisional yang paling populer saat Imlek adalah Kue Keranjang.

Kue keranjang menjadi salah satu makanan paling dicari saat perayaan Imlek. Peminat kue keranjang bisa mendapatkannya di pusat-pusat perbelanjaan yang menyediakan kue keranjang.

Sebagai kudapan favorit saat Imlek, kue keranjang memiliki makna dan sejarah tersendiri.

Sebutan lain dari kue keranjang adalah Nian Gao. Arti Nian Gao secara harafiah diartikan sebagai “tahun tinggi”. Kue keranjang biasanya menjadi makanan penutup saat perayaan Tahun Baru Imlek.

Baca Juga: DPR Ingatkan ASN Tak Liburan ke Luar Kota Saat Momen Imlek

Awalnya, kue keranjang dipakai untuk persembahan dalam upacara ritual. Namun lambat laun kue ini menjadi makanan Festival Musim Semi dan dianggap sebagai makanan yang membawa keberuntungan.

Selain keberuntungan terhadap pendapatan yang lebih tinggi, juga mengenai posisi, anak-anak, dan tahun yang lebih baik. Biasanya kue keranjang dibuat dari tepung ketan, tepung terigu, garam, air, dan gula. Enak bila dikukus, digoreng, atau bahkan dimakan dingin.

Banyak orang tentu tidak akan menyangka bahwa kue keranjang memiliki banyak makna dan filosofi yang dalam, terlebih bagi orang awam yang tidak merayakan Imlek. 

Bentuknya yang bulat tak berujung, bermakna kekeluargaan, artinya keterikatan tanpa batas.

Oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.

Kemudian, tekstur yang lembut dan kenyal menggambarkan keuletan, kegigihan, serta daya juang yang tinggi.

Baca Juga: Libur Panjang Imlek, Aturan Perjalanan Diperketat

Kue ini juga punya sifat yang tahan lama. Hal ini memiliki makna penting dalam menjalin relasi yang awet dan berkualitas.

Rasa manis dari kue keranjang juga bermakna suka cita. Rasa yang bisa membahagiakan orang lain serta membagikan nilai-nilai positif bagi sesama.

Selain memiliki beberapa makna, kue yang berbentuk bulat itu juga memiliki sejarah panjang, setidaknya 1.000 tahun. Dimulai pada Awal Dinasti Liao (907-1125), pada saat itu, orang-orang memiliki kebiasaan untuk makan kue Tahun Baru pada hari pertama bulan pertama tahun lunar.

Sejak Dinasti Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1644-1911), kue keranjang menjadi cemilan rakyat biasa dan itu berlangsung hingga sekarang. Kue yang berbahan dasar tepung beras ketan ini memiliki legenda tentang asal-usul Suzhou, sekitar 2.500 tahun silam.

Pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur (722-481 SM) di Tiongkok kuno, banyak orang mengalami penderitaan akibat perang. Saat itu, Suzhou menjadi ibu kota Kerajaan Wu.

Oleh Raja Wu yang memerintah saat itu, dibangunlah dinding yang sangat kokoh untuk melindungi kota dari serangan musuh. Saat selesai pembangunannya, sang raja pun menyelenggarakan perjamuan yang dihadiri banyak orang. Berkat bangunan dinding yang kokoh itu, semua orang tidak lagi mengkhawatirkan perang, kecuali Perdana Menteri Wu Zixu. 

Baca Juga: Mengenal Perayaan dan Tradisi Imlek

Kepada rombongannya, perdana menteri pun berkata, “Perang tidak boleh dipandang enteng. Tembok yang kuat memang merupakan perlindungan yang baik, tetapi jika negara musuh mengepung kerajaan kita, tembok itu juga merupakan penghalang yang keras bagi diri kita sendiri. Jika keadaan benar-benar memburuk, ingatlah untuk gali lubang di bawah dinding.”

Beberapa tahun kemudian, setelah Wu Zixu meninggal, ucapannya pun menjadi kenyataan. Kota mereka yang sekelilingnya dilindungi oleh dinding yang kokoh itu seakan menjadi penjara bagi mereka sendiri. Waktu itu kota dikepung oleh musuh, sehingga penduduk tidak bisa keluar kota dan banyak yang mati karena kelaparan.

Para prajurit pun ingat dengan kata-kata Wu Zixu agar menggali tanah di bawah tembok kalau terjadi situasi buruk. Setelah melakukan penggalian, ternyata tembok di bawah dinding dibangun dengan batu bata khusus yang terbuat dari tepung beras ketan. Berkat beras ketan ini, banyak orang terselamatkan dari kelaparan. Batu bata ini adalah kue keranjang asli. 

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK