Ibrahim Yaacob, Orang Malaysia Yang Jazadnya Dimakamkan di Kalibata

Menjelang pertandingan perdana dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar, antara Timnas Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis...

Nusantara TV - Menjelang pertandingan perdana dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar, antara Timnas Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (5/9), ada baiknya kita mengenang salah seorang warga negara Malaysia yang pernah berjasa pada Republik ini sehingga jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Banyak yang tak tahu, ternyata jelang Indonesia Merdeka dan di awal-awal kemerdekaan, Bapak Pendiri Bangsa (The Founding Fathers) sudah bersepakat dengan tokoh-tokoh pergerakan di Malaya (kini Malaysia, Brunei dan Singapura), untuk bergabung mendirikan dan bersama-sama membuat negara Indonesia Raya.

BACA JUGA : Horee! Indonesia vs Malaysia Disiarkan Langsung Gratis!

Kesepakatan tersebut disetujui Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) usai diambil pemungutan suara. Dari 62 orang anggota BPUPKI, 39 di antaranya setuju mendirikan Indonesia Raya meliputi wilayah di atas. Kini wilayah Indonesia Raya itu berdiri negara Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Timor Leste.

Ibrahim Yacoob.(arie-widodo.blogspot.com)

“Sayangnya, saat disahkan usulan tersebut dalam bentuk Undang-undang Dasar (UUD) 1945 pada 18 Agustus 1945, ternyata tak disebutkan secara eksplisit mana saja wilayah Indonesia itu,” kata Asvi Warman Adam dalam bukunya Menguak Misteri Sejarah.

Sepuluh hari jelang disahkannya UUD 1945, Sukarno, Hatta dan Radjiman, diundang Jepang ke Vietnam menemui undangan Laksmana Terauci. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, ketiganya singgah di Taiping Perak, Malaya, dan bersua dengan Ibrahim Yaacob, warga Malaya keturunan Bugis.

Dalam perjumpaan tersebut, Ibrahim Yaacob, tokoh pergerakan Malaya, menyatakan kepada Sukarno dan Hatta, orang-orang Melayu di Malaya ingin mencapai kemerdekaan dalam kerangka Indonesia Raya. Ibrahim mengusulkan agar kemerdekaan Malaya akhir Agustus 1945.

Sukarno, tutur Asvi dalam bukunya itu, yang duduk di samping Hatta, terharu dengan semangat Ibrahim Yaacob. Ia kemudian menjabat tangan kanan Ibrahim, lalu berkata, “Mari kita ciptakan satu tanah air bagi mereka dari keturunan Indonesia,”.

Ibrahim menjawab, “Kami orang Melayu akan setia menciptakan Ibu Negeri dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka. Kami orang Melayu bertekad untuk menjadi orang Indonesia,” kata Ibrahim berapi-api.

Cita-cita Indonesia Raya kandas. Sehari usai pengesahan UUD 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekannya tanggal 17 Agustus 1945, tanpa mengikutkan Semenanjung Malaya. Banyak anggota KMM di Malaya yang kecewa. Ibrahim Yaacob lalu terbang ke Jakarta bersama istrinya, Mariatun Haji Siraj, iparnya Onan Haji Siraj dan Hasan Hanan.

Situasi di Malaya saat itu sedang chaos dan tentara Inggris sudah mendarat di sana untuk memulihkan keamanan di tanah jajahannya itu. Karena itu Presiden Soekarno meminta Yacoob tidak kembali dulu ke Malaya demi keamanan.

BACA JUGA : Tokoh-tokoh Kemerdekaan yang Kurang Dikenal

Yacoob seorang Letnan Kolonel dan Komandan Gyugun Malaya, milisi bentukan Jepang tentunya akan jadi target operasi keamanan yang digelar pasukan kolonial yang sedang euforia kemenangan perang itu. Sementara pemimpin KMM lainnya nekat kembali ke tanah airnya.

Karena situasi Semenanjung Malaya tak aman, Sukarno menyarankan Ibrahim dan rekan-rekannya ikut bergabung dalam perjuangan di Pulau Jawa guna mencapai cita-cita Indonesia Raya.

Bulan November 1955, dua tahun jelang Malaya Merdeka, terdiri dari Malaysia, Brunei dan Singapura, Tunku Abdul Rachman mengunjungi Jakarta atas undangan Sukarno. Dalam pertemuan informal, Ibrahim Yaacob dipertemukan dengan Tunku Abdul Rachman.

Sayangnya, pendirian kedua tokoh ini saling berlawanan. Tunku menginginkan Malaya bergabung dengan Commenwealth Inggris, sementara Ibrahim Yaacob menghendaki Malaya Merdeka dan bergabung dengan Indonesia dalam bingkai Indonesia Raya.

Pusara Ibrahim Yacoob (Iskandar Kamel) di Taman Makam Pahlawan Kalibata.(riauonline.com)

Akhirnya Ibrahim Yaacob menetap di Indonesia dan oleh Sukarno ditunjuk sebagai anggota MPR Sementara mewakili Provinsi Riau. Ketika Sukarno jatuh oleh Gerakan 30 September (Gestapu) 1965, Ibrahim melepaskan diri dari kegiatan politik dan berkiprah di sektor swasta.

Pada kampanye Dwikora (Dwi Komando Rakyat), Ibrahim kembali memimpin KEMAM, ikut mengatur pengiriman pasukan ke Malaya dan Borneo Utara hingga tahun 1964 diangkat sebagai Staf KOTI diperbantukan kepada Kepala Staf KOTI (Komando Operasi Tinggi) Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Hingga akhir hayatnya Ibrahim Yaacob bermukim di Jakarta, Indonesia dengan nama Iskandar Kamel Agastya dan wafat pada 8 Maret 1978. Saat ia meninggal, Ibrahim menjabat sebagai Direktur Bank Pertiwi.

Jenazah Ibrahim Yaacob dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Ia mendapatkan pangkat Letnan Kolonel purnawirawan TNI-AD, NRP 26217.

BACA JUGA : Merawat Indonesia!

Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Kepergiannya untuk selama-lamanya diikuti dengan pupusnya semangat mendirikan negara Indonesia Raya.

Sumber: riauonline.co.id

 

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK