Sempat Pikir Hoaks dan Konspirasi, Pria Ini Menyesal Usai Keluarganya Tertular Corona

Tony mengundang keluarganya makan usai lockdown
Mochammad Rizki - Health,Kamis, 30-07-2020 07:13 WIB
Sempat Pikir Hoaks dan Konspirasi, Pria Ini Menyesal Usai Keluarganya Tertular Corona
Tony Green dan keluarganya saat makan bersama. (Daily Mirror)

Austin, Nusantaratv.com - Pria di Amerika Serikat (AS) menyesal sempat menganggap virus corona sebagai hoaks dan bagian dari teori konspirasi. Penyesalan muncul setelah belasan keluarganya tertular Covid-19, bahkan di antaranya meninggal dunia. 

Hal itu terjadi setelah ia mengundang makan mereka ke rumah.

Ialah Tony Green, warga Austin, Texas,
yang kini hanya bisa meratapi tindakannya di masa lalu. 

Baca juga: Anies: Tak Pakai Masker Berarti Tak Peduli Keselamatan Orang Lain 

Awalnya, Tony mengadakan acara reuni bersama 13 anggota keluarganya yang tinggal berjauhan darinya. 

Mereka bertemu dalam rangka melepas rindu, usai sebelumnya tak bisa bertemu secara fisik karena kebijakan lockdown atau karantina. 

Tony yang mengaku sebagai pendukung Presiden AS Donald Trump, mengaku sebagai orang yang tergolong percaya jika virus corona hanya bohong semata. 

Ia pun yakin adanya teori konspirasi soal virus tersebut.

Tony mengakui ia mengikuti berbagai tindakan tak acuh terhadap Covid-19, seperti yang dilakukan Trump. Sebab ia merasa takkan terjangkit corona.

"Aku mengakui aku memilih Donald Trump pada 2016. Aku mengakui aku terlarut dalam jebakan teori konspirasi mengenai Covid-19," tulis Tony dalam blog pribadinya. 

Adapun setelah lockdown berakhir, ia mengundang orangtuanya dan orangtua istrinya guna berkunjung ke rumah mereka. 

Saudara-saudaranya yang lain juga diundangnya datang. Secara keseluruhan, ada 14 orang yang berkumpul di rumah Tony. 

Bencana pun terjadi. Usai pertemuan, satu demi satu dari mereka merasakan gejala seperti tertular corona. 

Termasuk Tony sendiri. Ia akhirnya menjalani perawatan tiga hari di Medical City Dallas positif Covid-19.

Puncaknya, salah seorang keluarganya yang berusia 68 tahun, tutup usia akibat virus. Sedang ayah mertuanya, Rafael Ceja, kini menjalani perawatan di rumah sakit.

Ibu mertuanya, Marissa sempat menelepon Tony dengan histeris. Ia mengabarkan kepada Tony jika ayah mertuanya dirawat dengan kondisi memakai alat bantu pernapasan.

Atas itu, Tony pun merasa bersalah. 

"Semua orang meyakinkanku bahwa itu bukan salahku, tapi itu terjadi di rumahku. Aku merasa aku lah penggagasnya dan walaupun kami tidak tahu siapa yang terkena, itu menyebar karena akulah yang memiliki ide untuk berkumpul bersama," tandas Tony. (The Sun/KDFI) 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0