Hati-hati, Tak Bisa Kentut Bisa Sebabkan Kematian

Orang bisa mengalami kematian hanya gara-gara tidak bisa mengeluarkan gas dari dalam tubuhnya.
Supriyanto - Health,Rabu, 05-08-2020 18:00 WIB
Hati-hati, Tak Bisa Kentut Bisa Sebabkan Kematian
Dalam frekuensi normal, kentut merupakan hal yang sehat dan wajar./suratkabar.id

Nusantaratv.com - Banyak orang merasa malu kalau ketahuan kentut, karena sudah menjadi budaya di kita bahwa mengeluarkan kentut atau gas dinilai salah dari sisi etika dan kesopanan. Padahal aktivitas kentut sangatlah penting bagi kesehatan tubuh manusia. Orang bisa mengalami kematian hanya gara-gara tidak bisa mengeluarkan gas dari dalam tubuhnya.

Dalam frekuensi normal, kentut merupakan hal yang sehat dan wajar karena menandakan sistem pencernaan, terutama gerakan peristaltik usus hingga anus berjalan normal.

Terkecuali bila frekuensi kentut berlebih, hal itu menandakan ada gangguan dalam perut. Namun yang lebih berbahaya apabila kita tidak dapat mengeluarkan kentut dari dalam tubuh atau tidak dapat mengeluarkan gas.

Baca Juga: Ingin Jadi Paskibraka Nasional? Ini Tahapannya

Kegiatan tubuh tidak dapat mengeluarkan gas disebabkan kondisi peritonitis. Peritonitis adalah peradangan (iritasi) dari peritoneum, yaitu jaringan tipis yang melapisi dinding bagian dalam perut dan mencakup sebagian besar organ perut.

Dilansir dari Medlineplus, gejala dari peritonitis secara umum dapat disebutkan sebagai berikut:

  • Perut (abdomen) sangat sakit, kembung dan kadang lembek. Rasa sakit akan semakin memburuk ketika perut disentuh atau bergerak.
  • Ketidakmampuan mengeluarkan gas atau kentut dari tubuh
  • Demam dan menggigil
  • Terdapat cairan di perut
  • Susah buang air besar
  • Kelelahan berlebihan
  • Hanya sedikit buang air kecil
  • Mual dan muntah

Peritonitis dapat mengancam kehidupan dan dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang berbeda. Ada tiga jenis peritonitis, yaitu sebagai berikut:

1. Peritonitis spontan
Peritonitis spontan biasanya disebabkan oleh infeksi ascitesascites, yaitu pengumpulan cairan dalam rongga peritoneal. Hal ini biasanya terjadi karena gagal hati atau ginjal.

Faktor risiko meliputi penderita penyakit hati termasuk orang yang mengosumsi alkohol berlebihan dan penyakit lainnya yang mengarah ke sirosis, seperti virus hepatitis kronis (hepatitis B atau hepatitis C).

2. Peritonitis sekunder
Peritonitis sekunder memiliki beberapa penyebab utama, salah satunya karena bakteri. Bakteri dapat memasuki peritoneum melalui lubang (perforasi) pada saluran pencernaan. Lubang tersebut dapat disebabkan oleh usus buntu yang pecah, radang lambung, perforasi usus, atau luka, seperti luka tembak atau pisau.

Peritonitis sekunder juga dapat terjadi jika empedu atau bahan kimia yang dilepaskan oleh pankreas (enzim pankreas) bocor ke selaput rongga perut.

Kontaminan asing juga dapat menyebabkan peritonitis sekunder jika masuk ke dalam rongga peritoneal. Hal ini dapat terjadi selama penggunaan kateter dialisis peritoneal atau tabung makan.

3. Peritonitis dialisis
Peritonitis dialisis adalah peradangan pada selaput rongga perut (peritoneum) yang terjadi ketika seseorang menerima dialisis peritoneal, yang disebabkan oleh bakteri yang masuk ke wilayah tersebut pada prosedur dialisis. Bakteri kulit atau jamur dapat menyebabkan infeksi.

Baca Juga: Ini Beberapa Anak Muda Yang Mengharumkan Indonesia di Dunia Internasional

Penyebab peritonitis harus diidentifikasi dan segera diobati. Bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segeralah menghubungi dokter atau rumah sakit, karena kondisi ini bisa sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Pengobatan biasanya melibatkan operasi dan antibiotik. 

Sumber: Health.detik.com

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0