Hadi Pranoto: Biaya Tes Covid-19 Harusnya Tak Lebih dari Rp 10-20 Ribu

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah menetapkan batas atas tarif tes virus Corona maksimal Rp 150.000.
Supriyanto - Health,Senin, 03-08-2020 21:39 WIB
Hadi Pranoto: Biaya Tes Covid-19 Harusnya Tak Lebih dari Rp 10-20 Ribu
Hadi Pranoto./gencilnews.com

Nusantaratv.com - Nama Hadi Pranoto ramai diperbincangkan setelah videonya bersama penyanyi Anji viral di media sosial. Dalam video itu Hadi Pranoto menyebut biaya tes Covid-19 seharusnya tak lebih dari Rp 10-20 ribu.

“Ada swab lebih efektif dengan digital teknologi bisa 10-20 ribu. Bisa terdeteksi dengan digital teknologi. Itu kita bisa dengan hanya ambil air liur saja tak perlu lendir dari hidung atau mulut,” kata Hadi dikutip dari siaran YouTube kanal dunia MANJI, Minggu (2/8/2020).

Menurut Hadi, teknologi itu lebih murah untuk menentukan seseorang terinfeksi virus corona atau tidak. Sayangnya Hadi tidak menyebut teknologi yang dimaksudkan.

Baca Juga:Sambiloto, Pahit Rasanya, Manis Hasilnya

Lebih lanjut Hadi menjelaskan bahwa swab tes, tidak harus selalu menggunakan lendir yang diambil dari hidung atau mulut pasien. Karena tindakan itu bisa menimbulkan rasa sakit pada pasien.

“Jadi tidak harus mencolokan ke hitung ambil lendir. Karena dalam tubuh kita, semua gampang ter-detect. Keringat bisa, air liur bisa, jadi tidak perlu ambil lendir di dalam hidung dan dengan harga fantastis,” katanya.

Selain itu Hadi mengatakan bahwa rapid test dan swab belum bisa dijadikan rujukan untuk menyatakan bahwa seseorang sehat atau terkena virus corona. Untuk memastikan seseorang terinveksi virus corona atau tidak, yang akurat melalui uji laboratorium menggunakan DNA.

“Itu akan ketahuan orang terinfeksi atau tidak. Karena covid telah menyerang pada beberapa organ terutama pada paru, otak, dan lambung. Jadi ada mutan sekian banyak sehingga pola kerja banyak,” ujarnya

Penjelasan Biaya Rapid Test Virus Corona

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah menetapkan batas atas tarif tes virus Corona maksimal Rp 150.000. Menurut Kemenkes, penetapan harga itu berdasarkan hitungan sejumlah komponen yang diperlukan untuk pemeriksaan cepat antibodi virus corona.

“Kami menghitung dari alat rapid test semua sampai ke spec-nya, sampai APD yang dipakai petugas kesehatan, jasa layanan. Kemudian kalau memang harus dibaca oleh dokter spesialis. Kita hitung secara wajar saja. Kita ambil range tengah-tengah,” kata Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes dr. Tri Hesty Widyaatoeti, Sp. M, MPH.

Menurut Hesty, alat rapid test antibodi dijual dengan bermacam harga di pasaran. Paling murah ada yang dijual dengan harga di bawah Rp 100 ribu. Namun diakuinya, Kemenkes tidak mengetahui jenis alat rapid tes antibodi yang paling banyak digunakan di rumah sakit yang menyediakan layanan.

“Ada yang di bawah Rp 100 ribu, tapi ada juga di atas Rp 200 ribu. Masyarakat dibikin bingung, kualitasnya seperti apa. Secara spesifik kita gak tahu. Ini juga permintaan masyarakat sendiri. Karena sudah banyak protes, kenapa nggak ditetapkan harganya,” tutur Hesty.

Sementara itu, Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) Lia G Partakusuma membenarkan bahwa harga rapid test antibodi yang ditetapkan RS terdiri dari berbagai komponen.

Selain yang telah disebutkan dokter Hesty, kata Lia, harga rapid test juga ditentukan oleh sejumlah bahan kimia dan alat medis yang digunakan.

“Pertama harga reagennya sendiri. Kedua kalau kita memanfaatkan reagen, ini tentu harus ada jarum suntik. Kalau sekarang paling banyak pakai serum karena dianggap sensitifitasnya lebih tinggi kalau diambil di ujung jari. Kemudian ada alkohol kapasnya, ada orang yang pakai alat pelindung diri. Jadi harga ini terdiri dari berbagai macam komponen,” tutupnya.

Sumber: suara.com

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0