BSN Terbitkan SNI untuk Masker Kain, Ini Ketentuannya

Masker Kain yang Berlaku Terdiri Dari Minimal Dua Lapis Kain.
Adiantoro - Health,Rabu, 23-09-2020 15:25 WIB
BSN Terbitkan SNI untuk Masker Kain, Ini Ketentuannya
Ilustrasi. (Business Insider)

Jakarta, Nusantaratv.com - Guna menghentikan penyebaran virus corona (COVID-19), penggunaan masker direkomendasikan bahkan diwajibkan di berbagai tempat.

Diketahui, di pasaran, banyak terdapat jenis masker yang bisa digunakan masyarakat, mulai dari masker kain hingga masker bedah.

Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Nasrudin Irawan, mengatakan masker kain yang beredar di pasaran saat ini ada yang terdiri dari satu lapis, dua lapis dan tiga lapis.

Contoh masker kain satu lapis yang banyak beredar adalah masker scuba atau buff. Namun, beberapa waktu lalu, pemerintah mengimbau masyarakat tidak mengenakan masker scuba atau pun buff. Alasannya, kedua jenis masker tersebut dinilai kurang efektif mencegah percikan saluran nafas (droplet) untuk menangkal COVID-19 karena dianggap terlalu tipis.

Sedangkan sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia), masker kain yang berlaku terdiri dari minimal dua lapis kain. Untuk itu, BSN (Badan Standardisasi Nasional) menetapkan SNI 8914:2020 Tekstil - Masker dari kain, dengan memenuhi syarat minimal dua lapis kain.

SNI 8914:2020 menetapkan persyaratan mutu masker yang terbuat dari kain tenun dan/atau kain rajut dari berbagai jenis serat, minimal terdiri dari dua lapis kain dan dapat dicuci beberapa kali (washable) - ujar Nasrudin, dalam keterangan tertulis di laman bsn.go.id, Rabu (23/9/2020).

Baca Juga: Siap-siap! Tim TNI-Polri Ini Keliling Cari Warga Tak Bermasker

Kendati demikian, Nasrudin mengungkapkan, dalam ruang lingkup SNI tersebut, terdapat pengecualian, yakni standar tidak berlaku untuk masker dari kain non woven (nirtenun) dan masker untuk bayi. Standar tersebut juga tidak dimaksudkan untuk mengatasi semua masalah yang terkait dengan keselamatan, kesehatan dan kelestarian lingkungan dalam penggunaannya.

Selain itu, pemilihan bahan untuk masker kain juga perlu diperhatikan. Sebab, filtrasi dan kemampuan bernafas bervariasi tergantung pada jenis bahan. Efisiensi filtrasi tergantung pada kerapatan kain, jenis serat dan anyaman. Filtrasi pada masker dari kain berdasarkan penelitian adalah antara 0,7 persen sampai dengan 60 persen. Semakin banyak lapisan maka akan semakin tinggi efisiensi filtrasi.

Dalam SNI 8914:2020, masker kain dibagi ke dalam tiga tipe, yakni tipe A masker kain untuk penggunaan umum, tipe B untuk penggunaan filtrasi bakteri, dan tipe C untuk filtrasi partikel. Sedangkan untuk pengujian yang dilakukan, di antaranya uji daya tembus udara dilakukan sesuai SNI 7648, uji daya serap dilakukan sesuai SNI 0279, uji tahan luntur warna terhadap pencucian, keringat, dan ludah, serta pengujian zat warna azo karsinogen, serta aktivitas antibakteri.

Nasrudin menambahkan, masker dari kain ini dikemas per satuan dengan cara dilipat atau dibungkus dengan plastik. Terkait penandaan pada kemasan masker dari kain sekurang-kurangnya harus mencantumkan merek pada kemasan, negara pembuat, jenis serat setiap lapisan, anti bakteri, tahan air, pencantuman label 'cuci sebelum dipakai' petunjuk pencucian, serta tipe masker dari kain.

Meski bisa dicuci dan dipakai kembali, namun Nasrudin mengungkapkan, masker kain sebaiknya tidak dipakai lebih dari 4 jam.

Masker kain tidak seefektif masker medis dalam menyaring partikel, virus dan bakteri - tukas Nasrudin.
 

Reaksi Kamu dengan Artikel ini

like
0
love
0
funny
0
angry
1
sad
0
wow
0