Terapi Lintah dan Efek Sampingnya

Pengobatan alternatif dengan menggunakan lintah telah dikenal lama oleh masyarakat. Terapi pengobatan dengan menggunakan lintah ini telah dikenal oleh orang Mesir Kuno, India, Arab dan Yunani. Mereka menggunakan lintah sebagai pengobatan alternatif untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Terapi Lintah dan Efek Sampingnya
Kenali Terapi Lintah dan Efek Sampingnya Ilustrasi lintah (hellosehat.com)

Nusantaratv.com - Pengobatan alternatif dengan menggunakan lintah telah dikenal lama oleh masyarakat. Terapi pengobatan dengan menggunakan lintah ini telah dikenal oleh orang Mesir Kuno, India, Arab dan Yunani. Mereka menggunakan lintah sebagai pengobatan alternatif untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Mengutip Healthline, lintah dipercaya dapat mengobati kelainan sistem saraf, masalah pada gigi, penyakit kulit, dan infeksi. Khasiat lintah ditemukan dalam peptida dan protein yang ada di dalamnya. Kedua zat itu mampu mencegah pembekuan darah.

Terapi ini juga populer untuk penggunaan kosmetik. Lintah akan menjaga jaringan lunak dan membantu penyembuhan selepas operasi plastik pada wajah.

Lintah memiliki tiga rahang dengan gigi-gigi kecil. Melalui giginya, lintah menusuk kulit manusia dan memasukkan antikoagulan melalui air liurnya. Antikoagulan merupakan zat yang menghambat pembekuan darah.

Air liur lintah diketahui memiliki kandungan zat hirudin untuk mengencerkan darah. Zat digunakan untuk menyembuhkan hipertensi, wasir, masalah kulit, dan radang sendi. Sifat antiinflamasi pada air liur dapat mengurangi rasa sakit pada sendi.

Umumnya lintah dibiarkan menempel di area target selama 20-45 menit untuk menghisap darah manusia.

Namun, gigitan lintah juga akan meninggalkan luka kecil berbentuk Y. Luka akan hilang dengan sendirinya tanpa meninggalkan bekas.

Namun, di balik manfaatnya sebagai pengobatan alternatif, terapi lintah juga memiliki risiko efek samping. Mengutip situs RnCeus, berikut beberapa masalah kesehatan yang mungkin timbul akibat terapi lintah.

1. Infeksi
Sebanyak 2,4-20 persen tindakan terapi lintah berujung pada infeksi. Aeromonas hydrophila adalah bakteri yang terkait dengan infeksi. Beberapa infeksi berupa septikimia (keracunan darah), selulitis (infeksi pada kulit), dan meningitis.

Diyakini bahwa infeksi terjadi saat lintah secara tidak sengaja memuntahkan isi usus ke dalam luka. Umumnya, hal ini terjadi akibat kebiasaan terapis saat menempelkan lintah ke kulit pasien dengan tangan. Saat jari terlalu kuat memegang lintah, tak menutup kemungkinan hewan vertebrata itu akan memuntahkan isi ususnya.

2. Anemia
Terapi lintah mungkin akan mengurangi jumlah pasokan darah dalam tubuh. Lintah berukuran besar dapat mengekstraksi darah sebanyak 15 mililiter. Akibatnya, 50 persen pasien akan memerlukan transfusi darah untuk menggantikan sel darah merah.
 

3. Reaksi alergi
Reaksi alergi umumnya berupa rasa gatal ringan di area target. Lintah yang biasa digunakan sebagai obat umumnya lebih sedikit menimbulkan reaksi daripada lintah jenis lain. Namun, reaksi alergi tetap mungkin terjadi.

Reaksi bisa berupa bercak merah dan gatal pada bagian kulit di area target. Seseorang juga akan mengalami pusing dan kesulitan bernapas.

Meski jarang terjadi, namun reaksi alergi parah harus mendapatkan perhatian sesegera mungkin.(cnnindonesia.com)



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0