Gaya Hidup Sehat Vegatarian Semakin diminati? Ini Rahasianya

Belakangan Ini, Gaya Hidup Sehat Ala Vegetarian Semakin Diminati.
Gaya Hidup Sehat Vegatarian Semakin diminati? Ini Rahasianya
Saat ini mulai banyak orang yang mengurangi konsumsi produk hewani, dan beralih untuk menyantap makanan berbahan dasar tumbuhan seperti sayuran, buah-buahan, dan gandum.

Jakarta, Nusantaratv.com - Belakangan ini, gaya hidup sehat ala vegetarian semakin diminati. Mulai banyak orang yang mengurangi konsumsi produk hewani, dan beralih untuk menyantap makanan berbahan dasar tumbuhan seperti sayuran, buah-buahan, dan gandum. Tren vegetarian dan veganisme tersebut bahkan tak hanya terjadi di wilayah Amerika Serikat atau Eropa saja, melainkan juga telah merambah ke kawasan Asia.

Di Hong Kong, sebanyak 22 persen dari total penduduknya dilaporkan telah menerapkan pola makan berbasis tanaman. Sedangkan di Australia, jumlah produsen makanan yang meluncurkan produk vegan diklaim meningkat hingga 92 persen, menjadikannya sebagai pasar vegan yang paling cepat perkembangannya nomor tiga di dunia.

Pola hidup vegetarian atau vegan tak hanya diklaim mampu meningkatkan kualitas kesehatan bagi mereka yang menerapkannya, namun juga memberi dampak bagi lingkungan. Kira-kira apa yang akan terjadi bila seluruh orang di dunia adalah seorang vegetarian atau vegan?

Kualitas Kesehatan Meningkat
Mengutip dari BBC, bila setiap orang menjadi vegetarian maka pada tahun 2050, angka kematian global akan menurun sebesar enam sampai sepuluh persen. Hal tersebut dikarenakan adanya pengurangan penyakit jantung koroner, diabetes, stroke, dan beberapa jenis kanker. Pola makan vegan di seluruh dunia akan mencegah sekitar tujuh juta kematian per tahun, bahkan menjadi delapan juta lebih rendah bila yang dianut adalah gaya hidup vegan.

Namun, dampak ini mungkin hanya akan terjadi di negara maju saja. sedangkan di negara berkembang, akan ada dampak-dampak negatif yang mungkin terjadi, mengingat angka kemiskinan yang masih cukup tinggi.

Hai
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal resmi Akademi Sains Amerika Serikat menyebutkan, bahwa salah satu penyumbang faktor terbesar dalam terjadinya global warming adalah produksi gas yang menyebabkan efek rumah kaca. Emisi gas rumah kaca juga berasal dari produk makanan yang kita santap, terutama yang memerlukan pengolahan secara kompleks.

Proses pengolahan makanan itu disebut-sebut menyumbang seperempat hingga sepetiga dari semua emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. Dengan beralihnya semua orang menjadi vegetarian ataupun vegan, jumlah emisi gas yang berhubungan dengan produksi makanan akan turun drastis hingga 70 persen di tahun 2050.

Perbaikan Lingkungan Hidup
Setidaknya, ada 80 persen lahan lapangan yang bisa kembali menjadi hutan dan padang rumput bila kita semua beralih menjadi vegetarian. Namun, bukan berarti peternakan harus dimusnahkan begitu saja. Beberapa jenis hewan seperti domba tetap harus dikembang biakkan, karena dapat membantu membentuk tanah saat sedang digembala. Selain itu, tak semua hewan ternak bisa dikembalikan begitu saja ke alam bebas. Misalnya saja ayam yang tak mungkin bisa bertahan hidup di hutan karena habitatnya sudah berbeda, sehingga tetap harus dikembang biakkan di peternakan.

Menyebabkan Krisis Bagi Petani
Peralihan dari beternak menjadi bertani atau berkebun, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi, tak semua negara memiliki iklim dan karakteristik tanah yang subur dan bisa digunakan untuk bercocok tanam, misalnya saja wilayah gurun Sahara. Selain itu, sekelompok orang yang terbiasa hidup berpindah-pindah (nomaden) dan terbiasa beternak di wilayah tersebut terpaksa harus tinggal di satu tempat secara permanen dan kehilangan identitasnya bila daging tak lagi dikonsumsi. (fit)



Reaksi Kamu

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0