Filosofi Ketupat, Hidangan Primadona di Hari Lebaran

Dikemas dengan menggunakan daun kelapa (janur), disajikan bersama dengan masakan lain seperti opor ayam, rendang atau pun gulai, ketupat menjadi makanan primadona...

Ketupat

Nusantaratv.com - Menyantap ketupat dapat dilakukan kapan pun pada hari-hari di luar Lebaran. Namun akan menjadi beda kalau kita menyantap ketupat di hari Raya Idul Fitri. Dikemas dengan menggunakan daun kelapa (janur), disajikan bersama dengan masakan lain seperti opor ayam, rendang atau pun gulai, ketupat menjadi hidangan primadona di hari lebaran yang selalu dirindukan.

Ketupat menjadi bagian dari budaya kuliner Nusantara. Biasanya, tak hanya disajikan pada 1 Syawal, ketupat juga disajikan seminggu setelah Hari Raya Idul fitri. Tradisi menyajikan ketupat di hari kedelapan bulan Syawal ini disebut dengan lebaran ketupat.

Kalau ditinjau dari segi budaya, Ketupat tak hanya sekedar makanan yang hadir untuk memeriahkan hari raya idulfitri. Kehadiran ketupat di hari raya idul fitri memiliki filosi yang penuh arti dari sebuah budaya dan tradisi Nusantara.

Baca Juga: https://www.nusantaratv.com/tradisi-yang-biasa-dilakukan-di-hari-raya-idul-fitri

Kehadiran ketupat rupanya ada kaitannya dengan penyebaran Islam di Indonesia. Dikutip dari Liputan6.com, berikut beberapa filosofi ketupat lebaran yang cukup menarik untuk diketahui.

Asal mula ketupat

Ketupat sebenarnya sudah ada sejak zaman Hindu-Budha di Jawa. Pada tahun 1600-an, di mana Islam mulai menyebar di tanah Jawa, ketupat diperkenalkan dengan filosofi bermakna. Sosok yang memperkenalkan filosofi ketupat adalah Raden Mas Sahid atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijaga.

Ketupat

Pada masa ini, Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai makanan dengan filosofi khas lebaran. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ketupat menjadi simbol perayaan hari raya Idul fitri pada masa kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Filosofi ketupat

Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya adalah mengakui kesalahan. Ngaku lepat diimplementasikan dalam bentuk sungkeman di hadapan orang tua. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun. Ngaku lepat juga berarti saling mengakui dan memaafkan kesalahan satu sama lain.

Sedangkan laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan lebaran. Empat tindakan tersebut adalah lebar, luber, lebur, dan labur. Lebar artinya seseorang akan bisa terlepas dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber dari pahala, keberkahan, dan rahmat Allah SWT. Sementara labur artinya bersih.

Baca Juga: Pandemi, Istiqlal Kembali Tak Selenggarakan Sholat Idul Fitri

Makna tiap elemen ketupat

Tiap elemen dalam ketupat memiliki filosofinya sendiri. Berikut filosofi ketupat dari makna tiap elemennya:

Janur

Janur atau daun kelapa muda menjadi pembungkus dari ketupat. Janur menurut filosofi Jawa merupakan kepanjangan dari sejatine nur. Artinya manusia berada dalam kondisi suci setelah berpuasa Ramadan. Dalam budaya Jawa, janur juga dipercaya sebagai tolak bala.

Bentuk dan anyaman ketupat

Anyaman ketupat memiliki detail rumit. Artinya, hidup manusia juga penuh dengan lika-liku, pasti ada kesalahan di dalamnya. Anyaman pada ketupat diharapkan memberikan penguatan satu sama lain antara jasmani dan rohani.

Ketupat

Bentuk segi empat pada ketupat juga melambangkan keempat nafsu dunia yaitu, amarah, rasa lapar, rasa ingin memiliki sesuatu yang indah, dan rasa ingin memaksakan diri. Orang yang memakan ketupat diibaratkan telah mampu mengendalikan keempat nafsu tersebut selama berpuasa.

Selain itu, bentuk segi empat dari ketupat mempunyai makna kiblat papat lima pancer yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat yaitu arah jalan hidup manusia dimana pusatnya adalah Allah SWT.

Isi ketupat

Butiran beras yang dibungkus dalam janur merupakan simbol kebersamaan dan kemakmuran. Ketika ketupat dibelah, warna putihnya melambangkan kebersihan setelah bermaaf-maafan.

Hidangan pendamping

Ketupat biasanya disantap bersama hidangan pendamping berbahan santan seperti opor, rendang, atau gulai. Santan atau santen memiliki filosofi Jawa yaitu pangapunten atau memohon maaf. Dengan demikian, ketupat memiliki filosofi mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan.

Baca Juga: Bagaimana Astronout Shalat dan Berpuasa di Luar Angkasa?

Lebaran ketupat

Tak hanya disajikan di Hari Raya Idul Fitri, ketupat juga disajikan tujuh hari setelah Hari Raya, tepatnya di 8 Syawal. Tradisi lebaran ketupat ini juga diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Pada lebaran ketupat, masyarakat menghidangkan ketupat dan makanan pendampingnya untuk disantap bersama keluarga dan kerabat.

Lebaran ketupat dilaksanakan tiap 8 Syawal di mana sebelumnya umat Islam melakukan puasa Syawal pada tanggal 2-7 Syawal. Perayaan tradisi lebaran ketupat ini dilambangkan sebagai simbol kebersamaan dengan memasak ketupat dan mengantarkannya kepada sanak kerabat.

like
dislike
love
funny
angry
sad
wow
Login dengan
LIVE TV & NETWORK