Ini Cara Atasi Depresi Anak Akibat Perpisahan Orang Tua

Jadi apa yang dapat dilakukan orangtua untuk membuat perpisahan menjadi lebih mudah bagi anak-anak?
Ini Cara Atasi Depresi  Anak Akibat Perpisahan Orang Tua
Ilustrasi (foto: shuterstock)

Jakarta, Nusantaratv.com - Perpisahan tidak seharusnya jadi malapetaka tanpa ujung bagi anak jika saja para orang dewasa yang terlibat tetap mengingat satu hal: mereka tetaplah orangtua.

Psikolog perkembangan Harald Werneck dengan jelas mengingat seorang anak berusia 12 tahun yang tidak mau memakan makan siangnya di sekolah. Padahal bekal makan siang itu telah dibungkus sang ayah untuknya.

Akibatnya, ayah anak itu sangat marah pada bocah tersebut, sehingga ia menceraikan ibu sang bocah dan pergi - atau setidaknya, itulah yang dipikirkan bocah itu dalam benaknya.

Anak-anak memiliki perspektif tersendiri tentang perpisahan orangtua mereka. Mereka menarik kesimpulan yang mungkin tampak tidak masuk akal bagi orang dewasa, namun sangat masuk akal di mata anak tersebut. Dan kesalahan penafsiran ini terus melekat di benak mereka.

Jadi apa yang dapat dilakukan orangtua untuk membuat perpisahan menjadi lebih mudah bagi anak-anak? Hal apa saja yang tidak boleh dilakukan, tidak peduli seberapa marah, sedih atau sakit hati para orangtua jika hubungan mereka berantakan?

Corinna, bocah berusia sembilan tahun mengatakan, dia menikmati "pagi yang cukup teratur" sampai suatu saat sang ibu memintanya datang ke ruang tamu. Di situlah dia diberi tahu bahwa ayahnya akan pergi. Hari itu juga.

Corinna mengatakan kalau dia kalut, takut, dan dia tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Namun bukankah ini normal dialami anak-anak yang orangtuanya berpisah? Bukankah itu selalu merupakan pengalaman yang buruk?

"Tidak," ujar psikolog dan terapis keluarga Beatrice Wypych. "Jika orangtua sudah sering bertengkar ketika masih bersama, perpisahan sebenarnya dapat membuat segalanya jadi lebih santai," katanya kepada DW.

Para orangtua yang terus-menerus bertengkar satu sama lain akan meracuni suasana di rumah, kata Wypych. Mereka begitu sibuk dengan kondisi mereka sendiri sehingga pada dasarnya melupakan anak-anak mereka.

Setelah hubungan itu berakhir dan konflik yang sudah berlangsung lama juga usai, para ibu dan ayah bisa fokus lagi kepada anak-anak mereka.

Namun banyak anak tidak mendapatkan informasi latar belakang yang cukup. Mereka memang bisa merasakan ketegangan atau permusuhan di antara orangtua mereka, tetapi tidak mengerti sumbernya.

"Jika Anda tidak berkomunikasi dengan anak-anak Anda," kata Wypych, "mereka dibiarkan sendiri dengan perasaan mereka dan mencoba untuk memahami hal itu sendiri."

Anica., sekarang berusia 28 tahun, orangtuanya juga sering bertengkar sebelum berpisah. "Ibuku selalu sedih," katanya. "Dan sebagai seorang anak, kamu pikir kaulah yang harus disalahkan atas (keadaan) itu."

Bagi psikolog Werneck, asumsi anak kecil seperti ini tidaklah mengejutkan. "Terutama pada usia prasekolah, anak-anak berpikir sangat egosentris," ujarnya. "Mereka percaya bahwa mereka telah sedikit banyak berkontribusi pada semua yang terjadi di dunia."

Banyak orangtua, lanjutnya, lupa memberi tahu anak-anak bahwa mereka tidak dapat disalahkan atas kegagalan hubungan orang tuanya.

Corinna yang berusia sembilan tahun mengatakan, dia tidak pernah menyalahkan diri sendiri atas perpisahan orangtuanya. Namun, ibunya berharap dia memihak.

"Ibuku berharap kami marah dengan ayah kami," ujarnya. "Itu kesalahan terbesar ibuku. Dia membuat masalahnya dengan ayah juga menjadi masalah kami."

Wypych yang juga bekerja sebagai psikolog legal mengatakan, anak-anak akan kehilangan kedua orangtuanya jika orang dewasa terobsesi dengan konflik mereka. Anak-anak, katanya, "seperti anak yatim secara emosional."

Sang ibu berbicara buruk tentang sang ayah, dan sang ayah berbicara buruk tentang sang ibu. Sementara itu, anak-anak dipaksa untuk berdiri di antara keduanya dan akhirnya terpecah-belah. Rusaknya hubungan orangtua dan anak secara alami menjadi konsekuensinya.

Wypych menjelaskan bahwa ketika salah satu pihak orangtua berbicara buruk tentang yang lain di depan anak, mereka mungkin tidak mempertimbangkan fakta bahwa beberapa kata atau label negatif bisa juga melekat pada diri anak.

"Ada bagian dari sang anak yang jadi buruk secara permanen," katanya. Dan jaminan adanya kerusakan terhadap harga diri anak, tambahnya, bisa sangat besar.

Meski orang dewasa menganggap jika hinaan, tindakan pembalasan dendam ringan dan agresi mereka terhadap pasangan dapat "dibenarkan," tetapi bagi anak yang mendengarkan, itu adalah hal yang kejam.

Hal ini banyak dibenarkan oleh orang-orang yang berbagi pengalaman mereka dalam artikel ini.

"Yang penting adalah apakah orang tua berhasil memisahkan peran mereka sebagai pasangan (mantan) dari peran mereka sebagai orang tua," kata Wypych.

Ini mungkin terdengar seperti sesuatu yang nyaris mustahil, tetapi tidak ada cara lain untuk mengatasinya.

Terapis ini pun merekomendasikan pasangan disfungsional yang memiliki anak untuk meminta nasihat dari para profesional terkait perpisahan. Banyak organisasi nirlaba menawarkan layanan seperti itu.

Yang penting adalah, katanya, untuk terus menyampaikan kepada anak-anak bahwa mereka aman dan bahwa mereka dapat mendatangi kedua orang tua bila mereka merasa khawatir.

Para orangtua yang telah berpisah dan yang masih membaca hingga titik ini - mungkin bisa bernapas lega karena mereka telah berhasil tetap berteman dengan mantan pasangan mereka. Namun pengaturan ini juga tidak selalu mudah bagi anak-anak.

"Sebagai orang dewasa, dan terutama sebagai psikolog, kita secara alami menggambarkan ini sebagai titik awal yang lebih baik," kata Werneck. "Namun, anak-anak akan bertanya pada diri sendiri, 'Mengapa orangtua saya mesti berpisah?'"

Anak-anak yang pernah mengalami "orangtua yang saling berteriak" dapat melihat adanya perbaikan dalam kehidupan mereka sehari-hari setelah perpisahan. Namun bagi anak-anak yang orangtuanya tidak memiliki masalah yang jelas, tetapi tetap berpisah, kejadian ini dianggap sebagai tragedi besar.

Lantas, apakah anak-anak dari orangtua yang bercerai pasti akan menjadi tidak bahagia?

Sebagai orang dewasa, penting bagi kita untuk berurusan dengan hal-hal yang kita alami sebagai anak-anak dan menempatkannya dalam sebuah konteks, ujarnya.

Anda dapat bertanya pada diri sendiri: Kompetensi apa yang telah saya peroleh lewat pengalaman-pengalaman sulit yang akan dapat membantu saya menjalani kehidupan yang memuaskan?

Psikolog setuju bahwa tafsiran negatif atau positif dari kisah hidup sendiri bisa menjadi penentu untuk kebahagiaan saat ini. "Tentu saja, ini terdengar lebih sederhana daripada kenyataannya," aku Wypych.

Hal pertama dan paling utama, orangtua yang berpisah harus mencoba melihat dunia melalui sudut pandang anak-anak mereka. Baru kemudian, bagi anak-anak, perceraian tidak harus menjadi malapetaka yang tidak berujung.