Tiba-tiba Kasus Coronavirus Singapura Meroket, Apa Sebabnya? :: Nusantaratv.com

Tiba-tiba Kasus Coronavirus Singapura Meroket, Apa Sebabnya?

Singapura dikenal dengan sistem kesehatan kelas dunia, perumahan publik, infrastruktur, dan pemerintahan yang efektif.
Tiba-tiba Kasus Coronavirus Singapura Meroket, Apa Sebabnya?
(Arabnews)

Nusantaratv.com- Singapura sekarang memiliki jumlah kasus Coronavirus tertinggi di Asia Tenggara, yakni 11.178,  pada 23 April lalu. Tingkat infeksi coronavirus harian mencapai titik tertinggi baru, yakni 1.426.

 Lebih dari sebulan yang lalu, Singapura, dengan 5,7 juta orang yang tinggal di ruang terbatas 720 kilometer persegi (447 mil persegi), dipuji karena responsnya terhadap pandemi.

Singapura dikenal dengan sistem kesehatan kelas dunia, perumahan publik, infrastruktur, dan pemerintahan yang efektif.

 Pemerintah dan lembaga-lembaga publik di sana belajar dari respons kolektif terkoordinasi mereka terhadap epidemi SARS tahun 2003, dan situasi tampaknya sepenuhnya terkendali mengenai COVID-19. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?

Pemerintah Singapura telah mengambil tindakan serius untuk menangani kasus-kasus yang dikonfirmasi di asrama dan meningkatnya infeksi di kalangan pekerja asing. 

Gugus tugas antar lembagannya telah memindahkan pekerja ke tempat tinggal alternatif dari asrama, terutama pekerja asing dalam layanan penting, dan juga melaksanakan rencana dukungan medis di semua asrama.

 Gugus tugas juga telah mengirimkan tim dukungan ke semua asrama pekerja asing untuk bekerja sama dengan operator asrama untuk mendirikan fasilitas medis untuk penyaringan dan pengujian besar-besaran dan pusat karantina; untuk membawa persediaan dan makanan; dan untuk mengelola kuncian, logistik, dan tata graha.

Bloomberg melaporkan, Perdana Menteri Lee Hsien Loong telah mengambil tanggung jawab pribadi, dengan mengatakan, “Kami menaruh perhatian besar pada kesejahteraan pekerja asing. Mereka telah memainkan peran penting, membangun flat HDB kami, Bandara Changi, jalur MRT.  Kami akan memberi mereka perawatan medis dan perawatan yang mereka butuhkan. "

Singapura telah membayar mahal dalam krisis karena pemikirannya tentang kesehatan masyarakat dan manajemen COVID-19 tidak mengintegrasikan populasi migran sejak awal. 

Tetapi Singapura tidak sendirian dalam lonjakan kasus baru-baru ini. 

Dunia memasuki periode yang sangat berbahaya, saat ini dengan setidaknya  2,6 juta  kasus. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa utama adalah pusatnya. 

Virus tidak mengenal batas geografis atau politik, sistem politik atau perbedaan etnis, kelas, dan agama.  Aksi dan kemitraan global sangat penting sekarang, untuk menghadapi pandemi global dan akibatnya.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0